Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

July 7, 2020

Cerpen Rizka Hidayatul Umami

Ada ritual yang tidak pernah ditinggalkan ibu selepas 40 hari kematian bapak. Setelah ingatan soal petir yang menyambar tubuh bapak di tengah sawah, di siang yang gelap itu samar-samar mulai dilupakan orang. Ritual menyeduh dua cangkir berisi penuh kopi hitam jenis robusta, dipesan dari lereng Merapi. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat ibu menangis. Air matanya seperti ikut kabur bersama layu kembang dan aroma wewangian yang sengaja ditinggal di atas pekuburan bapak. Mungkin angin sengaja menerbangkannya dan membuat mata ibu jadi kering buat selama-lamanya.

Aku mengira, telah lenyap rindu  dan cinta ibu pada bapak. Secepat itu? Tapi lagi-lagi aku tak pernah berani, bahkan sekadar mengulik cerita-cerita soal bapak dan hari yang nahas itu. Hari ketika padi mulai menguning dan beberapa orang telah mendapat jatah buat memanen padi di sawah milik perangkat desa.

Tiga hari sebelum bapak mangkat, para buruh tani memang sedang bahagia-bahagianya mendapat jatah mburuh. Bapak dan ibu–yang tidak punya sawah–turut ambil bagian. Seperti musim panen sebelumnya, kebiasaan ibu dan bapak sebelum berangkat ke sawah cukup sederhana, menyeruput kopi dari cangkir masing-masing di teras belakang rumah. Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menghitung-hitung kasar, berapa nanti uang yang bisa mereka kumpulkan. Bagi keluarga kecil, mendapat jatah mburuh di musim panen adalah hal yang menggembirakan. Sebab tandanya orang-orang kampung telah banyak berubah, lebih memilih berbaik sangka dan menanam rasa percaya ketimbang terus menerus mengungkit luka lama, bapak yang banal dan ibu yang dianggap lacur.

Tapi pagi, tidak seperti biasanya, bapak terlihat buru-buru pergi ke sawah. Ia tak sempat menikmati secangkir kopi buatan ibu karena tak cukup waktu, katanya. Sarapan ditinggal begitu saja, sebab gerimis mulai berduyun-duyun datang dan langit menghitam dengan cepat. Bapak harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum gerimis berubah menjadi hujan deras. Kepergian bapak yang begitu tergesa dan kopi dingin menjadi pertanda yang membuat ibu murung beberapa jam. Sampai suara yang memekakkan telinga itu membuat semua orang di sawah terduduk lesu, kaki-kaki mereka gemetar dan beberapa hilang kesadaran. Bapak yang ada di tengah sawah tak sempat menepi. Seorang yang masih sadar melihat petir terakhir, dengan lengking yang lebih mengerikan, menyambar tubuh bapak yang masih memegang cangkul. Bapak, dengan dada gosong dan tubuh pucat membiru dibopong ke depan rumah diiringi rimbun gerimis dan tangis ibu.

“Ini akan jadi lebaran pertama tanpa bapak, Bu. Widuri rindu sekali dengan bapak. Andai bapak tidak ke sawah.”

“Habiskan saja makananmu.”

“Ibu ini, apa sudah benar-benar melupakan bapak?”

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

“Siapa lagi yang bunting di luar nikah?”

“Pasti anaknya bandar itu? Si Suwandi kan anaknya juga tidak beres.”

“Bukannya anak itu jadi guru ngaji?”

 “Memang guru ngaji tidak bisa bunting duluan?”

Dalam hati, aku muak. Tapi aku belum berhasil menemukan cara jitu mencuci otak mereka, membersihkan kepala orang-orang yang tidak pernah bosan menjadikan aku dan masa lalu bapak ibu, menjadi bumbu penyedap obrolan mereka. Bapak –cerita orang yang otaknya tak pernah berhasil kucuci– dulu adalah anak laki-laki yang perangainya menjadi idaman orang-orang tua di kampung. Ia menjadi Yusuf yang dicita-citakan seperti satu dari sekian manusia pilihan Tuhan. Sehingga Suwandi kecil lebih sering dipanggil Yusuf daripada nama yang sejak awal bercokol di akta kelahirannya. Tapi siapa bisa menyangka takdir-takdir yang ditetapkan Tuhan pada anak manusia? Paman-paman bapak jauh lebih bengal, berhasil berkontribusi lebih banyak pada tumbuh kembang bapak daripada bapaknya sendiri.

Sedang ibu, seperti yang dibisikkan orang-orang di balik kamar masing-masing adalah mata yang berbahaya dipandang. Ia adalah laut bebas dan dalam. Sumur tua yang menyimpan banyak sejarah lebih pekat, petarung, pengembara, dan manusia yang punya banyak nyawa. Ia adalah malaikat dan kegelapan, sebelum sedia memberi bantuan pada bapak dengan janji seumur hidupnya. Ibu yang mengantar bapak pada pertaubatan pertama. Di hadapan dua bola mata yang nanar itu bapak bersimpuh, setengah sadar. Lima timba dini hari, berhasil membuat tubuh bapak menggigil, beku. Dan di saat yang sama ibu memulai pertaubatannya.

“Aku menyeretnya keluar rumah waktu bapakmu hendak mengulangi kegilaannya.”

“Ibu membenci bapak?”

“Sudah berapa kali Ibu bilang, demi apapun yang terjadi, percayalah Ibu masih mencintai bapakmu.”

“Tapi kenapa barang sekali saja, ibu tidak pernah berusaha mengingat bapak?”

“Nduk, Bapakmu selalu memegang cangkirnya. Lagipula, kita mesti terus melanjutkan hidup, dengan atau tanpa laki-laki yang kita cintai.”

Ibu menjelma perempuan yang begitu polos. Diukur karena tidak pernah menikmati kopi dengan cara seduh yang rumit. Kecintaannya hanya robusta yang disiram air panas dan sedikit tambahan gula. Ibu tak mengenal nama-nama kopi, apalagi menakar agar sajiannya ideal. Perjalanan cintanya cukup memperkenalkan ibu dengan robusta dari Merapi. Selang  35 tahun, hanya itu yang ia dapat selama hidup bersama bapak.

Ia hanya tahu pahit tidak akan terlalu pahit ketika dicecap, ia hanya akan menambahkan gula sesuai takaran, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sebab ibu tahu, meski robusta dengan banyak gula tidak akan nyaman diminum bersama bapak. Dan sampai saat ini, ibu tak bisa sedetik pun terpisah dengannya. Setidaknya harus ada setengah sendok teh penuh menemani cangkir-cangkirnya. Bahkan setelah bapak menyudahi jamuan minum kopinya, dua cangkir itu masih dihidangkan ibu. Hanya saja, tak pernah ada percakapan dan rona yang terus terang.

“Kita harus membersihkan kutukan orang-orang atasmu dan atas diri ibu.”

“Bagaimana caranya, Bu? Mencuci otak mereka? Mustahil.”

“Dengan melanjutkan hidup kita hari ini dan setiap hari. Jangan menoleh ke belakang dan jangan lagi meratapinya. Ayo, kita nikmati saja kopi ini.”

Secangkir kopi milik ibu adalah ingatan yang sepenuhnya tentang bapak. Secangkir yang lain adalah masa di mana ibu harus menghidupiku dan menghilangkan kutukan orang-orang yang menganggapku perempuan bengal. Betapa mengerikan menjadi janda seorang mantan bandar, tak bisa memilih nasib baik untuk diri sendiri dan anak semata wayangnya.***


Rizka Hidayatul Umami, Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyukai sastra dan isu-isu perempuan. Email: rizkatacin@gmail.com

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *