Puisi

Puisi Ruhan Wahyudi

October 29, 2019

Tarian Mata

Lorong kenangan menyibak setumpuk aksara

Menuntaskan tarian mata di puncak sukma

Sebelum kau benar-benar tiada dalam penantian

Sebelum cerita itu senyap ditelan penyesalan

Kali ini mataku seperti terkoyak sebuah percakapan

Di taman kecil yang senantiasa menyulam cinta

Setiap ranting daun patah membuat kita resah

Membuat detak jantung tak bernafas seperti biasa

Kini mataku menari-nari di atas kenangan

Sebagaimana wayang menceritakan sebuah percintaan

Di antara raja dan ratu berselaksa dalam genggaman datuk

Bersemai menuntaskan catatan yang tak usai

Gapura, 2019


Tarian Kembang

Seperti anak ranting mengecup bibir kembang

Lalu menari di atas angin berkepak sayang

Menyemerbak membungkam gelisah di dada

Di saat segala rindu menggerutu dibalik riuh

Hanya sekawanan katak senantiasa menjadi musik

Pada tarian kembang yang tak pernah tumbang

Di hatimu yang selalu menjungkal senyum

Di antara resah-gelisah bersemayam di pundak jiwa

Dan kusuguhkan sejumlah tarian bervariasi

Kepadamu yang selalu menjadi tempat kebahagiaan

Tempat menyimpan masa depan yang hampir hilang

Lalu aku mencintaimu dengan tarian kembang berselendang

Gapura, 2019


Tarian Kunang-Kunang

Sebutir cahaya itu membungkam remang

Di antara pucuk-pucuk bunga

Melukis wajahmu menari di gentayangan

Mengelana di mataku hingga terpaku

Adalah kunang-kunang meringkuk segala resah

Di samping taman Adipura

Tempat menapaki jejak cinta usang

Mengubur kenangan menyatukan masa lalu

Di sini, aku baru saja menikmati kau menari

Sebagai kidung rindu yang menyinari diri

Dan kau tampak gemulai memainkan lentera

Menyulam segala sesak bermusim di dada

Gapura, 2019


Tarian kupu-kupu

Dua kepakan sayapnya menuai pelangi

Membuatku merambati madu di kelopak bunga

Bersijingkat di atas mimbar mataku

Adalah kupu-kupu yang setia menemani sepi

Di alun-alun taman kau tampak ceria

Melepaskan bahagia dikuncup sukma

Dengan aroma kembang yang di kecup bibirmu

Sesudah kau mencuci diri pada cermin sunyi

Lalu aku mengambil setetes madu di keningmu

Untuk menyirami luka yang kian empedu

Agar semua masa lalu tumbang dalam depakan

Hatimu yang tersusun rapi dalam jiwaku

Gapura, 2019


Tarian Sunyi

Dengan cara sunyi kita bisa menumbangkan resah

Membulat di dada yang menjadi detak jantung meruah

Tarian matamu suntuk melepaskan ranting yang patah

Menghapus luka-luka bermuasal di tubuh masa lalu

Sementara semerbak bunga menawarkan aroma rahasia

Memintal sunyi dalam memilah ayat-ayat kerinduan

Di puncak penantian berdebar membungkus satu kehidupan

Di antara aku dan dirimu membangun sebuah rumah, hati

Pada pekat malam bulan membabat cahaya senyum

Sedangkan aku menikmati sunyi dengan secangkir kopi

Menikmati hembusan angin yang ramah di pintu jendela

Hingga tanpa sadar sebuah kecupan kecil menempel di kening

Gapura, 2019


Tarian Angin

Sesudah subuh daun mimpi mengecup dingin

Membelah sisa-sisa peluh di ranjang waktu

Tempat merebah diri demi menuntaskan kantuk

Tubuh yang gelisah dalam dekapan asmara

Dan pada akhirnya setetes embun mulai renta

Melepas usia di tangan matahari yang ceria

Hanya angin yang selalu setia mengabarkan rindu

Dari puncak hatimu yang membeku di tubuhku

Lalu di mana kau memanen sebiji puisi itu ?

Sementara ladangmu sudah penuh ditumbuhi ilalang

Dan bebatuan yang kerap membelit tanah sunyi

Di antara sebungkus angin yang masih perawan

Gapura, 2019


Tarian Rindu

Tak ada yang lebih sunyi

Selain menyulam rindu

Di tubuh waktu

Sambil menunggu kepastian

Dari lisanmu yang perawan

Ke mana aku harus melepas rindu”

Atau mungkin ke dalam hatimu

Yang sering membuatku gelisah

Untuk memintal seluruh sunyi

Di sini, di teras rumahku

Sebuah pigura terpampang rapi

Lukisan wajahmu berkelindan di mataku

Menabur benih rindu

Di ladang tubuhku yang rapuh

Gapura, 2019


Tarian Hati

Setiap detak jantungku yang bisu

Mataku lembab menabur benih rindu

Sedangkan hatiku ombak

Memecah kidung pelayaran

Melempar sauh meruah

Ke matamu yang tajam

Sebab kutahu cara abadi

Adalah menari dalam diri

Gapura, 2019


Tarian Jantung

Detak jantung melepaskan deru

Perisai luka menuntaskan masa lalu

Bersemayam dalam tubuhku yang rapuh

Tak ada yang lebih kencang

Selain menyulam angin perawan

Dari hembusan napasmu yang riuh

Pada lorong masa lalu

Kununtaskan sejumlah kenangan dalam hati

Agar semuanya abadi dalam diri

Tanpa merakasan sakit kembali

Di pucuk penyesalan

Melintang di dua daun yang tumbang

Gapura, 2019


Tarian Lidah

Sering kulumat kata demi kata

Yang kau muntahkan ke palung hatiku

Aku sangat mencintaimu, Tuan.”bisiknya

Hatiku ombak melepas mutiara ke lidahmu rekah

Gapura, 2019


Ruhan Wahyudi. Lahir di Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura pada 06 Mei Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, memulai berproses menulis Puisi di bangku MA Nasy’atul Muta’allimin, dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional Disparbud DKI Jakarta, Puisinya juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net)dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres. Tribun Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *