Buku Resensi

Punk dan Kisah Lainnya

March 16, 2021

Oleh Nu’man Nafis Ridho

Ketika kita bergeliat dalam obrolan musik. Para pelaku musik seperti personil band, para pengulas musik, dan manajer tak mungkin dihilangkan dari percakapan. Begitu pula yang coba disuguhkan dari buku History of Punk: Budaya Tanding yang Tak Pernah Padam (2020). Atolah R. Yafi sebagai penulis menghadirkan perbincangan mengenai band-band punk, bagaimana mereka terbentuk dan hidup, para pengulas musik yang mempopulerkan terma punk, juga orang-orang di balik panggung seperti manajer band.

Saat membicarakan band-band punk, pikiran kita akan langsung tertuju pada Sex Pistols, Ramones, The Clash, The Stooges, New York Dolls, juga MC5. Band-band yang menandai semangat awal musik punk. Namun, Atolah mencoba menghadirkan nama-nama lain. Death, Pure Hell, Television, Buzzcock, Warsaw, Blondie ialah segelintir nama lain yang sedikit banyak juga membentuk subkultur punk di awal kelahirannya.

Atolah membagi bukunya menjadi empat bab: Detroit, New York, London, dan Manchester. Empat kota yang menjadi titik awal kemunculan punk di dua negara: Amerika Serikat dan Inggris. Skena punk diringkas Atolah ke dalam empat kota tersebut. Ia coba memisahkan bagaimana punk muncul di keempat kota tanpa menghilangkan keterkaitannya dalam tumbuh bersama.

Para Pengulas dan Orang di Balik Panggung

Ekosistem musik tak mungkin hanya diisi para penyanyi dan personil band lainnya. Kita pernah membaca di buku Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) yang ditulis Idhar Rhesmadi. Ia menuliskan mengenai aktor-aktor yang memenuhi ruang ekosistem selain musisi. Para pengulas lagu, album, dan band mengisi ruang dengan tulisan yang dicetak menjadi majalah. Beberapa majalah seperti Musika, Diskorina, Hai, Ripple, MTV Trax, Rolling Stone Indonesia, juga Aktuil sempat mengisi ekosistem musik Indonesia melalui ulasan mereka. Dany Sabri jadi salah satu pengulas penting dalam perkembangan musik di majalah Aktuil. Di buku, Idhar menuturkan, “selama tiga belas tahun Aktuil menulis beragam peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air.”

Para pengulas tak hanya membeberkan mengenai musik bagus dan jelek menurut versinya. Mereka juga turut serta dalam perkembangan kultur music yang terbentuk. Meski tak langsung terjun dalam pembuatan karya. Tetapi mereka justru yang menghidupkan musik melalui ulasan-ulasannya di majalah. Seperti Aktuil yang terus hidup selama tiga belas tahun untuk mengulas musik.

Begitu juga yang diterangkan Atolah di buku History of  Punk. Lester Bangs dan Dave Marsh tertuturkan sebagai penulis awal yang mengusung terma punk dalam ulasannya di majalah seperti Rolling Stone dan Crema. Mereka memunculkan terma punk melalui ulasan di majalah. Punk tidak hadir karena para musisi mengakui diri mereka sebagai punk. Namun itu dilekatkan kepada mereka oleh para pengulas musik di majalah.

Misalnya seperti Lester Bangs yang dituturkan Atolah di halaman 28, begini, “ia membeli album MC5 dan membuat ulasan secepat mungkin.” Ulasan yang dibuat Bangs justru melekatkan terma punk pada MC5. Terma punk tidak muncul dari ungkapan para personil MC5. Justru dari para pengulas seperti Lester Bangs, Dave Marsh di Amerika Serikat. Atau Denis Sabri di Indonesia.

Bahkan Death, band yang digadang-gadang sebagai musisi awal yang memainkan musik punk di Detroit tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka sebagai punk. Malah mengungkapkannya sebagai rock n roll. Begini kata vokalis sekaligus basisnya Bobby Hackney, “kami tak tahu apa-apa tentang punk, bro. Kami hanya menyebutnya hard-driving Detroit rock n roll. Itulah yang kami mainkan. Mungkin memang sedikit lebih cepat, lebih agresif, karena semua orang berkata bahwa kita harus memainkan musik lainnya seperti soul ataupun funk.”

Kita juga mendapati di buku bahwa selain para pengulas lagu, album atau band. Para manajer seperti Malcom McLaren amat begitu penting dalam pertumbuhan subkultur punk. Ia menjadi orang yang menyatukan para personil Sex Pistols dan memulai skena punk di London. Atau John Sinclair yang membentuk ruh dalam band MC5 di Detroit. Juga ada Rob Gretton yang memanajeri Joy Division dan New Order di Manchester.

Orang-orang di balik panggung inilah yang juga membentuk subkultur punk. Mereka tak hanya duduk dan singgah di kapal bernama punk, namun ingin diingat sebagai yang paling berjasa dalam perjalanan punk di lautan musik. Merekalah justru yang juga punya andil, namun dipinggirkan dari ingatan. Memang nama-nama itu hanya tercatat sedikit oleh Atolah di bukunya. Ia lebih banyak memfokuskan perihal band-band yang membentuk skena punk di empat kota tersebut.

Namun, fokus itu tidak membawa Atolah untuk menyajikan biografi singkat dan peristiwa musisi yang hidup lebih baik secara spasial dan financial setelah sukses. Kita juga dapat mengetahui bahwa sejarah musik punk ternyata tidak hanya perkara kejayaan para musisi yang nama bandnya bias terus tercetak di kaos-kaos sampai saat ini. Atau musiknya terus didengarkan secara digital. Kisah-kisah band seperti Death, Pure Hell, Buzzcock, dan Television juga ingin hadir dan teringat. Buku History of Punk ini menjadi media yang bias tetap mengisahkan bahwa punk tak melulu soal band seperti Ramones, The Clash, MC5, The Stooges, dan New York Dolls. Atau perihal rockstar yang keranjingan heroin dan narkotika lainnya ketika menjadi mapan.

Kisah-kisah yang terpinggirkan dan ganjil juga terus terkisahkan melalui buku ini. Walau agak sayang, kisah-kisah itu tercetak dengan beberapa kekeliruan secara bahasa. Kesalahan ketik yang akan membuat pembaca sedikit bingung dalam menjelajahi sejarah singkat punk di buku.


Nu’man Nafis Ridho, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan sesekali menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *