Cerpen

Senja di Pont Des Arts

September 17, 2019

Cerpen Candrika Adhiyasa

            Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian. Kemudian kita membangun surga di kehidupan ini bersama-sama, membangun singgasana megah yang boleh jadi terlihat sederhana. Dengan beberapa bunga, pohon mangga yang remaja, dan beberapa helai rumput yang tumbuh dari sela-sela batuan. Saban pagi, tiap helai daun dan reranting yang gugur di beranda rumah kita selalu kausapu dengan jeli—tiada tersisa di antara bunga kamboja merah muda yang merdeka mewarnai ruang sekehendaknya. Kau sangat menyukai ikan koi yang bergumul ke sana kemari mencari penghidupan di kolam kecil yang ada di sebelah barat taman kita. Dengan senyum tipis yang begitu manja, kau acapkali mencoba berdialog dengan mereka meski kadang-kadang tak mendapat jawaban dalam bentuk apapun.

            “Lemparkan kunci ini ke kolam itu!” pintamu seusai mengunci gembok berwarna perak itu di tepi pagar rumah kita.

            “Ini ‘kan bukan di Perancis.”

            “Memangnya kenapa kalau bukan di Perancis? Bukankah harapan bisa kita tanam di mana pun?”

            Aku hanya tersenyum menanggapi keinginanmu. Kau kadang-kadang begitu konyol, tetapi itu yang aku suka darimu—kesahajaanmu dalam menjalani hidup. Kau barangkali terobsesi dengan mitos yang ada di jembatan Pont des Arts yang berada di sepanjang sungai Seine di samping museum Louvre itu. Aku tentu tidak bisa menolaknya, apalagi ketika kau menunjukkan wajahmu yang cemberut itu—seakan-akan dalam kamus bahasaku hanya bisa kutemukan kata ‘ya’. Maka aku lemparkan kunci yang kauberikan ke kolam di taman kita. Beberapa ikan koi terlihat berpencar karena kaget. Permukaan kolam melahirkan riak kecil yang susul-menyusul. Kau memejamkan mata dan tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Kosakata ‘bahagia’ seketika telah menemukan maknanya. Gembok berwarna perak yang sedari tadi menggantung di tepi pagar itu kautatap dengan penuh harap. Ah, rupanya benda apa pun bisa menjadi indah apabila kita memaknainya, tak terkecuali sebongkah besi yang dibentuk menjadi benda bernama gembok ini.

            Cinta yang abadi selalu menjadi topik pilihanmu dalam setiap perbincangan kita sejak muda. Mungkin jawabanku yang asal-asalan ketika itu secara kebetulan sesuai dengan jawaban yang kauharapkan—yang tidak kaudapatkan dari mulut lelaki mana pun. Dahulu aku pernah berkata, bahwa cinta yang abadi adalah suatu kepastian. Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka akan hidup abadi.

            Sekian puluh tahun sudah setelah kunci gembok itu aku lemparkan ke kolam di taman kita, rambutmu yang dahulu panjang hitam terurai, kini hampir sepenuhnya memutih. Wajah bayi-bayi menggemaskan yang dulu sering kautunjukkan padaku di galeri handphonemu, kini sudah lahir ke dunia dan menjadi dewasa. Kau dahulu berharap memiliki tiga bayi yang menggemaskan dan bisa menghapus segala lelah setelah membanting tulang mencari penghidupan. Kini harapanmu terwujud sudah. Mereka telah lahir ke dunia dan mengalami apa yang dinamakan kasmaran—seperti kita. Mereka juga telah sama-sama berkeluarga—mengurai benang kusut kehidupan dengan fondasi kasih sayang. Rupanya waktu telah memelihara mereka hingga tumbuh menjadi pelaut ulung yang siap mengarungi samudera kehidupan. Kini kita hanya tinggal berdua di istana surga yang selama ini dengan sabar menampung mimpi-mimpi kita.

            Di beranda rumah, kita sama menikmati siang yang hendak bermetamorfosis menjadi sore. Tentu akan kita saksikan pula lukisan Tuhan yang berwarna jingga di ufuk barat kesukaanmu itu. Kau, seperti biasanya, akan takjub dan memendam kata-kata sehingga satu-satunya jalan kaluar bagi mereka adalah melalui bola matamu. Setiap hari, kita selalu mencoba mencatat kelahiran dan kematian waktu melaluinya. Namun, kita tak pernah sadar bahwa sebenarnya kita tengah mencoba mencatat kelahiran dan kematian kita sendiri.

            “Apakah cinta abadi?” ucapmu sembari menatap matahari yang tenggelam hampir sempurna.

            “Tentu saja,” jawabku singkat.

            Kau menoleh ke arahku. Koran lama yang sedari tadi kubaca kini kalah menarik oleh matamu. “Sinar di kedua bola matamu tak pernah meredup, Sayang. Karenanya aku percaya, bahwa cinta memang benar-benar abadi.” Senja yang saban hari kaunikmati itu kini gugur di kelopak matamu. Senyum yang terbit dari bibirmu terasa begitu hangat, sehangat nuansa yang dihidangkan hari yang menjelang peristirahatannya, atau barangkali, kematiannya. Kita tentu akan mati pula, Sayang, dan hal itu memang lazim dikhawatirkan semua orang di usia kita saat ini. Tetapi, Qays dan Laila, yang menurutku tidak seberuntung kita karena sempat bercinta di dunia ini, tetap akan mengecap nikmatnya hakikat cinta yang abadi itu di mana pun, bahkan di luar kehidupan ini. Bunga kamboja yang dahulu selalu bermekaran, kini benar-benar hilang ditelan masa. Namun, bukankah kita selalu mampu mengingat warnanya ketika ia mekar meski kini telah tiada? Tiada yang benar-benar bisa luput dari ingatan, apalagi jika sesuatu itu teramat berharga. Ikan-ikan koi yang senantiasa kauajak berdialog tempo hari, kini mungkin sudah berenang di sungai surga yang mengalir begitu damai. Kolam itu telah lama kering. Pernah beberapa kali aku coba mencari kunci yang tenggelam sekian lama di dasarnya, tentu bukan untuk membuka gembok yang telah berkarat diterpa angin dan hujan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah ia masih ada atau tidak. Tetapi yang bisa kutemukan hanyalah kerakal-kerakal dan semak-semak yang kian semerawut memenuhidasar kolam yang mulai retak-retak. Kau barangkali tak tahu bahwa meskipun aku sudah agak pelupa, aku seringkali tiba-tiba mengingatnya ketika hendak tidur di kamar kita yang mulai sepi ini. Kunci itu memang tak pernah kutemukan, tetapi bukan berarti ia tak ada. Ia barangkali telah menyatu dengan tanah, yang artinya, telah melebur dengan kehidupan ini.

            Di hari-hari berikutnya, kau seringkali menatap langit dengan pandangan yang kosong. Tak kudengar lagi pertanyaanmu tentang cinta yang abadi itu. Apakah kau sudah bosan bertanya atau apa, aku tak terlalu paham. Namun yang kuyakini, mungkin kau sudah dengan utuh memahaminya setelah jutaan kali kautanyakan padaku. Pandanganku semakin kabur kali ini, Sayang. Kacamata sudah hampir tak bisa membantuku melihat sesuatu dengan jelas. Wajahmu … tentu saja, selalu mampu kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam pikiranku, kau selalu tampak selalu cantik seperti kali pertama kita jatuh cinta.

            Ketahuilah, Sayang. Gembok itu masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Aku bahkan hampir percaya pada apa yang kaututurkan tentang Pont des Arts yang mampu mengabadikan cinta melalui ritus serupa. Sayang sekali aku tak bisa mengajakmu menikmati senja di sana. Aku tak pernah benar-benar yakin alasan apa yang membuatku tak bisa membawamu ke sebuah tempat yang barangkali sudah kaunamai sebagai surga itu selain rumah kita. Cinta ini begitu panjang, namun usia, oh, pendek sekali. Kaubilang bahwa keindahan hanya akan hidup sekejap, seperti senja. Namun, kau kembali berusaha untuk yakin bahwa keindahan bisa jadi pula abadi, tidak lepas, seperti gembok yang kehilangan kuncinya. Meski aku sempat menolak untuk percaya pada yang kaukatakan tentang Pont des Arts, tanpa kusadari, ternyata secara diam-diam aku berharap mampu memercayainya.

            Pada suatu siang, tiga anak kita telah pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya, tepatnya menemuimu. Rindu memang acapkali gemuruh ketika hendak diredam. Kita memang seringkali munafik pada perasaan kita sendiri. Lucu, bukan? Tiga bayi menggemaskan yang sudah mendewasa itu akhirnya bekumpul di rumah ini lagi, seperti dahulu kala. Namun yang mengherankan adalah, mereka semua menangis. Aku tak memahami apa yang mereka tangisi, Sayang. Barangkali penyebabnya adalah kapas yang menutup lubang hidung dan telingamu. Mereka bilang kau telah meninggalkan kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin tertawa, Sayang. Aku ternyata lupa mengajari mereka sesuatu yang paling sering kita bicarakan. Bukan tentang senja. Aku tak pernah mau menanggapi keyakinanmu yang akhirnya kaukhianati sendiri. Tetapi tentang cinta yang abadi. Barangkali, setelah tak bernapasnya engkau, aku akan mengajak mereka ke Perancis untuk melihat gembok-gembok yang berjejer di tepi pagar kawat jembatan Pont des Arts. Aku harus mengajari mereka secara langsung mengenai ini. Kau setuju, bukan? Tidak … tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Kau terlihat sudah begitu lelah. Beristirahatlah lebih dulu. Biarkan aku yang mengusap air mata anak-anak kita. Besok kami akan mengantarmu menuju rumah yang lebih indah. Tidak apa-apa. Tidak perlu menyesal. Rumah ini, yang sekian lama telah melindungi kita dari keputusasaan, memang akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah kita yang sejati berada di kehidupan yang lain. Kau pergilah lebih dulu, Sayang. Aku akan segera menyusul. Masih ada saat-saat bagiku untuk merenungi beberapa hal yang sebelumnya tak sempat aku lakukan ketika berada di dekatmu. Bagaimana tidak, bola matamu selalu mampu memenuhi ruang pikiranku.

            Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka pasti hidup abadi. Bukankah itu yang kita percayai? Kefanaan senja adalah raga kita, Sayang, dan cinta adalah apa yang semayam di dalam ruh keabadian.

Setelah mengantarmu ke rumah baru kita, aku akan duduk kembali di kursi beranda rumah ini. Aku, tentu saja, akan berusaha mengamati—meski dengan pandangan yang telah kabur—sisa-sisa kenangan dari warna bunga kamboja, daun-daun dan reranting yang berserakan di halaman rumah, pohon mangga yang kian mendewasa dan hendak berbuah, kolam yang telah kering bersama fosil ikan-ikan koi, dan juga gembok yang masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Dan kau tahu, Sayang? Kini senja telah samar-samar menghitam. Barangkali untuk terakhir kalinya. Aku akan segera berbaring di sampingmu, untuk menikmati kehidupan indah tempat kita benar-benar bisa memahami cinta yang abadi.***

Tasikmalaya, 9 Juni 2018. 03.18 WIB


Candrika Adhiyasa, lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 14 Desember 1996. Ia telah menulis beberapa novel seperti Gurattala (Penerbit Gemala, 2018) serta beberapa buku kumpulan puisi seperti Kenapa Rumahku Kian Sunyi (Bangusastra, 2018). Selain itu, ia kerap menulis cerpen dan esai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *