Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

March 10, 2020

Cerpen Ni’matus Sholihah

Dua tahun sudah aku sengaja mengisap batang rindu yang kamu tinggalkan. Aku berharap racun rindunya bersarang di tubuhku, dan aku ingin segera mati karenanya. Iya, aku ingin racun rindu itu segera membunuhku. Aku sudah tidak sabar pergi ke dunia keabadian. Menjumpaimu dan bersatu denganmu di sana.

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

***

Dugaanku, pada saat aku membuka mata akan berada di tempat yang indah bersamamu. Paling tidak di sebuah taman yang penuh bunga-bunga harum, dan mungkin ada juga kupu-kupu bersayap perak dan emas. Di sana aku mengenakan baju berwarna putih dengan rambut tergerai hitam mengkilat, dan pastinya kamu juga mengenakan baju serba putih, dengan wajah bersinar. Lalu, kita akan menjelma raja dan ratu di istana keabadian.

Rupanya apa yang aku bayangkan tidak terjadi, karena pada saat terbangun, aku tidak berada di tempat yang indah. Aku justru berada di tempat yang menyeramkan. Tak ada penerangan sedikitpun. Seluruhnya hanya gelap, bahkan sepertinya aku hanya seorang diri. Aku tak tahu ini tempat apa, semuanya hitam.

Aku berteriak, tapi tak ada suara. Entah, telah hilang ke mana suaraku. Apakah karena racun rindu atau apa, aku tak tahu, dan juga tak peduli. Aku terus berteriak dan berharap kamu mendengar, lantas menolongku keluar dari tempat terkutuk ini.

“Sudah kubilang jangan pernah memaksa agar dapat bertemu denganku sebelum Tuhan menghendaki. Tapi dasar kau keras kepala. Kau ingin mendahului takdir dengan mengisap racun rindu yang kutinggalkan. Dan sekarang kau telah mati, tapi ketahuilah, keinginanmu tidak akan pernah kesampaian.”

Aku tersentak. Itu suaramu. Iya, itu suaramu yang aku rindukan selama ini. Tapi, di mana kamu? Gelap ini membuatku tak bisa melihatmu. Aku ingin bersamamu. Meski tak ada suara, aku tetap ingin bicara. Aku yakin kamu mendengar. Aku yakin ikatan batin kita masih ada. “Aku tidak kuat menjalani hidup tanpamu. Kuputuskan menyusulmu ke tempat ini agar kita dapat bersatu lagi. Sungguh aku tidak kuat lagi menahan rindu.”

“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Seharusnya kau bisa hidup tanpaku. Jika kau merasa tidak kuat, kau bisa minta tolong Tuhan untuk membantu. Tapi, justru apa yang kau lakukan seolah tidak butuh Tuhan.”

Aku kembali tersentak, terlebih setelah kamu bentak. Aku sungguh tak mengerti denganmu saat ini. Mengapa kamu membodoh-bodohkan aku? Seharusnya kamu bangga memiliki kekasih yang rela mati untukmu.

“Tindakanmu justru membuat jarak kita tak bisa lagi ditebas. Kita tak mungkin bisa bersatu lagi. Meski, tempat kita ini abadi.”

“Maksudmu?”

“Kita beda. Aku mati karena memang sudah saatnya mati. Tapi kau mati karena memaksa diri ingin mati. Karena itu tempat kita berbeda, dan tak mungkin bisa kembali menyulam cinta.”

Dadaku seketika terasa sesak. Dan tiba-tiba sebuah godam menghantam tubuhku hingga terpental jauh lalu menabrak dinding tak kasat mata. Sangat keras.***


Ni’matus Sholihah, lahir di Madiun pada 1 Maret 2001. Hobi membaca dan menulis sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah). Alumnus Man I Madiun (Man Kembangsawit) tahun 2019. Pengagum  senja, yang menyukai aroma buku dan hujan. Ide tulisannya suka muncul di saat-saat tertentu, semisal saat mencuci, atau bersih-bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *