Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

February 26, 2020

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: yosef.astono@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *