Buku Resensi

Sapardi: Mantra dan Pengabdiannya

September 29, 2020

Oleh Agus Wedi

Sesungguhnya, posisi penting Sapardi Djoko Damono dalam susur galur kesusastraan Indonesia adalah karya dan “pengabdiannya.” Karya-karyanya berlaga di medan penyadaran untuk mendongkel kualitas sastra menjadi sesuatu yang dekat dengan publik. Di lembar pengabdian Sapardi, terlihat bagaimana dia berada di lingkaran inti “proyek” besar sastra (lirik) untuk dicurahkan sehabis-habisnya bagi publik Indonesia. Kerjanya lahir dari kesadaran “empati” yang mencerminkan sastrawan cum-akademisi tidaklah berjarak jauh pada realitasnya.

Begitulah Sapardi. Dalam hal ini, dia memahatkan pemaknaan bahwa sastra atau ilmu semestinya diajarkan dan disebarkan dengan rendah hati, tanpa mengurangi kualitasnya. Sebab, dengan kerendahhatian akan tampak signifikansinya pada aktivitas sastra yang gemilang. Dari sosok Sapardi, kita bisa mendapatkan karakter sastrawan Indonesia yang “bijak” dan teguh: tidak mau kalah pada “kritikan dan waktu. Bentangan waktu telah dibuatnya menjadi sesuatu yang fantastik: menulis puisi, tukang edit, tukang kliping, menerjemah, mengajar, berorator, dan berasmara.

Di lembar waktu, Sapardi telah membuahkan banyak karya. Buku Mantra Orang Jawa merupakan teks penting Sapardi. Di mana dia menjejak sebagai orang Jawa dan merefleksikan panorama dinamika Jawa beserta isinya, tak terkecuali hal-hal yang telah “(di)terlupa(kan)”: mantra.

Sejarah Jawa adalah sejarah mantra. Diakui atau tidak, bentangan sejarah manusia Jawa, mantra menjadi napas atau senjata mistik utama. Bahkan, mantra-mantra yang berkecambah di tanah Nusantara, kebanyakan berbahasa Jawa. Meski bahasa murninya mantra hampir tidak bisa dimengerti baik secara fonetis maupun sintaksis. Tetapi bagi manusia Jawa itu harus dirapalkan demi menyibak segala rahasia, atau demi mencapai sesuatu yang ilahiah. Dalam teks ini, barangkali Sapardi mengingat itu, dan jika boleh dikatakan demikian, membicarakan (karya) manusia Jawa atau mengkaji susastra Jawa, dengan tidak mengikutkan mantra di dalamnya merupakan keteledoran besar yang kadang tidak disadari.

Bisa kita lihat  di halaman awal buku ini. Sapardi menulis: “Konon, di zaman lampau mantra memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan nenek-moyang kita untuk berbagai keperluan hidup sesuai dengan maksudnya. Kata mantra tidak bisa dipisahkan dari Japa, jadi Japa Mantra. Japa berarti dibisikkan atau didesahkan atau diucapkan. Jadi mantra harus dilisankan. Dalam buku ini saya telah menjadikannya puisi saja, tidak perlu dikait-kaitkan dengan maksud penciptaannya dulu meskipun tetap harus dilisankan.”

Sapardi masih mengingat mantra! Kerja mantra pun masih diingatnya, termasuk asal-usulnya. Sebagai orang Jawa yang sadar mantra, Sapardi seperti ingin mengenalkan ke khalayak, jika tidak bisa diselamatkan (oleh manusia Jawa) dari kepunahan. Kesadaran etis Sapardi mengantarkan mantra menjadi karya, sebut saja karya paling panoramik Sapardi, Mantra Orang Jawa.

Kekuatan karya adalah kekuatan mantra. Bisa jadi, kekuatan mantra adalah kekuatan karya. Sapardi memberi pesan, “Siapa tahu masih ada kekuatan [mantra] tersembunyi yang tersisa dalam puisi ini. Kalau memang demikian halnya, kita manfaatkan sajalah [mantar/puisi] yang ada dalam buku ini sebaik-baiknya”. Untuk memotret harapan manusia Jawa dan kontestasi bentangan perjalanan hidupnya yang dibangun dengan mantra.

Sejarah manusia (Jawa) adalah sejarah mantra. Sejak manusia dilahirkannya, mantra ikut dikomat-kamitkannya. Bahkan, dalam peristiwa-peristiwa kecil atau besar dan ketika maut memisahkannya, bacaan atau japa mantra turut serta mengantarnya. Dalam hal ini, puisi-puisi Sapardi mengantar pada konteks itu. Kalau begitu, kita buka puisi Mantra Hari Lahir: aku memohon kepada Hyang Maha/ kepada kulit/ kepada daging/ kepada urat/ kepada tulang/ kepada sumsum.// semoga tahu saja/ bahwa aku ada.

Renung Sapardi, keberadaan manusia sebentuk dengan keberadaan Tuhan dan ekosistem tubuh. Keduanya saling jumpalitan dan bahkan bisa jadi saling berkaitan. Tapi tidak harus dihadap-hadapkan. Penyuwun Sapardi kepada Tuhan di langit, Hyang Maha dan keberadaan tubuhnya untuk selalu mengasihi sepanjang rentetan hidupnya. Sapardi seperti mengemis, dalam bentangan hidup, keduanya tidak boleh tidak ada, dan harus selalu ada: tidak menyiksa dan tidak disiksa olehnya. Tuhan dan tubuhnya dipinta untuk selalu (ada) menjaga keberadaan dan kondisi normalnya. Saya kira, itu sah-sah saja dalam hakikat menghamba.

Disadari, dalam kehidupan normal, kadang manusia memang selalu lupa. Kita lupa mengingat bagaimana kita ada dan tercipta. Melupakan bisa mengantarkan pada keberjarakan. Keberjarakan terhadap yang mencipta atau yang menemani ke-ada-annya (dalam hal ini tubuhnya), bisa jadi ia juga mencipta malapetaka: penyakit selalu datang tak henti-henti, kejadian nahas, himpitan kemiskinan, dan petaka lainnya. Bahkan, kalau dirunut ke akarnya, petaka hadir karena manusia telah menyimpang dari jalan-Nya, sebab melupakan khalik-Nya. Dalam hal ini, Sapardi tegap, ia meminta pengasihan. Dari lahir hingga berada di puncak karir tak menjadikan ia lupa bahkan “buta” pada hakikat hidupnya. Sekali lagi, ia mengingat, ia meminta ke Tuhan Pencipta.

Tumbuh suburnya panorama kehidupan tiada lain atas restu Tuhan. Tetapi, sebagai hamba yang lemah (terbatas), tidak harus bersikap fatalistik (menganggap Tuhan segalanya) atau free will (manusia bebas menentukan segalanya). Diskursus kehidupan cukup dengan berusaha dilandasi kesadaran menyeimbangkan yang langit dan bumi: moderat. Membuat konsep persoalan hidup butuh keberpihakan “kesadaran menjadi hamba” dan perlu disabuk dengan japa mantra kasih (doa pinta). Pada itu, Sapardi menulis Mantra Agar Dikasihi: bapa masuk/ atas nama Hyang Maha./ masuklah ke rahim si Dadap/ turuti sepenuhnya/ apa yang kumaui/ turuti apa saja/ yang kuhendaki/ turuti apa saja/ apa yang kuucapkan.// datanglah kasih/ datanglah sayang/ kasih sayang/ bagi diriku.

Rumusan Sapardi, ketika orang-orang (terkasih) mengasihi, itu kuasa gerak Tuhan yang hadir dalam batin manusia: si Dadap. Pinta atau kemauan yang dikehendaki atau dituruti dan menjadi nyata adalah bentuk keniscayaan belas kasih Tuhan. Bahkan, di puisi lanjutnya, puisi Mantra Pengasihan, 1, dan Mantra Pengasihan, 2, Mantra Pengasihan, 3, hingga puisi Mantra Pengasihan, 9, Sapardi dengan mantap mengatakan, “segala adalah kehendak Hyang Maha.”

Sekadar memberi contoh, misalnya, Mantra Pengasihan, 9: sudahlah, mau apa lagi/ kau dalam genggamanku/ aku dalam genggamanmu/ sudahlah, mau apa lagi/ ini tak lain cinta sejati/ yang disiramkan/ ke tubuhku/ ke tubuhmu/ agar basah/ agar menyerah/ di hari dan wuku/ pada kehendak/ Hyang Tunggal.

Pada hakikatnya, segala yang ada hanyalah manifestasi Hyang Tunggal. Kekuasaan dan gelayutan hidup manusia, baik problem sosial dan asmara menjadi hal yang nyata untuk dibawa ke hadapan Hyang Tunggal. Pengakuan terhadapnya adalah menjanjikan derma dalam sebuah aktivitas suluk spiritual. Dalam prosesnya, seperti puisi Sapardi, “baik yang bisa digenggam atau tak bisa digenggam”, harus dikembalikan lagi atau mengembangkan cara pandang yang humanis terhadap Hyang Tunggal, juga manusia. Sebab, Hyang Tunggal bisa ditemui bukan hanya di perjalanan (suluk) sunyi, tetapi juga di jalan asmara yang ramai.

Mengacu ke laku Sapardi, mantra-mantra tidak selalu harus diperuntukkan ke Hyang Tunggal. Nyanyian langit tidak perlu dijaga ketat kerahasiannya, tetapi juga dipahatkan pada si jelita hati: manusia. Sebentuk permohonan atau berbelas kasih. Untuk hal ini, kita bisa cerap puisi Mantra Menjelang Tidur: aku berniat tidur/ berkasur raga/ berbantal nyawa/ berselimut sukma/ dijaga para bidadari/ nikmat mulia sejati.

Sapardi memberi citra sentilan, permintaan, penuturan yang imajinatif. Puisi mantra magis ini ingin melepaskan katalogsasi ragam peristiwa harian, sekaligus ingin menyusun kenang yang terbiarkan masuk dan tertinggal dalam tidur panjang: kematian. Atau mungkin, ini adalah japa mantra keheningan total Sapardi, suatu penyerahan total pada Hyang Tunggal, Tuhan.

Dalam ilmu supranatural, mantra dikenal bisa membuka tabir kehidupan, juga bisa merubah formulasi pandangan manusia dari sesuatu yang lazim menjadi biasa. Tapi puisi-puisi Sapardi sepertinya tak ingin mengarah ke sana: tidak untuk mengamati, mengintip atau membuka rahasia-rahasia langit yang ritmenya hanya bisa dipahami oleh pribadi-pribadi suci. Namun barangkali, kita yang telah tersihir ritme mantra puisi-puisi Sapardi. Wah!


Agus Wedi, pembaca buku dan aktif di Komunitas Serambi Kata Surakarta. Tulisannya tersiar di beberapa media cetak dan online. Bisa disapa di Instagram @petualangrindu.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *