Cerpen

Riwayat Asmara Irvana

March 5, 2019

Cerpen Luhur Satya Pambudi

Riwayat asmara Irvana dengan sejumlah lelaki telah menjadi bagian hidupnya. Aneka perasaan telah silih berganti dijalani. Dari waktu ke waktu, perempuan itu merasakan bahagia, susah, tawa, dan tangis seperti apa adanya. Ketika meniti kembali satu demi satu cerita cintanya, sesungguhnya ia tidak menemukan sesuatu yang sia-sia.

***

Irvana yang telah berusia empat puluhan pernah dicintai lelaki yang jauh lebih muda ketimbang dirinya. Semula ia abai, terlebih karena ia enggan mengikuti kecenderungan yang terjadi di masa kini—menjadi perempuan mapan dengan kekasih di bawah umur. Namun, pemuda berusia dua puluh tiga itu memang simpatik di matanya. Ia senantiasa mampu membuat Irvana tersenyum, pun ia pendengar yang baik.

“Aku mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku?” tanya sang pemuda suatu kali yang membuat Irvana terkejut.

“Jangan bercanda. Aku lebih tua darimu,” ucap Irvana.

“Masalahnya? Bukankah sekarang banyak yang seperti itu?”

“Justru itu, aku tak mau dibilang ikut-ikut.”

”Maksudku, kita tidak sendirian.”

”Iya, aku tahu maksudmu, tapi…” Irvana tidak melanjutkan kata-katanya.

”Tapi, apa? Tak bisakah kau jawab tanyaku? Aku serius mencintaimu dan ingin memiliki segenap dirimu.”

“Baiklah, beri aku waktu untuk menjawabnya,” sahut Irvana.

Sekian hari berselang, Irvana memutuskan menerima cinta pemuda yang selama ini membuatnya selalu merasa nyaman. Ia terkesan melihat ketangguhan hatinya. Perbedaan usia tidak menjadi masalah berarti. Mereka pun melangkah bersama sebagai dua sejoli. Sejumlah gita bahagia berkumandang mewarnai hari-hari Irvana. Menginjak tiga bulan hubungan asmara mereka, sang pemuda berhasrat menikahinya. Namun sayang, kisah kasih mereka kandas di tengah jalan. Ibu pemuda itu tidak merestui niat anaknya menikahi perempuan yang berusia dua belas tahun lebih tua. Penolakan itu membuat sanubari Irvana terluka.

“Tolong beri aku waktu agar bisa meyakinkan ibuku. Dan jika beliau tetap tidak setuju, aku siap menikahimu tanpa restu ibu,” kata sang pemuda meyakinkan Irvana.

”Aku tidak akan menikah dengan tanpa restu orangtua. Perpisahan adalah mungkin pilihan terbaik kita,” ujar Irvana ditemani derai air mata.

Ia telanjur sakit hati dengan kata-kata ibu pemuda itu. Maka lagu-lagu sendu pun mendapat giliran menemani Irvana dalam kesendiriannya kala itu.

*

Irvana sempat menjalani sehari semalam penuh cinta dengan lelaki yang dikenalnya sejak dulu. Sekolah mereka dulu sama. Sudah lebih dari dua puluh tahun silam. Mereka bertemu di ajang reuni. Kendati mereka berdua tinggal berbeda kota,  hubungan mereka tetap berlanjut setelahnya. Lelaki itu senantiasa menyediakan kamar hotel saban kali Irvana datang ke kotanya. Sesekali ia balas mendatangi kota tempat Irvana tinggal. Tapi perjumpaan dan perbincangan mereka sebatas sahabat semata. Lelaki itu sudah memiliki keluarga yang bahagia, maka Irvana tak pernah berharap apa-apa. Hal itu terjadi beberapa kali, hingga ada sebuah hari yang berbeda dari biasanya.

”Vana, bersediakah sepanjang hari ini hingga malam nanti, kau hanya menemaniku? Aku ingin mengulangi kebersamaan kita semasa masih bocah dahulu,” ajak lelaki itu ketika mengunjungi rumah Irvana.

”Senyampang waktuku luang, tentu aku mau,” jawab Irvana dengan senyuman.

Maka lelaki itu mengajak Irvana menuju daerah pegunungan. Di sana mereka berjalan-jalan di kebun teh seraya bercanda dan bergandengan tangan. Laksana sepasang anak muda yang pacaran. Irvana menikmatinya belaka karena ia percaya, hanya sehari itu mereka melakukannya. Ia masih meyakini kemurnian persahabatan dengan teman lamanya. Mereka makan siang di sebuah tempat dengan panorama alam yang sedap dipandang mata dengan sejuk udara.

”Vana, terima kasih kau sudi menemaniku. Aku bahagia sekali.”

”Aku pun sangat senang hari ini. Tapi, apa sebenarnya maksudmu? Kau paham kan, bahwa kita sebatas teman?”

”Tentu saja, Irvana. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku hanya ingin ada hari yang berkesan… sebelum kita berpisah.”

”Hei, memang kau mau ke mana?”

”Vana, maafkan aku.”

”Maaf untuk apa?”

”Sebenarnya di salah satu sudut hatiku selalu ada namamu.”

Irvana menjadi salah tingkah mendengarkan kalimat dari sahabatnya. Kendati ia bisa merasakan pertautan hati itu, namun ia tak menduga sahabatnya itu bakal mengungkapkan sesuatu yang membuat sanubarinya tersentuh.

”Baiklah. Terima kasih kau sudah membuatku tersanjung,” ucap Irvana menahan haru.

”Dan mungkin hari ini adalah saat terakhir kita berjumpa,” sahut sang sahabat.

”Sebenarnya kau mau pergi ke mana, sih?”

Lelaki itu membisu dan menatap wajah cantik Irvana dengan sendu.

”Jangan bilang kau sakit, ya?” ujar Irvana dengan nada cemas.

”Sayang sekali, tapi kau benar. Aku sedang dalam perawatan dokter. Aku tak bisa menjelaskan separah apa sakitku, tapi dokter bilang hidupku seperti tinggal menghitung waktu,” kata lelaki itu mencoba tegar.

Irvana tak mampu berkomentar. Hanya isak tangisnya yang terdengar, sebelum akhirnya nanti mampu kembali bersuara.

”Aku akan mohon pada Tuhan agar hidupmu panjang. Kau masih bisa hidup lebih lama. Yang jelas,  aku siap menemanimu dalam sukacita di sisa hari ini.”

Mereka berdua melanjutkan kebersamaan yang berlangsung sejak pagi hingga malam tiba. Sebagai tanda perpisahan, lelaki itu mengecup kening dan memeluk tubuh Irvana dengan penuh kehangatan. Mereka paham benar, barangkali memang tak akan ada pertemuan berikutnya. Dua bulan berselang, Irvana mendapat kabar bahwa teman lamanya melakukan pengobatan di luar negeri dengan didampingi istri dan anak-anaknya. Irvana sebatas bisa mendoakan yang terbaik bagi lelaki itu.

Belum lama ini, Irvana diperkenalkan dengan lelaki yang ditinggalkan istrinya karena telah tutup usia dua bulan yang lalu. Seorang teman beritikad baik menghubungkannya dengan duda tersebut. Irvana mengucapkan terima kasih atas maksud baik temannya, tetapi ia tidak menyanggupi tawarannya itu. Di dalam dirinya kini telah punya pilihan sendiri. Dan alangkah bahagianya Irvana ketika pilihan itu ia tentukan bukan karena keterpaksaan atas keadaan dirinya. Bahkan ia sudah bisa membayangkan bakal seperti apa riwayat asmaranya. Irvana menjalani hal itu tanpa beban dan harapan berlebih. Ia percaya segala peristiwa yang dilalui adalah wujud kekayaan hidup yang nilainya melebihi harta benda. Ia bersyukur sejauh ini mampu menjalani skenario-Nya, terlebih atas pilihannya kali ini. “Menjadi perempuan lajang bukan lantas selalu sendiri saat mengarungi bumi ini,” gumamnya.***


Luhur Satya Pambudi , lahir di Jakarta dan kini tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Horison, Suara Merdeka, Tribun Jabar, basabasi.co, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *