Cerpen

Sang Juru Kunci

July 27, 2021

Cerpen Ian Hasan

Sebab terlalu sering mengaitkan kejadian kematian beruntun warga dusun dengan kemarahan leluhur penunggu makam Sindang, nyaris tak ada warga Dusun Ngenthak yang menyukai Mbah Ngiso.

“Orang tidak waras,” kata Pak Bayan sembari bersungut-sungut, “tidak usah didengarkan!”

Tentu saja warga dusun yang sebagian besar kaum beriman dan terpelajar, menerima sepenuhnya pernyataan itu. Mereka lebih percaya, garis maut sudah ditentukan dan tidak ada siapa pun makhluk yang bisa memainkan goresannya, termasuk pandemi virus laknat sekalipun.

“Ya, maklumlah orang tidak pernah sekolah,” celetuk istri Ketua RW, terkesan bijak dari tutur kata dan penampilannya.

“Pssttt, awas ada orangnya, Bu!” Sambil berkata lirih, seorang ibu muda menyenggol lengan Bu RW.

Lelaki tua berkaki pincang sebelah itu tak begitu menggubris obrolan ibu-ibu yang sedang berkerumun mengelilingi tukang sayur di perempatan jalan menuju makam. Ia cukup mengerti perihal suasana dusun akan terus mencekam dalam beberapa hari ke depan. Termasuk gunjingan atas dirinya bakal kian meruncing, ia tak ambil peduli. Sekalipun tiap malam—dan sudah berjalan selama sepekan ini—masjid-masjid di Dusun Ngenthak, serentak menggelar acara doa tolak bala. Ia telah melihat sendiri, hujan yang turun hampir saban petang mengguyurkan kecemasan bagi warga dusun. Mereka yang memaksa diri hadir di masjid, tak bosan ndremimil, memanjatkan harap keselamatan atas kampung mereka dari pagebluk yang tak kunjung surut. Seolah tak putus sirene ambulans meraung dari kejauhan dan kabar lelayu kerap menggema lewat pengeras suara, membuat mereka yang bertahan mendekam di rumah pun tak lebih sama, mendaras pertolongan Yang Maha Kuasa agar keluarga mereka terhindar dari malapetaka.

Mbok ya sudah. Manut saja apa kata orang-orang, Kung.” Masih terngiang teguran istrinya semalam.

Mbah Ngiso—yang tak pernah lulus SD itu—tahu, sepintar apapun orang bersekolah, nyatanya sama saja tak berkutik tatkala wabah datang. Orang-orang pusat yang katanya terpilih dan hebat, menurutnya tak ada guna manakala sudah setahun lebih, gawatnya pandemi belum juga sanggup diatasi. Terlebih sekarang korban berjatuhan di antara tetangga sekitar. Ia lebih percaya dengan nasihat yang turun temurun ia terima dari leluhur, bahwa kejadian seperti ini merupakan akibat dari ulah tingkah sendiri. Mana mungkin Gusti Allah menimpakan tulah ke alamat yang salah? Demikian sederhana alasan yang melekat di benaknya.

Gegas lelaki itu mulai menugal tanah, menghunjamkan segenap kepatuhannya atas titah. Sesungguhnya dia pun tak rela sejak beberapa bulan belakangan, banyak warga yang tak menghiraukan lagi kata-katanya. Hal itu terlepas dari kenyataan, sepekan ini ia sudah menggalikan makam belasan mayat warga, tanpa sedikitpun berniat mengelak. Mata cangkul ia ayunkan, disambut sigap tiga orang warga lain membantunya, lalu sebentar saja tanah galian telah menumpuk di sekeliling lubang berukuran satu kali dua meter itu. Apa daya—pikirnya, Juru Kunci Makam Sindang hanyalah sebutan halus untuk tidak mengatakannya sebagai gedibal. Dan kata-kata yang keluar dari seorang gedibal, ibarat gemerisik rumput yang mengaduh terinjak kaki, kalaupun benar hanya terdengar tak lebih sebagai ratap belas kasihan.

Wis ta, Mbah. Aku jamin sampeyan dan keluarga nggak bakal kelaparan. Jadi nggak usah macam-macam!” tegas Pak Bayan tempo hari.

Sementara Mbah Ngiso tengah berkejaran dengan waktu menyiapkan lubang pemakaman, Pak Bayan justru terlihat sibuk menerima kedatangan para wartawan di balai desa. Terasa makin aneh kehadiran kuli tinta itu, tapi demikianlah kejadiannya. Mungkin sekali para remaja atau muda-mudi Dusun Ngenthak sudah tak sabar dusun mereka menjadi viral, meski kabar petaka yang harus mereka unggah ke media sosial, mengundang wartawan untuk meliput kejadian sebenarnya.

“Sebagai kepala lingkungan, kira-kira bagaimana tindakan Bapak untuk mengatasinya?” Seorang wartawan dari media lokal melontarkan pertanyaan yang terasa sedikit tergesa-gesa.

Pak Bayan terdiam sebentar sebelum kemudian memberikan tanggapan. Dia katakan di tengah kepanikan yang terus-terusan seperti sekarang, hanya ada satu cara paling baik, yakni meminta pertolongan Tuhan. Dia menambahkan, “Seluruh dunia sedang menderita akibat pandemi. Jadi mohon tidak menyebar berita yang tidak-tidak tentang dusun kami.”

Dan kedatangan wartawan itu sudah pasti tak membuat kepanikan mereda. Justru di hari berikutnya, berita tentang kematian beruntun di Dusun Ngenthak sukses terpampang di halaman pertama, bersebelahan dengan foto lambaian tangan bupati yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Berita mengenai Dusun Ngenthak memang bukan baru kali ini, terlebih di dusun inilah rumah tinggal bupati berdiri, semenjak belum menjabat pertama kali. Tiga bulan sebelumnya, kabar penolakan pembangunan menara telekomunikasi yang tidak melibatkan persetujuan warga, juga sempat terpampang di koran yang sama. Sejatinya persoalan itu lumrah saja terjadi di mana tempat. Biasanya, warga setempat menolak karena tidak menyepakati uang kompensasi yang diberikan oleh pengembang menara. Sedikit berbeda yang terjadi di Dusun Ngenthak. Pertama, warga merasa tidak pernah diberitahu, apalagi dimintai persetujuan, terkait rencana pembangunan menara. Kedua, karena rencana pembangunan menara itu harus menghilangkan satu-satunya pohon tua yang ada di tanah kas desa, persisnya di sisi timur Makam Sindang. Yang terakhir, ada bukti dan saksi mata yang mengetahui perihal uang sewa, telanjur jadi bancakan tokoh-tokoh masyarakat dan perangkat desa. Ketiga alasan itu semakin meruncing ketika pada pertemuan di balai desa, Pak Bayan membawa-bawa nama bupati, “Kalau Bupati saja sudah merestui, kalian mau apa?” seolah dengan begitu penolakan warga bisa segera teratasi.

Sayangnya sebagian besar warga mengamini pernyataan Pak Bayan dan sebagian kecil sisanya ikut-ikutan bungkam ketika dana kompensasi dibagikan merata. Media pun tak kurang melempem setelah melakukan mediasi yang entah, menampilkan judul ‘Terganjal Mitos, Pembangunan Menara BTS Sempat Ditolak Warga,’ di salah satu kolom beritanya. Terkecuali Mbah Ngiso, meski dalam posisi terkunci, tetap saja menolak tanpa kecuali. Tetapi sikap itu tak mengubah itikad baiknya melaksanakan tugas sebagai juru kunci, sebagaimana yang dilakukannya hari ini.

Setelah kedatangan ambulans yang mengangkut jenazah, beserta mobil SAR yang membawa petugas berpakaian APD lengkap, Mbah Ngiso bergegas pulang. Sampai di rumah, lelaki tua itu disambut istrinya dengan wajah gelisah.

“Perasaanku kok nggak enak ya, Kung.”

“Lha ngapa? Ndak usah ikut-ikutan bingung.”

“Sampeyan ini, dieman-eman kok malah kayak gitu.”

“Apa kamu ikut-ikutan mengira Gusti Allah gegabah?”

“Ya bukan begitu. Tapi sampeyan kan juga harus hati-hati.”

“Kalau kamu ikut-ikutan menyalahkan pandemi, lantas kapan kita akan belajar perihal takdir yang sudah pasti?”

“Ah, ya sudah. Memang angel tenan bicara sama sampeyan,” tandas perempuan tua itu.

Matahari sedikit condong ke barat, dan Mbah Ngiso tetap bersikeras tak mau menyepelekan perihal kepastian takdir sebagai buah tindakan sendiri. Ia bahkan sempat menyebut—dan itupun sudah teramat sering dikatakannya—alasan kakinya pincang sebelah, sebab terpatuk ular saat berniat membawa pulang kayu bekas keranda dari Makam Sindang, berpuluh tahun silam. Lelaki tua itu berharap, cukup sekali itu saja dirinya tertimpa kemalangan akibat kemarahan leluhur penunggu makam.

Mbah Ngiso dan istrinya belum tahu, di saat mereka meributkan keselamatan atas pagebluk yang terjadi, sebuah pesan berantai menyebar dengan cepat selayaknya wabah menular. Siang terasa lebih panas di balai desa, ketika Pak Bayan yang baru saja mengisi absensi kehadiran, sampai terpental dari kursi, setelah membaca kabar lelayu kemangkatan bupati.***


Ian Hasan, kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Penulis dapat dihubungi lewat surel: opussociety@gmail.com dan akun Instagram: @ian_hasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *