Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

October 29, 2019

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *