Cerpen

Seekor Kucing Titipan

May 4, 2021

Cerpen Ramli Lahaping

Aku tak pernah menduga bahwa kita akan bersama sebagai sepasang kekasih. Aku sama sekali tak punya perasaan spesial kepadamu di awal kebersamaan kita. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Apalagi, dahulu, kau hanyalah teman dekat seorang perempuan yang menarik perhatianku. Sebab itulah, kau cuma kuanggap sebagai perantara untuk mendekatkan diriku kepadanya.

Tetapi jalan buntu kemudian memupuskan harapanku terhadap teman dekatmu itu. Setelah sekian lama aku menyusun rencana dan menjejaki jalan hatiku, ternyata ia malah jatuh ke dalam buaian lelaki lain. Sampai akhirnya, aku mesti berurusan dengan perasaan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku harus meredam deru perasaan yang selama ini kupendam terhadapnya.

Namun keseringan bersamamu, ternyata membuatku terjerat dalam perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa menemukan lahan baru untuk benih cintaku yang tak sempat kusemai di hatinya. Dan kurasa, perasaan itu bukanlah bentuk pelarian semata. Pasalnya, aku merasa semakin nyaman saja bersamamu, dan perasaanku kepadanya perlahan-lahan memudar.

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Entah bagaimana perasaanmu kalau tahu bahwa engkau hanyalah ketersesatan yang menyelamatkanku, seumpama cinta kedua setelah aku kalah atas cinta pertama. Barangkali kau akan kesal dan meragukan kesungguhan cintaku yang tumbuh secara perlahan dan semakin menguat. Tetapi kau memang tidak akan pernah tahu, sebab aku akan merahasiakan soal itu selamanya, sehingga kau tetap merasa sebagai yang pertama dan utama di dalam hatiku.

Akhirnya, di balik rahasiaku dan ketidaktahuanmu, hubungan kita berjalan baik-baik saja, seolah-olah kebersamaan kita adalah wujud dari rencana harapan kita sedari awal. Kita menjalani hari-hari yang menggembirakan. Kita terus berusaha untuk saling menyenangkan. Segala hal yang menjadi kepentinganmu, akan menjadi kepentinganku juga. Begitu pun sebaliknya.

Sampai akhirnya, empat belas hari yang lalu, kau pun bertandang ke kos-kosanku, sembari membawa seekor kucing kesayanganmu yang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. “Aku ingin pulang ke kampungku. Aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan menikah. Aku harus hadir,” terangmu kemudian, sembari mengusap-usap peliharaanmu itu.

Kita lantas duduk bersampingan di teras depan kamar indekosku.

“Apa kau akan lama?” tanyaku, sembari berharap kau hanya sebentar.

Kau menggeleng pelan. “Aku akan kembali ke sini secepatnya,” jawabmu, lantas menyerahkan kucing itu kepadaku. “Tolong jaga dia baik-baik,” pintamu, dengan raut wajah yang redup, seperti menyiratkan keengganan untuk berpisah lama-lama dengannya, ataupun denganku.

Aku lalu mengangguk keras. Berusaha meyakinkanmu. “Aku janji, ia akan baik-baik saja bersamaku.”

Kau pun tersenyum singkat. Tampak memercayaiku sepenuhnya.

Aku balas tersenyum.

Lantas dengan sikap tenang, kau kembali mengelus-elus kepala kucing yang telah berada di dalam dekapanku itu. Kau tampak begitu menyayanginya. Hingga akhirnya, kau mengutarakan tafsiranmu atas hakikat keberadaan kucing, “Kau tahu, kucing adalah makluk yang ajaib. Setiap orang yang hatinya penuh dengan cinta, pasti akan cinta pula pada kucing. Karena itulah, kucing bisa menyatukan cinta orang-orang yang saling mencintai,” katamu dengan raut sayu.

Aku tertawa pendek menyaksikan kemanjaanmu.

Dan akhirnya, hari itu juga, sebuah kapal membawamu ke pulau seberang, ke tanah kelahiranmu.

Sebagai kekasih, aku pun berjuang menjaga kucingmu demi hubungan kita. Aku berusaha memastikan bahwa ia baik-baik saja, sampai aku menyerahkannya kembali kepadamu. Aku berupaya memperlakukannya sebagaimana kau memperlakukannya. Karena itu, di dalam kamar indekosku yang sempit, aku menyediakan tempat tidur sesukanya, makanan sepuasnya, dan belaian-belaian yang manja.

Tetapi aku hanya bertahan selama dua hari untuk memperlakukannya sebagai raja. Aku jadi tak sanggup juga menanggung beban atas air kencing dan tahinya yang menyebar sembarangan di dalam kamarku. Sampai akhirnya, aku mulai melepaskannya untuk menjelajah di sekitar lingkungan kos-kosanku, sembari terus memantau dan membatasi pergerakannya agar tidak pergi terlalu jauh.

Namun kekhawatiranku atas keadaan kucingmu di lingkungan luar, perlahan-lahan memudar. Pasalnya, aku menyaksikan bahwa ia telah mengenali kamarku sebagai tempatnya untuk pulang. Setiap saat, setelah ia menjelajah entah ke mana, ia akan kembali ke dalam kamarku dengan sendirinya, tanpa perlu kupanggil dan kubujuk-bujuk lagi.

Pada hari-hari kemudian, aku pun memperlakukan sepatutnya saja, sebagaimana seharusnya memelihara binatang. Aku membebaskannya bermain di dalam kamarku, tetapi juga membiarkannya menjelajah sesuka hati. Aku menyisakan bagian dari makananku untuknya, tetapi juga membiarkannya mencari makanan semaunya sendiri.

Atas kebebasan yang kuberikan, bebanku atas pemeliharaan kucing itu semakin berkurang.Aku tak perlu lagi repot-repot untuk memanjakan kemalasannya, menyediakan makanan pokoknya, atau mengurus kotorannya. Ia telah beradaptasi dengan lingkungan dan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri.

Namun pada waktu kemudian, aku mulai mendengar keluhan penghuni rumah di sekitar kos-kosanku atas ulah para kucing. Mereka kesal pada kucing yang kerap menggarong isi meja makan mereka, membuang kotoran secara serampangan di lingkungan mereka, atau berkelahi dengan kucing-kucing peliharaan mereka. Dan setelah kucermati dan kutilik baik-baik, aku pun tahu bahwa kucingmu adalah salah satu kucing paling berandal yang mereka kutuki.

Tetapi sialnya, permasalahan yang harus kutanggung atas tingkah laku kucingmu itu, sepertinya masih akan berkepanjangan. Pasalnya, kau tak juga datang dari kampung halamanmu. Kau bahkan tak menjanjikan rencana waktu kepulanganmu kepadaku. Sampai akhirnya, di tengah ketidakpastian atas kedatanganmu, sejak tujuh hari yang lalu, kau tak lagi menjawab panggilan teleponku, atau sekadar membalas pesanku.

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tak bisa memahami kenyataanmu. Awalnya, kukira, kau akan pulang dengan sendirinya, dalam beberapa hari saja, seperti yang engkau janjikan. Atau setidaknya, dalam keberadaanmu yang tanpa kabar itu, kau akan pulang lima hari yang lalu, di hari ulang tahunku, dan memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, seperti yang kubayang-bayangkan.

Atas kepergianmu yang entah sampai kapan, aku pun kelimpungan menghadapi perkara kucing kesayanganmu. Hari demi hari, aku terus mendengar kekesalan warga atas kenakalan para kucing. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyebut ciri-ciri dan menuding kucingmu sebagai pelaku kekacauan, sampai aku khawatir kalau-kalau mereka tahu bila akulah yang merumahkan kucingmu itu.

Hingga akhirnya, di tengah kerisauanku, kucingmu pun melakukan tindakan yang sungguh mengkhawatirkan. Sebuah tindakan yang sangat mungkin membuat hubungan baikku dengan para tetangga jadi bermasalah. Pasalnya, tiba-tiba saja,dua hari yang lalu, ia masuk ke dalam kamarku, sembari membawa seekor ikan hias dengan cengkeraman giginya. Seekor ikan yang kutaksir berharga mahal.

Seketika juga, aku jadi kelabakan. Aku dilema, di antara mengurungnya kembali di kamar, atau tetap membebaskannya untuk sekalian menuai buah dari tindakannya sendiri. Tetapi setelah mengingat-ingat janjiku kepadamu, dengan berat hati, aku putuskan mengurungnya kembali, demi menyelamatkannya dari bahaya, sekaligus menghindarkanku dari masalah.

Untuk menyamarkan statusku sebagai wali kucingmu dari pembacaan tetangga, aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka. Kuharap, dengan begitu, mereka tidak sampai mencurigaiku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku setelah mereka tahu kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi, sebagai seorang pendatang yang hadir di lingkungan mereka hanya untuk kepentingan kuliah, aku sungguh tidak ingin dicap buruk.

Sampai akhirnya, kemarin, saat hari sudah sore, aku pun bertamu pada seorang warga yang tinggal seorang diri di rumah pribadinya yang berada di serong kanan depan bangunan indekosku. Aku menghampirinya setelah ia tampak murung saja di halaman depan rumahnya yang kerap menjadi tempat para kucing membuang hajat. Ia seperti masih sangat berkabung sejak kepulangannya dari pulau seberang untuk menghadiri pemakaman wanita yang hendak ia nikahi, setelah wanita itu meninggal akibat kecelakaan kapal tujuh hari yang lalu, sepulang dari kampung halamannya menuju kota ini, sebagaimana informasi yang kudengar dari warga yang lain.

“Aku turut berdukacita atas apa yang telah terjadi,” tuturku, sendu, setelah basa-basi yang singkat, sembari berharap ia lekas berdamai dengan kenyataannya.

“Terima kasih,” balasnya, begitu saja, lantas melayangkan senyuman simpul.

Aku lalu berusaha meramu kata-kata balasan. Aku tak ingin kami duduk bersampingan di dalam suasana yang hening. “Sabar, Kak,” tuturku kemudian, dengan sapaan sebagaimana biasa aku menyapanya.“Semua kejadian, ada hikmah dan tujuannya. Aku yakin, Kakak akan mendapatkan takdir jodoh yang lebih baik.”

Ia pun lekas mendengkus, kemudian menggeleng. “Aku tidak yakin, Dik. Kurasa, dia adalah cinta pertama dan utama bagiku. Aku ragu bisa mendapatkan perempuan sebaik dirinya, apalagi yang lebih baik daripada dirinya.”

Aku lantas menelan ludahku dengan perasaan bersalah kalau-kalau aku telah mengucapkan harapan yang tidak tepat dan tidak menyenangkan baginya. Sampai akhirnya, aku jadi kebingungan meramu kalimat tanggapan selanjutnya.

Tetapi untungnya, ia lekas menimpali, “Kau tahu, dahulu, aku telah berjuang keras untuk menaklukkan hatinya dari lelaki lain. Tetapi setelah aku berhasil, takdir nyawanya malah sampai sebelum aku benar-benar mencintainya dengan cara yang pantas.”

“Sabar, Kak,” tanggapku sekenanya.

Ia balas dengan senyuman singkat, lantas bergeming saja. Ia tampak kembali larut dalam menungannya.

Kami pun saling mendiamkan.

Sampai akhirnya, ia bertutur lagi, “Dan kesedihanku pun semakin bertambah, setelah aku menjumpai bahwa ikan hias yang ia hadiahkan untukku, telah lenyap entah bagaimana.”

Aku tersentak lantas bertanya dengan sikap yang lugu, seolah-olah kenyataan itu tidak akan ada hubungannya dengan kebengalan kucingmu, “Apa yang terjadi dengan ikan hias itu?”

“Entahlah,” katanya, dengan nada lemah. “Setibanya di rumah, aku hanya menemukan stoples akuariumnya pecah berserakan, dan ikan hiasan itu hilang entah ke mana.”

Aku pun terenyuh dengan perasaan bersalah, sebab aku yakin kalau kejadian itu ada hubungannya dengan tindakan kucingmu sehari sebelumnya.

“Aku dengar-dengar dari warga, di lingkungan ini, memang ada kucing pendatang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Mereka menduga kucing nakal itulah yang memangsa ikan hiasku,” terangnya kemudian.

Seketika, rasa bersalahku berbalut kecemasan dan kekhawatiran. Aku hanya kuasa mengangguk-angguk bodoh dengan perasaan yang kacau.

Sampai akhirnya, setelah basa-basi penutup, aku lantas beranjak ke dalam lingkungan indekosku. Seiring langkah, aku terus menimbang-nimbang perihal tindakan apa yang seharusnya kulakukan terhadap kucing kesayanganmu itu, sebab aku sungguh tak ingin berada di dalam masalah dengan warga.

Tetapi setelah aku berada di depan kamar, aku malah menjumpai bahan pikiran yang baru. Aku melihat lengkungan perak di atas kusen pintu yang entah kapan adanya. Dan akhirnya aku tahu bahwa benda itu adalah gelang yang pernah kuhadiahku untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Maka seketika pula, aku pun semakin bertanya-tanya tentang arti kepulanganmu.

Perlahan-lahan, perkiraan-perkiraan pun bermunculan di dalam benakku tanpa kendali. Aku menduga bahwa keberadaan gelang itu ada hubungannya dengan kepulanganmu yang tanpa kabar. Aku menaksir, kau sengaja pulang untuk meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku mulai meyakini bahwa kepulanganmu bukanlah untuk menghadiri pernikahan sepupumu, tetapi untuk menghadiri pernikahanmu sendiri.

Akhirnya, atas tafsiran yang berdasar, aku membulatkan tekad mengeluarkan kucing kesayanganmu dari kamarku. Aku sudah muak dan kehabisan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karenanya. Pada malam hari, aku memasukkannya ke dalam karung, membawa dan membuangnya di gerbang utama jalan, tanpa peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepadanya.

Waktu demi waktu bergulir. Kekalutanku atas keberadaan kucingmu semakin mereda. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan warga akan mengetahui peranku dan menyalahkanku akibat tindakan-tindakannya. Pun, aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengurusnya demi dirimu, sebab engkau telah meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai akhirnya, pagi ini, ketika aku hanya ingin berbaring di kasur dan tak ingin lagi menjalani hari dengan kenyataan yang memilukan atas dirimu, tiba-tiba, aku mendengar ketukan di daun pintu kamar. Dengan perasaan malas, aku bangkit dari pembaringan, mengayun langkah untuk menyelesaikan ganguan itu selekas mungkin, agar aku dapat segera kembali mengkhidmati dan meredakan kegalauanku sendiri.

Dan setelah menyibak daun pintu, tanpa kuduga, aku pun menemukan dirinya, teman baikmu yang pernah kuidam-idamkan, yang seketika menampakkan senyuman yang begitu manis. “Kucingmu,” katanya, sambil menyodorkan kucing putih dengan bercak-bercak hitam itu.

Aku pun menyambut sodorannya dengan penuh keterkejutan dan keheranan.

“Aku menemukannya di depan kos-kosanku,” terangnya, lantas menunduk dengan senyuman simpul.

Aku lantas menyadarkan diri untuk memberi respons, “Terima kasih.”

Ia pun mengangguk pelan, kemudian berbalik dan melangkah pergi.**


Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter: @ramli_eksepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *