Buku Resensi

Raden Saleh: Membaca dan Memandang

June 18, 2019

Oleh Bandung Mawardi

Kurnia Effendi pergi di negeri mantan penjajah. Kepergian tak lama, tak seperti Raden Saleh di masa lalu. Di hitungan puluhan hari, Kurnia Effendi mencari dan mengimajinasikan Raden Saleh di pelbagai tempat. Ia tak cuma mencari di Belanda. Kepergian ke Jerman, Prancis, dan Belgia tetap meniatkan ingin mencari tinggalan dan cerita bertokoh Raden Saleh.

Kedatangan ke Belanda pada abad XXI mustahil masuk di buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) susunan Harry A Poeze. Kurnia Effendi tak lagi mengalami masa kolonial tapi menginginkan ada panggilan sejarah dan imajinasi kembali ke abad XIX. Di sela mencari Raden Saleh, ia merasakan kehadiran atau melihat imajinatif lakon masa lalu bertokoh: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Pembaca tak usah memaksa mencari dan menemukan nama-nama: Ki Hadjar Dewantara, Noto Soeroto, Abdul Rivai, Ahmad Soebarjo, Marco Kartodikromo, Roestam Effendi, dan Soerjo Soeparto. Di kota-kota teringat memiliki universitas, museum, dan perpustakaan mentereng, Kurnia Effendi melewati hari-hari dengan mata-membaca dan mata-memotret.

Kepulangan dari Belanda, terbitlah buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh. Judul agak mengecoh. Di buku, puisi mengenai Raden Saleh cuma sedikit tapi mengesahkan kepergian bermisi keaksaraan. “Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal,” pengakuan Kurnia Effendi. Puisi demi puisi digubah di hari-hari terus berganti. Ia berlimpahan puisi gampang terkena tuduhan “serampangan” atau pencatatan kesan saja. Sejak mula, Kurnia Effendi menginginkan: “Untuk tak jatuh pada puisi turisme, maka perlu dilengkapi dengan pengetahuan.” Puisi-puisi dikerjakan serius meski di ketergesaan, cepak, dan kesemrawutan.  

Sasaran terpenting selama di Leiden (Belanda) adalah mengunjungi perpustakaan. Sejak ratusan tahun lalu, kepustakaan asal dan bertema Nusantara ada di situ. Di puisi berjudul “Boekenzolder”, Kurnia Effendi mengisahkan: Mengenai buku, tak ada jalan buntu/ Ia selalu memiliki pintu, tempat/ kita masuk dan keluar penuh tatu// Selalu ingin kembali, menambah luka baru// Dan suatu hari kita ciptakan tragedi/ untuk angan-angan yang tak pernah mati. Ia takjub pada buku-buku. Suasana untuk pembaca terasa menegangkan di pemenuhan pamrih melintasi halaman-halaman buku sejarah dan biografi para tokoh masa lalu. Pembaca ingin “tatu”, memiliki bekas luka.  

Ia menemui buku-buku sebagai perindu dan pengagum. Buku demi buku adalah alamat kangen ke masa lalu. Ia keranjingan membaca buku-buku, tak ingin detik berlalu tanpa “tatu” gara-gara buku. Pada 7 Juli 2017, ia menuliskan kesan selama berada di perpustakaan. Ia sedang mencari Raden Saleh dengan peta-buku. Pembaca di kepasrahan dan puncak hasrat: Karam yang paling indah adalah ke dasar palung/ perpustakaan: sunyi dalam timbunan gizi/ Menyibak hutan aksara, mengais remah sejarah. Bait di puisi berjudul “Universiteitsbibliotheek Leiden” mengabarkan keterpanaan tak usai dan pencarian belum sampai. Pada buku-buku, ia terlalu berharap untuk digenapi kunjungan ke museum-museum, melintasi jalan-jalan, dan memandang sekian bangunan.

Kita agak termangu. Ikhtiar mengenali Raden Saleh dan mengerti Indonesia mesti berada di negeri jauh. Panggilan ke buku-buku tua memang bersumber dari sana. Keinginan jadi pembaca harus melintasi daratan dan lautan. Koko Hendri Lubis memberi kesaksian bahwa Kurnia Effendi memilih rakus melahap buku-buku mumpung berada di Leiden (Belanda). Kurnia Effendi emoh sia-sia. Ia terang mengaku dalam puisi berjudul “Mencari Indonesia”. Puisi mirip kalimat-kalimat dalam surat mengandung kangen: Aku menjadi pengembara dengan uang negara/ Aku menuntut ilmu dari tumpukan buku-buku/ Aku tetirah memungut remah-remah sejarah/ Aku tertawan di ruang-ruang perpustakaan// Aku ke Leiden mencari Indonesia!

Ia memang pergi ke Belanda dengan dana Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional. Pergi jangan merugi. Pulang pun membawa oleh-oleh puisi. Selama di perpustakaan, ia berhasil menemu: Di lubuk arsip lebih satu abad, kuraba kertas/ buatan Eropa, tempat Raden Saleh menggurat aksara. Lega. Ia perlahan menemukan jalan keaksaraan sampai ke Raden Saleh. Pencarian mendapat sorot terang ke masa lalu, membuka rahasia demi rahasia.

Kurnia Effendi belum lelah. Perjalanan berlanjut ke kota-kota sebelah. Ia menuju Coburg, berharap semakin menemukan Raden Saleh. Permainan ingatan dan peka memandang-merasakan itu bekal sampai ke penemuan-penemuan tak utuh. Ragu ingin menghilang. Di puisi berjudul “Menuju Coburg”, Kurnia Effendi mencatat: Jika benar Raden Saleh pernah/ hadir di sana, ingin kudengar/ langkah kakinya. Ia pergi ke Belanda pada 2017. Pencarian belum sempat membekali diri dengan buku berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) susunan Werner Kraus. Selama di Coburg, Raden Saleh mengalami hari-hari indah dan membahagiakan. Ia bergaul dengan kaum aristokrat Eropa. Di sana, Raden Saleh memiliki studio kecil untuk melukis potret Ernst II, Alexandrine, dan Putri Leiningen. Werner Kraus mencatat waktu mukim Raden Saleh di Coburg: 26 Maret-6 Desember 1844. Pada masa berbeda, Raden Saleh bergirang mengunjungi dan tinggal di Coburg. Pada 2017,  Kurnia Effendi di Coburg menuntaskan penasaran meski sejenak.

Misi mencari tak henti-henti. Di Istanbul, 31 Agustus 2017, Kurnia Effendi masih terlalu mengingat peristiwa menelusuri jalan mengingatkan pada Raden Saleh. Puisi berjudul “Hoogstraat” kentara memusat ke Raden Saleh. Ada pencantuman keterangan di judul” “Napak Tilas Raden Saleh”. Puisi ditulis di kota jauh dari Indonesia dan Belanda tapi mengesankan ingatan dan pengimajinasian menguat. Kurnia Effendi menulis: Tak dapat kulacak di mana rumahmu/ Namun terasa di tiap jengkal jalan yang kutempuh/ terlekat percikan cat lukismu. Dinding-dinding toko/ itu berebut rapi menghapus aroma tubuhmu/ Tapi kafe demi kafe gagal menyembunyikan panggilanmu/ kepada pelayan, meminta tambahan minuman.

Di hadapan buku puisi, kita tergoda membaca (lagi) buku-buku mengenai Raden Saleh. Pada 1951, terbit buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 susunan Soekanto. Buku awal bagi pembaca di masa revolusi ingin mengenali Raden Saleh, lelaki tenar tapi memicu polemik di kancah seni dan politik. Pada 2009, kita semakin mengenali dengan penerbitan buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme berisi esai-esai garapan Harsja W Bachtiar, Peter BR Carey, dan Onghokham. Kini, buku berjudul Mencari Raden Saleh terbaca dengan keentengan tanpa pamrih memberi penjelasan-penjelasan argumentatif mengarah ke biografi, estetika, identitas, dan politik. Buku itu berisi puisi-puisi tanpa janji mengumbar referensi. Begitu.    


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *