Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

March 3, 2020

Cerpen Mashdar Zainal

Lelaki itu menatap gunung-gunung yang menggunduk di kejauhan dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap dedaunan yang melayang-layang terlepas dari tangkainya dan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap bebatuan yang teronggok di sembarang tempat dan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap sebuah pohon besar dengan akar berpilin-pilin dan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap segala sesuatu yang tak pernah bisa kau duga dan selalu, kau akan mendengarnya, Rusdiana, Rusdiana.

Lelaki itu punya ingatan yang baik tentang seseorang dan sebuah kejadian, maka setiap kali ia menatap sesuatu yang menggeliatkan ingatannya, atau ketika bayangan-bayangan adegan itu melintas di kepalanya, ia akan selalu bergumam: Rusdiana, Rusdiana.

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Sebenarnya ia tak benar-benar gila. Ia tak suka keluyuran sambil melempari kaca rumah orang dengan kerikil atau semacamnya. Ia tak memakai pakaian compang-camping. Pakaiannya selalu terkancing rapi. Rambutnya tersisir tampan, dan ia selalu berbau wangi. Tapi orang-orang menyebutnya gila hanya karena selalu menyebut, “Rusdiana, Rusdiana.”

Menurut riwayat yang ada, pada suatu hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan—hari pernikahannya, calon istri beserta para pengiringnya tak kunjung datang. Semuanya begitu terlambat, mengundang banyak kecemasan. Hingga seorang laki-laki tak dikenal menelusup dalam keramaian pesta dan berbisik pada seseorang. Hal itu seakan sambung-menyambung seperti permainan rahasia, hingga sampai ke telinganya. Hanya beberapa kalimat, tapi lumayan menyengat, “Bus yang mengangkut mempelai putri beserta rombongannya terperosok ke jurang.”

Ia terpaku, seperti mendengar serangga mendengung. Beberapa penumpang selamat. Beberapa penumpang terluka ringan. Beberapa penumpang mengalami patah tulang, juga beberapa penumpang tidak selamat, termasuk seorang wanita yang telah didandani sangat sempurna, bak seorang putri. Barangkali ia wanita paling cantik dalam bus itu. Dan begitulah, beberapa kalimat itu telah membuat pesta penuh bunga itu berubah menjadi penuh jeritan. Sebuah kiamat bagi lelaki itu.

Setelahnya, lelaki itu berakhir dalam kemurungan, berhari-hari. Sisa-sisa pesta yang tak jadi itu menjelma tangan-tangan berkuku hitam yang mencubiti kulitnya, mencakar-cakar wajahnya. Beberapa hari kemudian, lelaki itu menghilang begitu saja. Ia menghilang dalam kamarnya sendiri, dalam kemurungannya. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, tapi hasilnya tak ke mana-mana. Sebagian orang mengira lelaki itu kabur secara diam-diam untuk bunuh diri di suatu tempat, sementara lainnya berpendapat lelaki itu diculik sesuatu yang tak tampak. Namun semua pendapat-pendapat itu lenyap, begitu lelaki itu muncul pada suatu pagi, di bawah pohon trembesi di ladang belakang rumah, hanya mengenakan celana pendek. Semenjak itulah, setiap kali ia menatap sesuatu yang tak dapat diduga siapapun, ia akan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Satu hal yang sedikit ganjil, jika ia gila karena calon mempelainya, tentu ia tak akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Karena calon mempelainya bernama Dewi, nama lengkapnya Dewi Suciwati, bukan Rusdiana. Entahlah, siapa yang bisa menebak isi kepala lelaki itu?

“Siapa Rusdiana?” ibu lelaki itu pernah bertanya demikian.

Dan ia, dengan gerak bibir penuh dan pasti, membalas, “Rusdiana, Rusdiana.”

“Rusdiana siapa?” bapaknya yang kali ini bertanya.

Dan kau bisa menebaknya, yang didapat sang bapak hanyalah jawaban yang sama.

“Barangkali, Rusdiana adalah nama jin perempuan yang menculiknya sewaktu ia menghilang selama beberapa hari itu.” Si ibu menyimpulkan.

“Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan bocah ini, isi kepalanya sudah kacau,” timpal sang bapak, penuh keputusasaan.

Si ibu menangis memandangi bujangnya yang menatap kosong. Sang bapak membatu menatap putra semata wayangnya yang pandai sekali bergumam, “Rusdiana, Rusdiana.”

Beberapa kali mereka mendatangkan orang pintar untuk memeriksa keadaan lelaki itu, tapi orang-orang pintar itu berhenti pintar ketika pada akhirnya, mereka hanya berkata, “Rusdiana, kami tak bisa menyentuhnya sama sekali.” Atau, “Rusdiana, ia bersembunyi di balik kabut.” Atau, “Rusdiana, hanya bocah ini yang tahu siapa Rusdiana.” Atau, perkataan telak yang semacam itu, yang sama sekali tidak membantu.

Pada akhirnya, orang tua lelaki itu menyerah. Ia membiarkan Rusdiana terus hidup dan mengendap dalam kepala anaknya. Mereka cukup bersyukur karena bocah itu masih tampak waras, ia tidak melempari kaca rumah orang, ia masih sudi mandi tiga kali sehari, makan seperti biasa, menyisir rambut, dan berpakaian rapi layaknya orang waras. Hanya ada satu letak ketidakwarasannya, ia tak banyak berkata-kata kecuali, Rusdiana, Rusdiana.

Seandainya orang tua lelaki itu pandai menyisir masa lalu, seharusnya mereka tak perlu mencari orang pintar atau apapun. Cukup menyisir masa lalu. Masa lalu anak lelakinya. Mereka benar-benar lupa. Sewaktu SMA, lelaki itu pernah memiliki seorang kekasih bernama Dian. Gadis itu dinyatakan hilang saat melakukan sebuah pendakian usai merayakan kelulusan. Tak ada yang tahu kalau gadis itu tidak hilang begitu saja. Gadis itu hanya menerbangkan dirinya ke ceruk jurang, lantas tubuhnya yang remuk tersangkut di sebuah batu di antara akar pepohonan yang menjulang di punggung jurang. Sampai detik ini, jasad gadis itu—yang barangkali telah menjadi tulang belulang, belum ditemukan.

Hanya lelaki itu yang tahu. Tapi ia memilih bungkam. Lelaki itu pernah mengingkari sebuah janji untuk mati. Ketika gadis itu menerbangkan dirinya, seharusnya ia menyusul terbang. Demi cinta yang sehidup semati. Tapi tidak, lelaki itu berubah pikiran dan memutuskan secara sepihak bahwa cinta di usia mereka hanya cinta main-main, dan sungguh tak masalah jika orang tua mereka tidak pernah merestui satu sama lain. Masa depan masih sangat panjang, tapi gadis itu terlalu tergegas-gesa. Seolah nyawanya berlipat ganda seperti kartu remi, bisa dilempar ke sana kemari.

Setelah melihat tubuh ringkih itu melayang ke ceruk jurang, disambut cadas dan  bebatuan, lelaki itu gemetar, hanya gemetar, lalu pergi terhuyung-huyung, dan berjanji akan membungkam mulutnya sepanjang yang ia bias, dan gadis itu tak pernah bisa menerima. Maka ia terus membuntuti lelaki itu. Mengawasi gerak-geriknya dari alam ketiadaan. Ia tak akan pernah membiarkan lelaki itu menjadi milik wanita lain, sebab janji mati itu seharusnya ditunaikan bersama. Sebab itu pula, bus mempelai perempuan itu layak masuk jurang, seperti dirinya di masa lampau.

Dan kini, ketika lelaki itu menatap gunung-gunung, ia akan mengingat tempat itu dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap sehelai daun yang gugur, ia akan mengingat seonggok tubuh yang terbang melayang di udara, dan ia akan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap tanah keras dan bebatuan, ia akan mengingat cadas dan batu-batu yang meremukkan tubuh ringkih itu, dan ia akan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap akar pepohonan yang berpilin, ia akan mengingat tubuh remuk yang terpaut di antara akar, dan ia akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika tiba-tiba bayangan itu muncul di mana saja dan kapan saja, ia akan terus menyeru nama itu: Rusdiana, Rusdiana. ***

Madiun, 2015-2019


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya, “Gelak Tawa di Rumah Duka”, basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *