Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

March 17, 2020

Cerpen Tjak S. Parlan

Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’

Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api yang terbakar di langit. Dalam amarah yang nyaris tidak tertanggungkan, dia masih sempat mengingat apa yang pernah disampaikan oleh kawan lamanya itu.

Namun ada ingatan lain—dan ini jenis ingatan yang begitu kuat— yang membuatnya berubah pikiran. Pada sebuah dini hari, dia pernah dipaksa bertekuk lutut di rumah kontrakannya. Seorang laki-laki berotot yang hanya mengenakan cawat dan menutupi wajahnya dengan topeng, menodongkan linggis tepat di ujung lehernya. Sementara, dua orang lainnya—yang juga bertopeng, hanya mengenakan cawat, dan masing-masing bersenjatakan parang—menguras habis barang-barang miliknya. Tidak banyak yang dia miliki: sebuah TV LED, DVD player, dan dua buah gawai. Darahnya terasa mendidih mengingat foto-foto anaknya yang baru berusia satu tahun tersimpan dalam memory card yang melekat pada kedua gawai itu. Dia menyesal karena belum mengikuti saran istrinya untuk mencetak sejumlah foto keluarga. Dia berusaha melawan dan hampir tidak terkendali. Namun dia harus memilih ketika laki-laki berotot yang keringatnya menguarkan bau amis itu mengancamnya agar tetap diam jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya. Istrinya berada di kamar dengan tubuh gemetar, berusaha menyusui anaknya yang menangis. Selepas para garong itu pergi, dia berharap bisa membeli senjata api dan bersumpah akan menembak siapa saja yang menyatroni tempat tinggalnya. Namun, rupanya itu mimpi sial belaka. Sudah dua tahun sejak kejadian itu—dan dia harus pindah ke rumah petak yang semrawut dan sempit— dia bahkan belum bisa membeli sebuah televisi.

Pisau itu menghunjam sekali lagi, tapi kali ini tidak tepat sasaran. Fahmi Idris bisa merasakan ujung pisaunya hanya membentur tulang lengan yang keras. Sebuah erangan pendek terdengar dari sosok lawan. Tanpa dinyana sedikit pun, tiba-tiba sosok lawan itu bersujud di bawah lututnya dan meminta belas kasih.

“Tolong lepaskan! Ini saya. Maafkan saya. Tolong, saya hanya ikut-ikutan!” suara itu terdengar lirih dan tertahan.

Fahmi Idris segera menjambak kepala sosok yang sedang berlutut di depannya. Setelah menjambret masker yang menutupi sebagian wajahnya, Fahmi Idris terhenyak. Dalam remang cahaya lampu dia menemukan wajah yang dikenalinya.

“Bangsat kamu, Jen! Anjing sialan kamu! Bangsat sekali kamu!” Fahmi Idris memaki-maki.  

Jen alias Zaenal Arifin kembali menekuk tubuhnya, bersujud seraya memegangi kaki Fahmi Idris. Fahmi Idris menjadi tidak enak hati. Sekelebatan bayangan wajah Ahmad Saleh mampir dalam benaknya. Bagaimana mungkin sosok yang nyaris ingin dihabisinya itu adalah anak dari kawannya sendiri. Dia memang jarang bertemu dengan Jen. Tapi dia mengenalnya cukup baik. Bagaimanapun untuk urusan-urusan tertentu Fahmi Idris kerap berkunjung ke rumah Ahmad Saleh yang hanya dipisahkan sejumlah gang di permukiman yang padat itu. Dalam sejumlah kunjungannya, Fahmi Idris bertemu juga dengan Jen yang pendiam.

“Kamu butuh uang?” Fahmi Idris geram, berusaha menahan amarah. “Kamu baru nenggak apa, sampai-sampai mau mengambil barang seperti ini? Di tempat saya lagi. Kamu taruh di mana otakmu?”

Jen membisu. Sesekali saja, gerak tubuhnya seperti sedang menahan kesakitan. Tidak ingin amarahnya meledak, Fahmi Idris menghardik remaja belasan tahun itu agar cepat pergi dari hadapannya. Tanpa menunggu lebih lama, Jen pun bangkit. Sesekali langkahnya tersuruk, lalu menghilang di ujung gang.  

Selepas Jen pergi, Fahmi Idris menyalakan sebatang rokok. Dia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Hari itu, gerimis turun sejak sore dan dia terjebak di rumah seorang kawan. Dia tenang-tenang saja. Tidak sedang diburu waktu, tidak sedang ada yang menunggu. Istri dan anaknya pulang ke kampung halaman. Mereka telah sepakat, sementara Fahmi Idris berusaha mencari tempat tinggal baru yang lebih layak, anak-istrinya pulang ke rumah orang tuanya dulu. Secepatnya—mungkin awal tahun seperti janjinya—Fahmi Idris akan menjemput anak dan istrinya. Rencana sepertinya berjalan lancar. Fahmi Idris mendapatkan sebuah rumah kontrakan di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota. Bisa dicicil tiga kali dalam setahun. Setidaknya itu menurut informasi Ahmad Saleh. Untuk hal-hal semacam itu, reputasi Ahmad Saleh tidak perlu diragukan. Dia adalah jenis makelar yang bisa mencarikan apa saja bagi orang-orang yang membutuhkan, mulai dari rumah kontrakan hingga sepeda anak bekas. Seminggu yang lalu Fahmi Idris mendapatkan upah yang layak untuk pekerjaannya. Dia menyisihkan sejumlah uangnya untuk membeli sebuah sepeda anak beroda tiga. Bekas, tapi masih mulus. Masih layak untuk membuat anaknya bergembira ketika kembali ke tempat yang baru nanti. Dia mendapatkan harga khusus dari Ahmad Saleh. Meskipun begitu, sebagai seorang yang ahli membongkar-pasang segala sesuatu, Fahmi Idris tidak tinggal diam. Menjelang sore, sebelum pergi ke rumah seorang kawan, dia memeriksa kembali sepeda itu. Mencucinya dengan bersih, mengencangkan sejumlah baut yang kendor, memastikan semua baik-baik saja. Dia dihinggapi kehahagiaan yang meluap-luap hingga lupa memasukkan kembali sepeda itu ke dalam kamar kontrakan. Menjelang pukul dua belas malam dia tiba kembali di mulut gang menuju kamar kontrakannya. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya pun terjadi.

Dia begitu tenang berjalan memasuki gang buntu yang lengang itu. Gerimis sudah reda. Bau anyir-busuk dari got di sisi gang, membuat semua orang ingin bergegas ketika melewati gang itu. Tapi aroma uap anggur merahyang menguar dari mulutnya sedikit mengurangi efek bau tidak sedap. Orang-orang yang tinggal di ujung gang buntu itu lebih suka kongkow-kongkow di tempat lain. Kecuali mereka, satu-dua bandar kere yang bertransaksi sepoket dua poket ganja dengan para pemakai pemula. Dua hari sebelum malam tahun baru, tempat itu dibersihkan oleh aparat. Ada tiga bandar terciduk: ganja dua orang, sabu satu orang. Barangkali karena itulah, malam tahun baru tidak memberikan kemeriahan apapun, selain kilatan cahaya kembang api dan bunyi ledakannya yang sesekali dikirim dari tempat lain ke langit di atas gang buntu itu.

Menjelang ujung gang, dia berpapasan dengan dua orang. Ada yang terasa ganjil ketika dua orang itu menunduk berlagak sopan—hal yang tidak biasa terjadi di tempat itu. Apalagi setelah disadarinya bahwa salah satu di antaranya sedang memanggul sebuah sepeda anak beroda tiga. Spontan saja Fahmi Idris melayangkan tendangan sekeras-kerasnya. Sosok yang memanggul sepeda pun terjerambab, sementara yang satunya lari terbirit-birit. Fahmi Idris segera melolos sebilah pisau dari balik jaket jeans lusuhnya. Sejak peristiwa naas yang menimpanya dua tahun silam, kemana-mana dia selalu membawa pisau itu. Pisau dapur belaka, tidak begitu tajam, tapi cukup bisa diandalkan untuk melukai siapapun yang mengancam harga dirinya.

“Anak ingusan sialan!” dengus Fahmi Idris seraya menjinjing sepeda kecil itu dan membawanya kembali ke kamar kontrakannya.

***

Ketika Fahmi Idris akan memulai pekerjaannya, tuan rumah yang ramah itu—melalui seorang asisten rumah tangga—menyuguhkan segelas kopi. Tuan rumah itu seorang laki-laki tua berkacamata tebal. Dia duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah dan menceritakan sejumlah gangguan yang terjadi pada AC di rumahnya. Pagi itu dia telah menelepon Fahmi Idris untuk menggantikan tukang AC langganannya yang sedang libur. Dia berbicara seraya membuka halaman demi halaman sebuah surat kabar. Sesekali dia juga mengomentari berita yang sedang dibacanya.

“Kota ini sudah tidak nyaman lagi untuk tempat tinggal,” ujarnya. “Asli orang sini?”

“Saya datang dari pulau seberang,” jawab Fahmi Idris.

“Oh,” tanggap tuan rumah. “Bayangkan, sepagi ini sudah ada tiga berita mengenaskan.”

Fahmi Idris mendengarkan dengan saksama komentar-komentar tuan rumah. Dia mulai menebak, mungkin yang dimaksud adalah berita seputar kecelakaan. Biasanya memang seperti itu. Malam pergantian tahun selalu menyumbangkan angka kematian di jalanan.

“Seorang remaja ditemukan tewas di TPA Lingkar Selatan,” lanjut tuan rumah. “Luka tusuk di perut dan …”

Kalimat itu tidak bersambung. Tuan rumah berdiri seraya mengangkat gawainya yang bergetar di atas meja. Dia melangkah melewati pintu samping rumah, berbicara sebentar, lalu kembali untuk memberikan sejumlah instruksi kepada Fahmi Idris. “Oke, dimulai saja. Saya ada urusan sebentar,” ujarnya kemudian.

Fahmi Idris menyesap kopinya sekali lagi. Dia berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ketika memindahkan gelas kopinya ke atas meja, matanya tertuju pada sebuah halaman surat kabar yang terbuka. Dia membaca dalam hati sebuah judul berita: Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan. Berita itu menempati seperempat bagian halaman surat kabar. Sebuah foto hitam putih memperlihatkan dua orang petugas sedang mengusung kantong mayat di dekat sebuah mobil ambulance. Di sebelah kanan atas foto itu disisipkan sebuah inset fotoyang menampilkan wajah korban semasa hidup. Fahmi Idris gemetar menatap foto itu. Dia membaca keterangan foto dan menemukan sebuah nama yang sangat dikenalnya. Tidak percaya, Fahmi Idris mencoba menekuni foto itu sekali lagi. Dia bisa mengingat dengan jelas, wajah remaja itu pernah dilihatnya terpampang di dinding rumah Ahmad Saleh. Fahmi Idris menelusuri berita itu, kata demi kata hingga tuntas. Dia mengulang-ulang bagian yang menjelaskan luka di tubuh korban: Luka tusuk di perut bawah sebelah kiri.

“Mari, Pak. AC-nya di sebelah sini.”

Fahmi Idris bangkit dari kursi, mengekor asisten rumah tangga itu. Bulu kuduknya terasa merinding. Dia teringat kembali setiap rincian kejadian malam itu.

***

Ahmad Saleh kembali menuangkan anggur ke dalam gelas. Fahmi Idris berusaha mengimbangi, seraya mencari-cari waktu yang tepat untuk berpamitan. Sudah hampir Subuh, hawa kantuk pelan-pelan mengalahkan pengaruh anggur bikinan cap orang tua itu. Namun selepas menenggak bagiannya, Fahmi Idris tidak yakin dirinya benar-benar ingin pulang dan bisa memejamkan mata dengan tenang di kamarnya. Itu sudah lepas hari ketujuh sejak kematian Jen. Sejak itu pula Fahmi Idris jarang bisa tidur. Tubuhnya bisa saja rebah di kasur, tapi pikirannya keluyuran ke mana-mana.

“Saya tidak akan pernah membiarkan pembunuh anak saya hidup tenang,” ujar Ahmad Saleh selepas menenggak anggur berwarna kemerahan. “Coba bayangkan, ada dua luka tusuk di perutnya. Bagaimana rasanya sewaktu ujung pisau itu masuk ke sana? Bangsat benar!”

Fahmi Idris mengempaskan napasnya. Dia tidak tahu mesti bicara apa. Itu malam ke sekian Ahmad Saleh mengutuki sekaligus menyesali kematian anaknya. Fahmi Idris selalu menemaninya. Dia tidak bisa menghindar meski kehadirannya di dekat Ahmad Saleh selalu dirasakannya sebagai teror bagi dirinya sendiri. Namun malam itu tidak separah biasanya. Ahmad Saleh tidak lagi berteriak-teriak dan membuat geger seisi kampung. Dia tampak mulai bisa mengendalikan dirinya.

“Bukan hanya dua. Kalau kamu mau percaya, ada luka tusuk lainnya di bahu dan di dekat leher. Bangsat benar!” Ahmad Saleh terus mengoceh.

Fahmi Idris merasa tidak berdaya. Dia mengangkat botol yang masih terisi seperempat itu dan menuangkan penuh ke dalam gelasnya. Lalu tanpa berpikir panjang ia meneguknya seperti seseorang yang sedang minum air putih.

“Saya paham kamu pasti sangat kehilangan,” tanggap Fahmi Idris. “Tidak ada cara lain, pembunuhnya harus diadili.” 

“Sudah delapan hari,” sergah Ahmad Saleh, “dan polisi belum bisa menemukan apa-apa. Padahal, seorang kawan dekat anak itu pernah memberi keterangan kepada polisi, juga kepada saya, bahwa pada malam tahun baru, anak itu sempat terlihat keluar dari gang di sekitar tempat tinggalmu sana.”

Fakta bahwa Ahmad Saleh mengatakan hal semacam itu, membuat tubuh Fahmi Idris terasa meriang. Dia sudah sering teringat peristiwa pada malam tahun baru itu. Dia mencoba mengingat perinciannya sekali lagi, adegan demi adegan: dia menendang anak muda itu—anak muda itu terjerembab—dia merogoh pisau lalu menikamnya—sekali tikam, dua kali tikam—dia sempat ragu lalu menikamkan pisaunya sekali lagi—anak muda itu menangkisnya—anak muda itu menyerah, meminta dilepaskan—dia pun melepaskan Jen. Fahmi Idris tidak sempat memeriksa apakah ada bercak darah atau bau amis di ujung pisaunya. Seingatnya, Jen berjalan sedikit sempoyongan setelah itu. Apakah dua luka tusuk itu karena saya—Fahmi Idris membatin.

“Tidak mungkin,” gumamnya tiba-tiba.

“Apanya yang tidak mungkin? Apa maksudmu yang tidak mungkin itu? Anak saya ditemukan di tempat penampungan sampah!

Fahmi Idris terkaget, menyesali mulutnya yang tidak terkontrol. Nada bicara Ahmad Saleh meninggi. Fahmi Idris gelagapan menanggapinya.

“Tidak mungkin pembunuh Jen tidak tertangkap. Itu maksud saya.”

Ahmad Saleh kembali tenang. Fahmi Idris berusaha tenang. Dia menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. Sebelum menenggaknya, dia memberikan isyarat kepada Ahmad Saleh. Ahmad Saleh mengangkat gelasnya, lalu dua kawan dekat itu menenggak bagian masing-masing dalam waktu yang bersamaan.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau bajingan itu menyerahkan diri kepada polisi?”

Ahmad Saleh menyeringai. Lalu dengan gerakan yang tidak terduga oleh siapapun, dia menyambar botol anggur itu dan meghantamkannya keras-keras ke lantai ubin.

“Sebelum dipenjara, saya akan menghancurkan kepalanya seperti ini!”

Botol anggur itu pecah berkeping-keping. Sebagian yang terpenggal masih dalam genggaman Ahmad Saleh. Fahmi Idris tidak berkedip menatap ujung penggalan botol yang runcing itu. Dalam sekejap, jantungnya terasa seperti akan berhenti berdetak.***

Ampenan, 5 Januari 2020


Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017), feature perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *