Buku Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

October 15, 2019

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *