Cerpen

Pulang

June 14, 2022

Cerpen A. Muhaimin DS

Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.

Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi  perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.

“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”

Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.

“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”

“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”

“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”

“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”

“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”

“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”

“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”

“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”

“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”

“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”

“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”

***

Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.

Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.

“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”

Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.

Bagaimana caranya?

Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.

“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.

Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.

Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.

“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.

“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”

“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”

“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”

Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.

***

“Sudah siap melamun lagi Tar?”

Ngrokok dululah.”

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”

“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”

“Khawatir tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”

“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”

Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.

Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.

***

Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.

Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).

Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.

Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.

“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”

“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”

“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”

“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”

“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”

Nganjuk, 4 Mei 2022


A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook  Abdul Muhaimin

Leave a Reply

Your email address will not be published.