Cerpen

Sejak Ishak Ditangkap

March 26, 2019

Cerpen Jeli Manalu

Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik itu.

Aku menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya, namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya. Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip. Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku, “jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari kisi jendela kutatap ia sampai yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham tempat pengasingan itu, segera kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan rumahnya kutempati selama Ishak bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja aku kakakmu.” Tapi karena pola pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah. Aku melepas baju seseorang itu kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan yang tak menjerit bila ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak diketahui banyak orang, seperti yang pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai tajam—tak tahu bagaimana aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku melihat ‘ular’ besar yang lewat namun cuek-cuek saja.

Setelah si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak ada cahaya aku berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku. Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka. “Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin ia tumpahkan sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan rumah yang amat berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan kesayangan Ishak pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo! Sam!”

Replika senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir. Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil dari arah kamar mandi.

Kudobrak pintu itu. Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku. Pakaiannya basah. Rambutnya basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah. Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi anak gadisku itu.

“Abang …,” suara Elis bergetar.

“Kenapa Abang?”

“Abang dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah sangat sakit, Nak?”

“Apa Mama masih hidup?”

Aku mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga mereka ke dadaku.

“Tapi papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi gubernur. Kubawa jasad Ishak ke hadapannya. Para wartawan merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya dalam catatan sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan ingatan akan wajah keluargaku. Kata orang-orang itu, aku menghilangkan nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu? **

Riau, Maret 2016-2019


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *