Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

February 23, 2021

Pada Sebuah Peta

peta ini

yang kau susun

dari sumber air mata

dalam belantara surga

di hati apimu

peta ini

yang kau ciptakan

dari tarikan napas batu

di hari minggu

yang kerap miring

selepas orang-orang lari

ke dinding taman kota

dan atap lima waktu

peta ini

yang mengajarimu

bagaimana melihat matahari jatuh

serupa nenek-nenek mencari

arah lari cucunya

yang membentang

ke dalam dan luar angkasa

peta ini

yang kau hidupkan

setiap kali mata angin menjauh

dan meninggalkan rahasia baru

peta ini

yang menjadi tersangka

pengirim resep masakan

menguning di meja makan

lalu kau bersama segelas cuka

menatapku

yang diam-diam ditimbun

dalam nada dering di dadamu

peta ini

yang menumbuhkanmu

menjadi sebuah tatanan hidup baru

di akhir pekan

yang menghitam itu

menandai kapan semua

akan segera pulang

kapan semua akan dihitung

dari seberapa jauh

dan pendeknya garis tujuan

Kendal, Januari 2021


Di Atas Batu

Di atas batu

Ada namamu

Di bawah batu

Ada garis melupakanmu

Aku sedang belajar

Menghitung pertumbuhan

daki

di dadamu

Dari suaramu

di atas batu

Sesungguhnya

aku tahu

Bagaimana hari itu,

Menjadi seperti sangat kecil

sekali

Entah, aku menganggap

tiada lagi cara terbaik

untuk dapat memahamimu

Bagaimana suatu saat nanti

Hari-hari menjadi batu

Menjadi segala rupa

yang tak pernah kita hitung

sebagai waktu

Kendal, Januari 2021


Ruang Tunggu

Di ruang tunggu

Kusaksikan kau duduk

Bersama sebutir peluru

Orang-orang naik tangga

Anak-anak kecil membeli

sebuah kaleng berisi harga

sebuah nyawa

Di ruang tunggu

Kau masih duduk

Sedangkan dari kejauhan

Sepasang kekasih saling lempar

cium tak keruan

Aku tak tahu,

Bagaimana kau tinggal

dengan sebutir peluru itu

Yang baru saja dikenang

Dalam sebuah upacara terakhir

menjelang kepulangan

Yang entah harus berangkat

ke mana

Meski pada saat itu

Aku tahu,

Kau meratapi segala

yang tumbuh dari matamu

Betapa yang menetes

Adalah peluru itu

Yang sesungguhnya

Akan menjadi siapa

Tak ada yang tahu

Kendal, Januari 2021


Berat Badan

Aku tak tahu

Kapan berat badan

berumur panjang

sepertimu

Aku tak tahu

Kapan kau tumbuh

dari cangkul

dan ular-ular berbisa

namun tak bernafsu

Aku tak tahu

Bagaimana kau

menciptakan kebaikan

dari sepasang mata

di punggungmu

yang di situ, ada aku

sendirian

Mengunci

Dalam berat badanmu

Kendal, Januari 2021


Layar Komputer

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Puisi-puisi berserakan

Memandangi dinding

halaman koran minggu

Aku mendapatimu

diam-diam

di antara jaringan internet

putus

dan suara pukulan huruf

bersahutan

dengan detak jam dinding

di sebelah kamar

Aku bilang, duduklah

sebentar

Istirahatlah dengan tenang

Tapi kau bilang,

itu candaan picisan

Tak pernah diikuti

oleh siapa pun

yang kerap memburu

perjalanan

Apalagi, bagi mereka

yang mengungsi saat hujan

tumbuh dalam kerongkongan

yang lapar

Aku yakin, kau masih

punya banyak pikiran

Bagaimana hutan menjadi bunyi

keterlambatan

Yang melambaikan alarm

Setiap kali tuhan datang

Mengguyur jari-jari tanganmu

dengan senyum lebar

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Kau duduk bergandengan

dengan kata-kata

yang sebentar lewat

sebentar menunggu dijatuhkan

Dan aku, kian tak tahu

Harus ke mana lagi mengejarmu

Sedangkan kau

sepertinya sudah asyik

Menjadi layar kehidupan;

juga kematian

yang tak pernah

dihuni banyak orang

Kendal, Januari 2021


Sebuah Pabrik

Sebuah pabrik

dan permasalahan baru

Korek api

dan ke mana perginya ibumu

Kandang ayam

dan pasokan gizi

bagi balita yang tinggal

seorang diri

Sebuah pabrik

dan antrian panjang

Menempati urutan kesekian

di pengadilan

Palu diketuk pelan

selepas burung-burung masuk

di ruang sidang

Sebuah pabrik

Narasi buntu dan seribu payung

mengadili kehadiranmu

Cuaca buruk dan makan malam

yang timbul-tenggelam

selepas mertuamu mengganti warna

gincu

Sebuah pabrik

Ditanam dalam arloji plastik

di punggung seorang ibu

Dijuallah pertanyaan,

kapan jadwal terbaik

untuk minum susu

dan menggoda tetangga baru

Sebuah pabrik

Dalam kolam ikan

Kapan menjadi koloni baru

Yang dipaksa masuk

di abad paling lampau

yang katanya sudah kian

ditinggalkan itu

Sebuah pabrik

Mencari tahu

Kapan dirimu

dan aku

Menjadi serupa mesin

Yang lebih merdeka

dari sebuah pintu

Biar dibanting-banting

dan digedor itu

Namun tetap saja,

ia menutupi

segala kesalahan

dan kegagalan

Darimu

dan dari aku

Kendal, Januari 2021


Beternak

Beternaklah di kakimu

Yang jauh-jauh hari dikirim

dari semesta kirimu

Beternaklah menjauh dariku

Agar suatu saat

Ada kabar yang menyusup

Lewat telingaku yang buntu

Beternaklah mendekati

mautku

Jika memang hari depan

akan tumbuh

Bersama sekian ucap

yang dipilih seorang diri itu

Beternaklah mencapai puncakku

Di sebuah napas

Dalam nafsuku yang masih itu-itu

Kendal, Januari 2021


Dua Kali Sehari

Sehari, dua kali sehari

Mamamu pulang

Menjemputmu dari kejauhan

Sehari, dua kali sehari

Papamu bilang jangan sampai

telat makan

Sehari, dua kali sehari

Cuaca berhenti di tikungan

tubuhmu

Yang saat itu masih lugu

dan berwarna ungu

Sehari, dua kali sehari

Kau memandangi nenekmu

Ia makin kuat

menjadi lampu-lampu

Sehari, dua kali sehari

Aku memanggilmu

Sebab bagaimana lagi,

kamarmu hitam

Berisi alpukat busuk

dan gambar-gambar rindu

yang kuyu

Sehari, dua kali sehari

Pacarmu naik tangga

Menuju kamarmu

Sehari, dua kali sehari

Ia menginap di situ,

pada sebuah rumah

Yang sama sekali

Tak pernah mempertemukanku

Dengan dirimu

Sehari, dua kali sehari

Hanya pacarmu saja,

yang sampai masuk

Sangat dalam

;dalam sekali

Lalu di sana, ia menggantung diri

Katanya,

hanya karena demi aku.

Kendal, Januari 2021


Tarik Napas Panjang

Tarik napaslah panjang-panjang

Baru dua hari selepas itu

Pagar tertutup,

Setiap kali sore mengunci

pintumu

Rapat-rapat dalam tidurmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Sebab ke mana lagi,

angin akan berterus-terang

membawamu

Jika memang sungguh,

pergi bukan lagi menjadi jauh

Yang meninggalkanmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Di sana sedang didirikan

rumahmu

Sebuah perjumpaan

yang sering mampir

dalam setiap hujan

yang turun

di atas bantalmu itu

Tarik napaslah panjang-panjang

Dengan caramu yang paling sepi

Kemudian tataplah aku,

Jika memang ini waktu

yang tepat untuk pulang

Pergi sendiri,

tanpa meninggalkanmu

Kendal, Januari 2021


Seekor Kucing

Seekor kucing

Menatapmu dari depan

pintu sebuah kamar

Suaranya melengking

Menjadi sebuah nada panggilan

Berbunyilah sebentar

Meski tak sedikit

yang perlu ditawarkan

Kucing itu masih menatapmu

Ia sendirian berdiri

Di antara kaki orang-orang

Yang sedang berebut berlarian

Meninggalkan doa perjamuan

Kipas angin masih berputar

di sudut ruang paling kanan

Kau memanggilku

Dengan suaramu yang riang

tanpa nada getar

Dan di ponselmu

Aku menyanyikan sebuah lagu

Kemudian seekor kucing itu

Mencakar mulutku

Dan kau memanggilku berkali-kali

Aku pura-pura tak tahu

Yang ternyata kian dalam

Kau menghancurkan suaraku

;apalagi perasaanku

Kendal, Januari 2021


Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Bisa disapa di setianakaandrian@upgris.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *