Cerpen

Selubung Sihir Mantra

April 19, 2022

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.