Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

November 27, 2019

Akulah Namamu

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya telah luruh

Selepas segalanya

tak sanggup lagi kuseduh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh

Selepas segalanya tak sempat berlabuh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat semua memilih tiada

Selepas ramalan berlalu-lalang

Menghancurkan segala rupa wajah

Yang sudah terlanjur belang-belang

Kendal, April 2018


Kerja Sebuah Pertanyaan

Dua malam sudah. Kami cemas.

Pertanyaan kembali bekerja

Hadir dan memulai dengan caranya

yang beda-beda

Mereka lebih senang berbahagia sendiri

Tanpa memikirkan kami,

Yang lelah mencari jawaban bersembunyi

Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali

Bekerja di atas kening mereka sendiri

Kami semakin cemas. Mereka menenteng

bermacam batu-batu

Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya

Yang lebam dan hampir berlubang

Esok hari, kami telah bergulir

Menghampiri pertanyaan kembali

Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa

mengejar. Semua berlari, menuju segala arah

yang tak pasti kami tahu

Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu

Setelah jawaban urung datang

Selepas segalanya bekerja

dan datang berkali-kali

Dengan pertanyaan-pertanyaan

Yang tak pernah kami ketahui

Kendal, April 2018


Andai Saja Aku Tidur Siang

Andai saja aku tidur siang

Apakah kau masih mau menemaniku

Menjadi peluru, atau menjadi apa saja

Yang lebih gemar melesat melampaui

kecematan cahayamu

Seperti segala waktu,

yang tak butuh perantara

Yang tak sempat berkelit lidah

untuk saling menolak

dan menjejaki segala tidur yang ragu

Andai saja aku tidur siang

Maka kau akan segera melihat

Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku

Menukar sebuah perjalanan yang lelap

Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru

Mencari segalanya selepas membuka pintu

Andai saja aku tidur siang

Pasti jika kau juga masih begitu saja,

Menjadi segala waktu yang

kau sudah menjadi ngeri

Teman-temanmu yang akan mengangkatmu

tinggi-tinggi

Mereka seakan menemukan kemenanganmu

Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu

Kendal, April 2018


Hari Libur di Kalendermu

Di kalendermu

Hari libur telah pulang

Ia memilih keluar lebih awal

Dari kepergianmu yang panjang

Di kalendermu

Hari libur telah hilang

Ia memilih pergi jauh

Meninggalkan banyak kegagalan

Dari segenap ketiadaan

yang kerap tanggal sendirian

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Segalanya seakan bergegas

Memilih tinggal di segala arah

yang lusuh

Melampaui foto-foto yang patah warna

di dinding kamarmu yang pecah-pecah

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Ia memilih abadi

Di kampung yang jauh di sana

Di sebuah hutan

Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa

Kendal, April 2018


Bulan Tidur Siang

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu

Yang dikirim langsung dari taman yang gagal

diciptakan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Di atas kasur empuk yang dibeli

dengan sepenuh tunggakan cicilan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Matamu sudah memerah

Semalaman matamu bilang lelah

Menonton rupa-rupa adegan

Yang gagal disetir sutradara pilihan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Dadamu sudah lelah

Ia tak lagi sanggup membaca arah

Dunia telah lelap

Ia memilih tidur sendirian

Sepanjang waktu

Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu

yang kian dangkal

Kendal, April 2018


Biarkan Mata dan Kening Bekerja

Bekerjalah mata, bekerjalah

Berbuatlah melampaui mulutmu

Meninggalkan segala bising

yang nyangkut di kupingmu

Bekerjalah kening, bekerjalah

Berbuatlah melampaui hidungmu

Meninggalkan segala kebusukan

yang nyangkut di dadamu

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening mengerutkan lukanya

Agar nanti, segala kecukupan

Mereka berdua yang mengeja

Membaca dan menerka segalanya

Sebelum semua merasa gelap

Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah

Kendal, April 2018


Kisahkan Kepada Kami

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Yang menembus batas kesadaran

Yang menerka batas pemahaman

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Tentang jalanan yang lengang

Tentang segala wujud

yang dibiarkan rumpang

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Menuju perkampunganmu itu

Di balik segala keabadian

yang kian membocorkan banyak kekalahan

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Agar kami lekas dan bergegas

Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu

Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu

Yang tiada lagi menemukan

ke mana arah sesungguhnya pulang

dan ke mana arah melarikan diri

dari tubuh yang gagal

Kendal, April 2018


Dalam Gelap, Kita Lelap

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Meski di luar, hujan tak lagi bergegas

Mengguyur kening kita

Yang kian hari kian retak

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Kita tak siap membawa diri lahir

Kepada segenap panas

Yang menggenangi dada kita

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Orang-orang memilih penasaran

Kenapa mereka memilih diam-diam

dan tidak datang bersamaan

Untuk saling mendinginkan

Untuk saling membakar

Kendal, April 2018


Mematunglah Kami

Maka mematunglah kami

Kepada hari-hari yang lewat

Kepada segenap gegap

Yang tak lagi beri kami gempita

Lihatlah, di sana mereka memilih diam

Menyaksikan ketiadaan kami

Yang pelan-pelan berjalan mundur

Menyusuri tepi punggung kami

Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala

Maka mematunglah kami

Kepada malam-malam yang pekat

Kepala segala palung yang tak lagi merenung

Lihatlah, di sana mereka memilih senyap

Membuang dirinya dalam lelap

Mementalkan dirinya jauh-jauh

Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian

yang tiada pernah dijejak

Maka mematunglah kami

Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka

Kepada segenap lupa-lupa

Kendal, April 2018


Kepada Segala Tuan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau pegawai pemerintahan desa

yang setiap pagi menenteng batu-batu

Pulang membawa suara-suara

Yang dipasung waktu

Tuan, kenapa kau memilih diam

di dalam ransel bekas

Yang kerap ditenteng

mengelilingi banyak pintu

Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu

Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu

Saat dinding sekolah tak begitu digubris

Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung

Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau kau memilih berkukuh

Seperti dirimu yang dulu

yang baru mulai mengenal beberapa huruf

yang belum begitu bernafsu

memilah teman untuk menemukan banyak ibu

di sudut-sudut bangku sekolah

Pada zaman dahulu itu,

Saat semua orang mengaku

Bahwa tetap teguh bersekolah

Menjadi segala cara menghancurkan segala salah

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *