Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

October 1, 2019

Cerpen Sasti Gotama

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Kalau bukan demi uang, ia tak akan mengirimkan tulisan-tulisan itu. Bukan alasan idealis, demi kesusastraan. Baginya, ini satu-satunya jalan keluar yang bisa ia bayangkan. Tagihan-tagihan itu tidak bisa menunggu. Seumpama melintasi jembatan, ia telah berlari di atasnya sedangkan jembatan di belakangnya telah terbakar.

Yuanita, anak perempuannya telah tertidur sejak pukul tujuh malam. Sepertinya ia kelelahan setelah ekstrakurikuler berenang. Dua puluh menit yang lalu, bocah kelas lima itu bahkan menguap berkali-kali saat mengerjakan PR yang berlembar-lembar. Begitu nomor terakhir ia selesaikan, ia langsung jatuh tertidur di atas buku catatan hingga Alina Karina harus mengangkatnya ke kamar.

Alina Karina kadang heran, sebetulnya sekolah itu tempat belajar atau tempat penyiksaan? Seharusnya sekolah tempat anak-anak bersenang-senang sambil belajar, bukannya tempat menimbun beban, dijejali dengan berbagai hafalan dan hitung-hitungan memusingkan. Buktinya, saat ini semua hafalan Alina Karina di sekolah dasar tentang bahan tambang di Indonesia dan juga daerah penghasilnya tak bisa membuatnya mendapat uang.

Alina Karina berjingkat ke arah meja rias. Sambil memikirkan ide apa yang bisa ia tulis untuk dikirimkan ke koran, ia membersihkan wajah dengan kapas basah. Baru dua karyanya yang menghasilkan. Tiga ratus ribu rupiah langsung menguap untuk biaya rekreasi bersama kelas lima Yuanita. Saat itu ia menulis tentang seorang perempuan yang melahirkan seekor serigala. Padahal ia tak pernah bercinta satu kali pun dengan seekor serigala. Ia hanya bercinta dengan manusia-manusia berhati serigala. Pada akhirnya, serigala yang terlahir itu tumbuh besar, dan kelak akan memakan ibunya sendiri. Sebetulnya ia tak terlalu memikirkan apa pesan moral dalam tulisannya. Ia hanya membuat cerita aneh yang sepertinya lebih disukai media. Buktinya, saat ia menulis sebuah cerita mendayu-dayu dengan pesan moral, balasan yang tercantum seperti kalimat pembuka di atas.

Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saat Alina Karina telah menyelesaikan riasannya. Alisnya sudah melengkung cantik dan bibirnya merah muda. Ia meraih gaun hitam menerawang dari lemari sambil memikirkan bahan cerita lainnya. Ia harus membuat cerita yang baik, alih-alih menulis kisah yang buruk. “Mungkin aku harus menulis cerita yang berisi hujatan pada pemerintah,” gumamnya. Orang-orang suka membaca hal yang buruk, pikirnya. Hal-hal yang baik tak pernah mereka bicarakan, berbeda ketika ada berita buruk, maka dengan semangat empat lima mereka memakan bangkai berjamaah. Serupa bawang, semua dikuliti hingga lapis terakhir.

Seorang editor yang pernah menggunakan jasanya di sebuah kamar hotel kelas melati pernah berkata, “Menulislah karena kau mau menulis. Jangan pernah menulis karena uang.” Ia mengatakan itu sambil menguap dan menarik selimut yang  menutupi sebagian pinggangnya. Kalau meludahi editor tidak akan membuatnya kehilangan uang jasa pelayanan, mungkin sudah dilakukan saat itu juga. Tapi ia butuh uang itu untuk membayar tagihan BPJS yang naik bulan ini.

Alina Karina menggelengkan kepalanya. Menyesal telah mengingat hal menjijikkan itu. Sebetulnya semua yang dilakukannya menjijikkan. Tapi ia terpaksa. Kadang, saat di atas kasur apak dan seseorang menungganginya dari belakang, ia hanya memikirkan Yuanita.

Pelan-pelan ia menutup kamar kos agar Yuanita tidak terbangun. Malam itu dingin sekali, dan bulu-bulu kuduknya –satu-satunya bagian yang tidak ia cukur—meremang. Harusnya aku memakai jaket, pikirnya. Tapi kemudian ia sadar, itu berarti akan membuat keseksiannya tak akan terlihat pelanggan.

Di bawah sinar bulan purnama, Alina Karina berdiri sambil menggosok-gosok kedua lengannya. Di jalan ini belum disediakan lampu penerang. Beberapa rekan seprofesinya tampak duduk-duduk di pembatas jalan dan sungai. Daerah ini lebih dikenal sebagai jalan inspeksi banjir kanal barat. Tak banyak yang lewat. Hanya beberapa motor. Itupun tak ada yang menghampirinya.

Alina Karina memilih untuk bersandar di pohon kersen pinggir jalan. Punggungnya sedikit pegal. Sebetulnya ia tak ingin mengingat-ingat masa lalunya. Namun, ingatan itu dengan seenaknya nongkrong di benaknya. Alina Karina bukan nama aslinya. Tapi ia suka nama itu, juga untuk nama penanya.

Sebetulnya, seperti alasan-alasan klise lainnya, tak ada yang mau jadi tunggangan lelaki yang berbeda-beda jika bukan karena terpaksa. Ia sudah coba melamar ke mana saja, tak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena sosoknya. Kalau memungkinkan, ia ingin pindah ke Thailand, tapi ia urungkan dan berpikir untuk menulis cerita saja. Dalam dunia tulis menulis, orang hanya menilai dari ceritamu, bukan sosokmu. Ia berangan-angan, dengan menulis cerita ia bisa bebas finansial, tak perlu menjajakan diri seperti ini. Sesaat, ia merasa otaknya dipenuhi labi-labi.

Seorang pengendara vario hitam melambatkan motornya dan berhenti di depannya. “Mampir, Mas?” Alina Karina mengedip manja dan melontarkan senyum termanis yang ia punya. Lelaki pengendara motor itu sedikit gugup. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Sinar bulan membuat wajahnya tampak lebih pucat.

“Bonceng saya ke penginapan di ujung jalan sana, ya Mbak.” Alina Karina mengangguk dan langsung duduk di boncengan lelaki berjaket hitam itu. Bau musk yang terlalu pekat segera terhirup olehnya. Ia tidak peduli ke mana lelaki itu membawanya. Pikirannya dipenuhi bahan cerita apa yang bisa dibuatnya.  Ia bernazar, jika cerpen yang akan dibuatnya kali ini bisa tembus media ternama, ia akan berhenti menjajakan diri dan sepenuh hati hanya menulis cerita. Seandainya ia tahu, bahwa banyak penulis yang tak bisa menggantungkan nafkah dari cerita, tentu ia tak akan bernazar seperti itu dengan gegabah.

Pikiran Alina Karina masih dipenuhi dengan ide-ide cerita ketika lelaki itu membelokkan motor ke arah rimbun kebun jagung. Ia bahkan sedang memikirkan kalimat pembuka ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu membanting tubuhnya ke arah sela-sela tanaman jagung. Lelaki itu mencekik leher Alina Karina sambil mengerang bahwa pria yang menyalahi kodratnya seperti Alina Karina patut dimusnahkan dari dunia daripada membawa petaka bagi manusia di sekelilingnya. Di saat terakhir, Alina Karina telah melupakan hal-hal tentang cerita. Ia hanya terbayang Yuanita,  dengan suara cadel memanggilnya “Ayah”.***


Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

Only registered users can comment.

  1. tertolak dan maaf belum bisa dimuat adalah kata manis media. Bahkan sampai 44 kali. Malah jadi obat batuk. Ok salam sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *