Puisi

Puisi Saiful Bahri

May 14, 2019

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *