Puisi

Puisi Yuliani Kumudaswari

September 3, 2019

Panada

memilih berpupur ragi

adonan kalis kelat teruleni

lembar kemangi dan jeruk purut

tubuh cakalang tercabik cabai

sebatang serai memar

berlumur albumen panir terburai

panas minyak terjerang api

air liur terbit ruah

setangkup panada tambun menggoda

Sidoarjo,  2019 


Bakso

adalah kepul yang menguar rasa

di terik siang pun kuyup hujan

di pagi muram pun senja bersolek

“semangkuk saja tanpa vetsin, bang”

brambang tabur rajang seledri

tambahkan sampai penuh

kaldu berkuah, pentol berenang

untalan mie kusut serupa ganggang

bersendok sambal saos kecap cuka

lambung pekak begah hingga ulu

siapa mampu menahan hasrat?  

Sidoarjo, 2019 


Ote-ote

tidak usah kau tebak apa yang tersembunyi

tak usah pula kau cari yang terselubung

kubis wortel merdeka menampakkan muka

seekor udang bergelung berpose riang

lihat,  setangkai cabai rawit gendut kelimis

tertancap mematut diri serupa sepi

sungguh tembem wajah kesayangan

sebulat purnama di malam lalu

di pinggan kaleng bercorak loreng

Sidoarjo,  2019 


Donut

bergelimang gula salju

bersolek taburan coklat penuh warna

bergulingan di lengket pasta pekat

ia mematut diri

menyaru berkamuflase

lekat manis bukan fatamorgana

sungguh, 

hanya hasrat

hanya lapar

tak ada dendam

tak ada cinta

di bolong dadanya

Sidoarjo,  2019


Sayur Kekedemes

aku melihat ibu

memasak sayur kekedemes

dalam kastrol  berpantat jelaga

jerebu menari di bias cahaya

sebatang songsong meniupkan bayu

bara meletup lelatu riang melayang layang

telah habis ubi kayu pada getuk merah hijau

demi segantang beras sejumput gula

“kita lapar,  nak” kata ibu

sayur kadedemes dimasak ibu

kulit ari ubi kayu melayang di kuah santan

“bayangkan gulai, nak” senyumnya

lalu ,

kubayangkan cinta ibu

di atas lelatu dan jerebu

yang menari nari

Sidoarjo,  2019


Gulali Pink

di gerbang pasar malam itu

kakinya melangkah melompat-lompat

gadis kecil keriting berkucir ceplok

kemilau bintang di bulat mata bola

ia tertawa

ia bertepuk tangan

ia menunjuk segala sesuatu

tersenyum pada kincir bianglala

menggapai warna warna balon

berjinjit menangkap ribuan gelembung sabun

dan cahaya kunang-kunang di rambutnya

setangkai gulali pink mekar

tiada yang lain, tak ingin yang lain

senyum gadis cilik mekar

gulali pink tersangkut di gingsulnya

Sidoarjo,  2019


Pizza

pukulan demi pukulan

lebam terbanting kayu talenan

licin kalis seluruh tubuh

bengkak mekar tak berbentuk

sekepalan,  sekepalan telah tercomot

berputar melebar di ujung jemari

terbanting ditepuk sepenuh hati

lalu saus sewarna darah meruah

tertabur keju susis bak bunga ziarah

dan api memanggangnya

tubuh terbakar

sempurna

Sidoarjo,  2019


Agar-agar 

beri aku sesendok agar-agar

yang meluncur turun jatuh ke usus

melewati lidah kebas kerongkongan berduri

lenyap hilang tak bersua geligi

hidup bukanlah garis linear

naik turun berkelok berkelindan

penuh cadas karang kerikil tajam

pun embun, matahari, bunga berseri

hatimu yang agar-agar

tansah segala risau gulana

baiklah ia bersegera

mendekap rinai di kilau senja

Sidoarjo,  2019


Roti Tawar 

pagi membuka birai

cahaya kesana kemari

debu menari nari

sunyi mematut diri

betapa waktu serupa kijang muda

yang menemu sabana hijau

bergegas tak terkekang

menyeret fajar di kaki senja

kopi mengepul

roti tawar tak berselai

setangkai azalea layu

dan percakapan yang tak purna

ada yang tak tersentuh

kasih mula mula yang kian asing

Malang,  2019


Ketoprak

potongan kecil tahu goreng,  berebut bumbu, soun tak berbentuk,  kerupuk orange,  remah kacang tumbuk,  yang ditabur diatas irisan lontong bergelimang kecap sewarna ampas kopi, melukis mural nyeri di kosong dadamu

selarik cahaya melayang di atas pinggan loreng,  menyusur muka ketoprak, serupa sentuhan agar liurmu terbit sejalan siang yang meninggi,  hingga kau yang telah kenyang bergelimang sunyi, sebentaran ini terpuaskan, biarpun sementara, dari lapar yang setia memburumu

Sidoarjo,  2019


Yuliani Kumudaswari. Lahir di Bandung Juli 1971, menikah dengan dua putri,  sejak tahun 2015 menetap di Sidoarjo. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama diantaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019). Antologi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), dan Wajah Senja (2019)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *