Puisi

Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh

November 23, 2021

Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu

bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,

jelaga dari tangis lilin, harum sakramen yang terbakar?

Di dahi itu terpampang gua

yang berisi curah air mata, api yang terbit dan mengawasi

batu altar itu dan jemaat-jemaat kalut.

Setiap kali ke depan altar itu, mereka cium melebihi

ciuman di bibir kekasih dan telapak tangan ibu,

mereka menyendok kemenyan, menabur di arang

yang terbakar dalam wiruk,

asap-asap mengembang bagai persembahan Habel

dan awan-awan Carpathia.

Kemudian mereka berkeliling mendupai, diiringi madah

merdu para malaikat,

sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu

ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur

dalam cawan.

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu

dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu

menghapus bekas goresan luka pedang Hussite

di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu termenung di sana, memberi

penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.

Ketika Hussite merajah kau rela dilukai

seakan bersabda “tusuklah aku.

Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017


Warszawa

Teruntuk surga yang porak-poranda.

Ibunya, berteduh usang, ditopang kemarau wahyu Noah.

Kota ini

semacam abu dari api dan tulang

yang dibangun kembali. Puingan bata itu

masih menangis.

Derai makam bercoreng bintang David

berkisah tentang jeritan

di mana rumah ibadah, ogorky, Chopin dan roti

menjadi pahlawan negara.

Semacam sajak penjara

yang terlahir kembali

dari mata letih para rabi yang masih terluka

setiap pagi, setiap tanggal 27 Januari.

Warszawa, Maret 2018


Orang Telanjang dari Vilnius

Kami, sepasang lapar yang terus

terluka dan menyeru sembap di pasar Kalvariu Turgus

dan sepi. Pasar yang bergerak seperti rasa lapar dengan

mulut putra altar masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. Abu katedral.

Abu sinagoge. Abu sungai Viliya. Abu doa-doa. Abu gunung.

Berhamburan

ditampung mulut sepasang tentara yang terus mengisap

dalam puntung rokoknya. Nyala api di tiap isapnya mengandung 

nyawa-nyawa yang bertempik sedih terperangkap.

DiriMu. Tak hanya diriMu.

Jejak proklamasi yang merampas organ tubuh dan ayatMu.

Salut senapan dan derai baja merampas sunyi

menimbun Kaunas. Trakai mati dalam kenangan abu,

dirajah salju. 

Penjual nyawa di kedai itu menyeringai pohon cemara

dan kandil lilin

“Tiada natal tahun ini. Kristus tak berulang tahun hari ini.”

Aih, kini Ia sedang beragama apa? Beretnis apa?

Kau merah. Kau marah. Letusan bedil

menyunamkan peluru pada yang rindu dengan kayangan.

Aku melepas pasak paku yang ditanam di kedua telapakku

dan tak bisa tersenyum.

Sebab aroma mayat yang menguap

dari alun-alun Stebuklas membuatku merasa Kau tersesat dan mati.

Sedang mereka yang tergelepar, rindu pada ayat-ayat merdeka.

Kau pikir mereka mati?

Mati itu takkan menghentikan doa.

Dan Vilnius, Santo Casimir adalah nyeri

yang berbau mesiu, dikoyak menjadi bersimbah dan pemancar radio,

berabu dan berselubung kain kafan. Bunga-bunga di tamannya

bisu oleh merah. Merah darah. Merah nabi-nabi para tentara.

Surabaya, 22.05.2020.

Mengenang kota Vilnius yang dikunjungi 2018 silam.


Malam Kaca Pecah

Malam lengang, bukan salju merepih di jalan

tetapi tabur kaca, memangku jasad

beraroma kaca.

Mereka yang berbedil berkaca dalam darah,

berkaca dalam mata gugur

yang masih menitik gerimis debu.

Tallit terhempas menyelubungi nyeri Danzig,

mengkafani abu Talmud dan Tuhannya Abram.

Dan mereka yang berbedil selalu ingat

Tubuh-tubuh roboh itu adalah pogrom yang berdoa,

darah yang berdoa. Kaca-kaca yang merintih dalam doa.

Surabaya, 7.12.2020

Mengenang peristiwa pogrom di kota Danzig dan Aachen


Mazurka[1]

Warzawa, kau bertanya aku ingin mati

dengan cara apa.

Aku ingin mati dengan deruman tembaga

plac Kanonia, dan Zygmunt terlilit matahari

memerintah dari tubuh granitnya

dengan suara berdendang mazurka.

Vistula belum cukup menampung air mata

serta abu kawanku yang bersabung dengan elang.

Elang-elang itu memangsa surga dan bangkai,

dworek, bunga madat jagung para ibu.

Darah berbuih di udara. Bertuba mencari mangsa.

Angin menggisar dan daun duduk di beranda,

menatap tubuh-tubuh tanpa keranda.

Karena itulah kau harus mati, Warszawa,

supaya aku tetap bangkit

menjadi abu-abu kisruh ini,

menjadi misa arwahmu ini.

Surabaya, 8.12.2020

Mengenang Fryderyk Chopin, komposer kelahiran Zelazowa Wola, dekat Warszawa. Ia meninggalkan tempat kelahirannya ketika pemberontakan terhadap Rusia meletus di Warszawa. Beberapa temannya ikut berjuang, ia pergi sebagai ekspatriat ke Paris.


Philosophenweg[2]

Kota itu adalah wanita dewi Alcestis yang kedua buah dadanya

dibelah oleh sungai bernama Neckar. Matahari tak segan berkaca

di sana, kapal-kapal bermotor mengarungi sembari orang-orang

bersimbah Bitburger dan Bratwurst berasap. Bata-bata

sepanjang sungai membekukan waktu, berayun-ayun naik dan turun

ditelan Rathaus tua, toko-toko dan gereja yang beku, terbujur kaku

dan dibalsemi oleh wali kotanya seperti mumi Tutankhamun.

Lengket panas udara mengingat Schiller yang menggandeng

lengan Goethe di jembatan usang bertabur gulma, di situ

para filsuf bertanya mengapa bunga-bunga itu indah.

Waktu itu alun-alun kampus berbanjir para pelajar

berbincang tentang Klausuren, kopi dan sepak bola, berhambur

dari Heilgeistkirche dan kafe-kafe yang menyuguhkan

puisi, ledak tawa dan duka Jerman. Hari itu ada orang mabuk

yang menubrukkan truknya di pasar kota lama.

Sepasang kakek dan nenek duduk di bangku halte, menunggu bus

menuju ke Elysium, bersenandung

“teruntuk bahagiaku” “Toll! Toll!” seru kakek itu dengan pembuluh

di kepala tersumbat oleh busa bir dan air mata.

Si nenek yang mencintainya itu terus mengajaknya berbincang

tentang bus surgawi yang mereka tumpangi, melarikan diri

dari para filsuf Heidelberg yang tersesat dalam rimba

yang ditanam oleh para pemimpi kemerdekaan

tiga abad silam.                                              

Puncak Heidelberger Schloss, April 2018


Bella Ciao!

Copernicus dahulu bersetapak dan menimba sumur bintang-bintang

menenun dunia baru di Piazza Maggiore dan lapangan membentang

Alma Mater Studiorium. Manusia berkepala cahaya, jepret kamera,

bekur dan kepak sayap burung dara, peniup buih

dan pengemis bergumul menjilati gelato warna-warni

dan para pelajar duduk melingkar di jantung Piazza, bersenandung

O partigiano, portami via
O bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!

Dahulu hanya pangeran dan kardinal yang bersekolah di sana,

kini Piazza dan jalanan dibanjiri mereka yang terbuang dari perang

seperti sampah, lari dari letup bedil dan ledakan ayat suci.

Para pelantun lagu itu takut jika hantu Mussolini

kembali mengintai orang-orang buangan,

jika Caesar dan hantu Romawi-nya kembali bangkit dari kubur,

jika angkuhnya dan keagungan oranye, pohon ara, zaitun

dan matahari Italia menghunus pisau pada mereka.

O bella ciao, bella ciao!

Piazza Maggiore, Bologna. Maret 2018


Renungan tentang Friedhof [3]

Kemarin, ilalang itu masih berdarah hijau,

berdansa bersama angin membentuk sketsa bumi.

Taman ini kini megap-megap berjuang hidup, dipenuhi oleh keriput kering dan uap air mata duka bunga-bunga, yang meratapi kawan dan sanak saudaranya yang nyawanya baru tercabut oleh desau liar angin, menebar lara pada jarak.

Di bawah kalut mendungnya langit yang berkabut, paras elok alam sirna diperbudak waktu, dan suatu saat ia akan terlahir kembali dengan watak dan wujud yang lain, yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Gugurnya daun adalah segenapnya menjadi tua dan sekarat, dan langit yang penuh iba itu tiada kuasa berkabung dalam fajar, menabur dingin di tanah kuburan yang damai.

Auranya sesal, lelah dan sakit-sakitan.

Pohon ini, ingatnya, disampiri oleh daun maple yang teduh. Kini gersang, layu menjadi benalu pertiwi. Gugurnya daun berdakwah pada kita, bahwa kita adalah rumpun alam yang dinamis, dihantui siklus yang fana, kerdil mengerdil di hadapan semesta.

Apa arti diri dan kuasa manusia sepadan oleh alam sendiri yang sanggup melahapnya setiap saat, yang sanggup membusukkan harga diri bergemerlapan bagai kejora itu semasa hayatnya menjadi bongkahan daging dalam tanah, yang lalu mengasupi benih-benih bunga dan pohon yang baru hinggap?

Betapa tercengangnya ia, bahwa batang pohon Eiche di pekarangannya mengandung jiwa banyak manusia yang sudah mati. Dedaunan yang tumbuh dan berkeriput dari gairah dan sakitnya, derita dan tawanya. Dan jikalau pohon mengembuskan oksigen untuk paru-paru, tidakkah berarti tiap tarikan napas adalah bagian dari diri manusia terdahulu.

Bukankah kita jua menghirup desau napas Plato yang diembuskan ketika mengajarkan indahnya dunia, desahan kecewa Caesar sembari bertekuk lutut di Galilea, dan embusan penuh kasih Sang Penebus, para nabi dan para imam yang berkhotbah pada umatnya di awal zaman?       

                                                                                                                                                                                                      Musim gugur 2018, Friedhof, Jülich.


Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./

Lonceng gereja putih menyetubuhi angin subuh,

kumandang landai salat membelit langit

Düren terbengkalai. 

Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 

Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.

Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bus merah.

Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.

Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba

dan lengang besi-besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.

Mayat-mayat mengantuk diselimuti bunga-bunga

anyelir dan dilintasi para pelari.

Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.

Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.

Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik

mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat

hantu perawan remaja tersedu di nisannya

menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./

Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?

Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,

orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,

halte bus berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis.

Mereka maniskan hari-hari muda dengan video pendek

penuh permen atau dengan bau pesing Pilsner,

uap rokok menjuntai dari mulut orang Oman

di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.

Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,

ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu

dan pacar cantikmu, bangga telanjang disepuh emas,

mabuk berlinangan oleh peron dan aspal acuh. 

Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,

seperti dinding yang disemprot pelangi itu.

Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung

jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.

Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.

Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan

kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 

Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.

Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 

Runtuhnya dinding mengkhianati darah pasirnya.

“Aku terlahir sebagai orang Berlin! Aku tumbuh di jalan

orang-orang asing yang dikurung dinding.”

Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.


Requiem Buruh Pabrik dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul “Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya

masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu

mengayuh roda hingga menjadi bulu. 

Puisi rindu yang ia hadiahkan kini rusak dirayap. Ia tak ingat

bunga anting-anting lembayung

seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 

“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya

adalah roda-roda, yang lama-kelama menggilis bibirnya.

Ia hantu yang terjebak di dinding pabrik,

jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus

terbenam terbit.

Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,

telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.

Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,

haus beterbangan sampai kiamat nanti. 

Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.

Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.

Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal

berambut hitam, merajut doa yang berpuing keping,

menjerit: mereka memberontak pada makam-makam

yang berkisah tumpukan abu yang rindu

pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 

Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,

surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020


Sarita Rahel Diang Kameluh, lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April. Menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di FH Aachen, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.


[1] Jenis lagu rakyat Polandia untuk berdansa.

[2] sebuah jalan tua bersejarah sepanjang 2 km di kota Heidelberg di dekat kampus utama, membelah dua sisi kota dan mengarungi sungai Neckar. Jalan ini terkenal sebagai tempat diskusi, merenung dan perolehan ilham para filsuf Jerman ternama.

[3] Friedhof dalam bahasa Jerman berarti “kuburan”. Di dusun Jülich terdapat lahan kuburan yang teduh dan penuh bunga-bunga, mirip dengan taman. Di lahan itu terdapat gereja tua kecil bercat putih dengan menara lonceng menjulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *