Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

November 17, 2020

Lelaki yang Memilih Jadi Musafir

lelaki itu seperti burung membumbung tanpa restu

meninggalkan jejak-jejak tanah, meninggalkan peluh

tak terhitung jumlahnya. tak terjumlah hitungannya

:guru, lihat langkahku, minggat meninggalkan cahaya

agar bisa kutahu bedanya malam dan siang!

kalau aku hanya merenung dan membakar dupa di bawah hayat itu

tak akan pernah kutahu segala  tipu daya,

tak akan pernah mataku awas menafsir suka dan luka!”

lumut-lumut selalu tumbuh di tempat paling keras dan basah

justru membuat segala kaku yang tegang jadi lembut

justru di rahasia segala fana bisa ditakwil segala pengetahuan

“guru, kau boleh melaknatku sebagai murid paling durhaka

 tapi bukankah kau pernah mendongeng: tak boleh kau pasrah

pada rajah tapak tanganmu sendiri.maka, restui aku memilih musafir

berjalan menempuh apa saja, barat utara-timur tenggara

memilah rahasia kutuk dan pahala!”

2019-2020


Pagebluk (5)

jalanan lengang. amat lengang

hanya sinyal-sinyal kematian terus mendenging

dan mendengung hingga batas paling utara

jalan-jalan lengang. terlampau lengang

lamat-lamat arak-arakan prosesi

mengantar jenazah ke liang lahat

hanya berbelas orang berjalan

merunduk bisu menatap debu dengan cemas

:”jangan-jangan jejaknya memburu ke arahku!”

di tepi paling utara

segala hasrat membumbung ke langit

seperti sekawanan burung menggelepar

sebelum rontok jadi bangkai

hasrat pun tinggal dengus napas

hanya berbilang sampai hitungan kesembilan

di batas paling utara. melintasi jalanan lengang

prosesi arakan jenazah tunduk merunduk murung

menghitung sunyi yang menyisih

: aku, kau, kami, kalian

tak sanggup bicara apalagi bercerita:

lintang kemukus merayap pelan dan khidmat

menuju hari sampai pada badai gelapnya.

2020


Riwayat Kota Mati (2)

kami berjalan menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

diburu malam yang jadi waktu paling abadi

melacak penanda alamat rumah-rumah kami

: “ah, ini kota atau belukar!

 atau cuma tanah lapang tanpa pohon, apalagi papan!”

kami berjalan lagi. menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

menuju entah. mungkin menghilir ke arah bilangan nol

dan dengus angin lantang menuding: “sembunyi. sembunyilah. di kolong ranjangmu!”

kami berdiri capek dan lunglai. kami tak bisa ke mana-mana

pasrah pada malam menyergap dan menyeret ke arus gelap.

2020


Wangsit Langit

apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?

seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu

bisakah warna itu membuatmu menggeremangkan larik-larik puisi octavio paz

serupa kau tembangkan suluk-suluk keramat yang disingitkan waktu?

mungkin dalam heningmu, warna-warna berubah hanya jadi kelabu

seperti bayang-bayang remang masa lampau yang melambai pada sejarah

langit tetap menderu dengan isyarat-isyarat warna

engkau pun bersila serupa samadi

namun hanya gumam-gumam nglindur yang nyinyir

dari mulut para perempuan yang hanya sibuk berpupur.

2020


Suluk Hitam Musafir Majnun

I

Demi musim. segala musim. segala kemarau. segala rendeng

biarkan aku berjalan, walau gontai menakik tanda melacak sangkan paran

keleluasan jiwa seperti saat cinta nglangut di teduh sore

lantas menyuruk di kepongahan pekat malam.

Pucuk-pucuk ranting tanpa daun menjulang menyodok langit

: Duhai, segala rahim adakah engkau tempat segala misteri raib

lanskap jalang semua kutuk dan nujum berkejar-kejaran.

Di situlah semua jadi serupa berdesak dan berduyun-duyun

menuju takdirnya yang terlepas dari kitab rahasia lantas dipahatkan

di urat-urat telapak tangan kiri

II 

Inikah suara yang masih pantas dihikmati

ketika sabda-sabda mawar direngut kemarau

dan ulat-ulat bulu menggerogoti taman lembut di hati

suara dan musim susut pelan seperti usia kisut

: oo, keluasan jiwa masihkah bilikmu menyimpan teduh puisi?

Segala batang kehilangan ranting, julangnya menyodok langit

namun rahasia itu tak pernah berkabar

suara-suara tak lagi bangkit, mefosil seperti sedimen bahasa

pun segala lambang beku serupa mayat.

: ooh, rahim-rahim tak lagi mengenal kata

hanya dijejali  jasad lapuk yang tegak dan jalang!   

III

nun, di pagina-pagina sebuah kitab yang konon keramat

tersebut sebuah nujum yang sakral tentang kristal-kristal bercahaya

bintang-bintang berkejaran memburu masa depan yang dicerai masa silam

tanpa bunyi yang telah mengkhianati suara

di sanalah ufuk maut menelikung dalam malam

: ooo, lihatlah takdir itu berduyun-duyun menyergap.

Siapa bakal ikhlas melepaskan fana?

Siapa akan melepaskan doa-doa ke langit?

Tubuh-tubuh kehilangan lembutnya

mulut-mulut mengulum tenung

bintang-bintang gemetar ketakutan

takluk pada tiang aurat yang tegak menjulang

semua pesona ambruk perlahan surut dalam liang lahat.

IV

Tubuh seperti sebatang rokok

lambat laun pelan kehilangan ujungnya

dihisap abu. lantas bertaburan ke segenap arah

seperti jejak kaki seorang nabi melacak kekasihnya

di pesisir-pesisir dengan gontai kepiting

berjalan miring menyuruk pasir

            : hai, musafir bukankah kau tak perlu untuk kembali pulang?

Segala arah memburumu, namun tak ada musim panas

di punggung gerimis maut bersijingkat mendekat

: adakah sesuatu yang masih punya makna?

Musafir ini, merasa tubuhnya dibangkitkan kembali

konon seperti asal mula lempung yang dibentuk

sehingga mengembang muler mungkret

Lempung ini sekarang dibebaskan dari segala kutuk

dan siksa kubur menjadi duta yang mi’raj dari kedalaman hati

menuju ke arah kelam yang tak terbaca

            : selamat jalan, duh ruh yang dilepas raga!

V

Tak kemana-mana. ini bukan jalan itu

hanya ceruk rongga waktu menyedot malam ke dalam kelam

maut.nafsu.berkejaran.berkilat-kilat mendekat dekap

tubuhku menggigil, fanaku pelan merintih

: di mana puisi?

  aku ingin membacanya lantang-lantang!

Tak ada yang tahu. tak ada jawab

cuma pilu mengundang kenang

dunia mendadak meruah pesta

dan kureguk saja melupa jeda

VI

Telah semua kureguk segala.tuntas

segala duka. segala luka. segenap lalai

: ooo, mana lagi hitam yang kucecap?

                                                            (Ngawi, Februari-Maret, 2020)


Tjahjono Widarmanto, tinggal di Ngawi. Buku puisinya: Kubur Penyair (2002, Diva Press:Yogya), Kitab Kelahiran (2003, Dewan Kesenian Jatim), Sejarah yang Merambat di Tembok-Tembok Sekolah (2014, Satukata:Surabaya) dan buku lainnya.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *