Buku Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

May 21, 2019

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : langit_abjad@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *