Puisi

Puisi Yulia Rahmatika

October 22, 2019

Persembahan Puisi

: Kepada Tama

Puisi Pertama

Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu

Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu

Jika mengetahuinya

Puisi-puisi adalah kekasihku

Menjelang petang aku selalu merapalnya

Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya

Puisi-puisi ini doa yang khusyuk

Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau kenal

Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk dirimu yang membeku

Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon sabun yang dimainkan adikku

Barangkali langit-langit akan setia memayunginya

Selama ia ingin dan mau menujumu


Puisi Kedua

Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu

Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh

dari gemuruh pesta di jantungmu

aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian

mata angin mengantarkanku, kepada matamu

wajahmu puncak gunung

tertutup tirai kabut

dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh

diantara rimbun semak belukar

dalam jurang kekecewaan

diri ini akan berjuang

mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini


Puisi Ketiga

jangan berlari, dan jangan bersembunyi

aku gemas

akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa

kita berhenti pada bulan merindu

merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang

kita meminang segala macam kebahagiaan

tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,

pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan

seperti yang ada di sekeliling kita sekarang

tak ada gubuk derita, takada yang menderita

dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur pulas


Puisi Keempat

Di sini kita masih menebak jejak

Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau

Kaki ini atau kakimu.

Rasa penasaran mengetuk berkali-kali

Pada gerbang nurani

Seusai aku merangkai salam secara hati-hati


Puisi Kelima

Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?

Saban hari, kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata

Wangimu masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku

Matamu mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya

Yang menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada diriku

“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”

Padahal tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini

Tidak ada nama-nama indah. Tidak ada masa depan

Aku sendiri, tidak tahu, siapa diriku

“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”

Wajahmu selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku

Kau terbang bebas sesukamu, seperti burung-burung

Tapi entah, kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ

Mungkinkah cintamu akan pulang kearah jalannya?

Adakah jalan itu diriku?

Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?

Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu

Diri ini hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat

Asal ia bisa menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap

Di pelupuk mimpi-mimpiku

“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”

Aku tidak tahu.

 “Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”

Siapa lagi?yang kutitipi

yang kuserahi puisi-puisi

dari aku ini yang sungguh tak tahu diri.


Puisi Keenam

Lekuk bibirmu, kekasihku

Adalah keramahan

Suatu hari kelak aku tidak tahu. Bagaimana diri ini berhenti mengagumimu

Entah sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?

Adakah sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?

Pertanyaan itu dengan sendirinya menolak jawaban

Aku berhenti melangkah. Mencengkeram lututku sendiri. Aku telah menyusuri tebing-tebing

Tapi tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku

Aku gadis yang malu-malu. Dua puluh angka mau kudapati. Tapi aku masih berandai kalau aku ini angin. Tapi aku masih berandai jikalau saja aku ini air

Kekasihku;

Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun

Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.

Setiap kali kau begitujangan kau murungkan bibirmu kekasihku.

Sebab disana

Aku telah belajar

Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan

Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan bibirku;

Yang nantinya, kekasihku

Rekah bibirmu, itu sungguh ;

Ia untukku


Puisi Ketujuh

Aku yakin jika kau akan kembali

Tak peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.

Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.

Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai

Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri

Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah  menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar

Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang

Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya


Puisi Kedelapan


Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari

Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah

Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali

Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.


Puisi Kesembilan

Saya tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu

Saya tidak mempunyai cukup suara untuk mengatakan saya sungguh mencintaimu

Saya diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak cukup  menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.

Jadi saya memutuskan untuk takut.

Saya takut untuk mencintaimu.

Saya takut,

Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh tidak pentingnya jika saya mencintaimu.

Saya takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.

Kau mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”

Kemudian saya takut memikirkanmu

Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup ini untukmu

Saya takut,

Saya tidak memiliki apapun,

Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu tidak akan mencintaiku


Puisi Kesepuluh

Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana

Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang mencintaimu dulu; juga termasuk diriku

Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar disimpan saja

Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram

Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal

Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga kecewa


Yulia Rahmatika, lahir di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *