Buku Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

September 8, 2020

Oleh Zainul Arifin

Tak bisa dipungkiri uang menjadi bagian vital hidup kita. Kebutuhan sehari-hari yang semakin kompleks membuat transaksi barang dan jasa diandalkan pada konsep alat tukar yang dipercayai bersama. Efisiensi itu yang membuat sistem uang lebih diterima daripada sistem barter.

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Apabila terlintas dalam benak keingintahuan semacam itu, buku Yuval Noah Harari yang terbaru mungkin sekali dapat melegakan kehausan kuriositas tersebut. Buku tersebut berjudul Money.

Buku ini sebenarnya hasil ekstrak dari dua buku Harari sebelumnya, yakni Sapiens dan Homo Deus. Sehingga tak mengherankan buku Money ini tipis hanya 166 halaman, tidak setebal buku-buku Harari yang lain. Justru dengan demikian, tampaknya maksud dari proposal gagasan Harari selama ini menemukan titik tawarnya secara jelas.

Jalan pikirannya adalah Harari menganggap uang, imperium, dan agama sebagai tiga hal yang dapat menyatukan sekaligus mengeksploitasi manusia. Hal ini lebih detail terdapat dalam buku Sapiens bagian ‘penyatuan manusia’. Mengingat imperium telah runtuh, agama sebagai kekuasaan abad pertengahan juga runtuh, maka satu-satunya yang tersisa sebagai the real power adalah uang. Di titik itulah pembahasan tentang uang menjadi penting demi masa depan sapiens.

Penyatu dan Pemisah

“Hidup bagaikan dua sisi mata uang”. Peribahasa itu persis sebagaimana Harari melihat dampak uang terhadap manusia. Bahwa uang sebagai penyatu umat manusia, tetapi sekaligus sebagai pemisah manusia.

Sebagai penyatu umat manusia, uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan (Harari, 2020: 15). Sebab orang-orang bisa tidak memercayai Tuhan, agama maupun raja yang sama, tetapi mereka sama-sama memercayai uang. Misal Osama bin Laden begitu membenci Amerika Serikat, tetapi tetap menyukai dolar. Uang mampu menjembatani perbedaan ras, agama, budaya bahkan orang yang tak saling kenal sekalipun.

Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Kita menghasrati uang karena orang lain juga menghasratinya, bukan atas referensi materialnya. Lingkaran hasrat inilah yang bekerja.

Memang dalam sejarah, uang pertama kali berupa jelai, semacam biji-bijian. Yang menunjukkan inheren secara biologis jelai bisa dimakan. Namun dasarnya adalah konvertibilitas dan kepercayaan universal dari uang jelai tersebut. Lalu atas dasar efisiensi, uang koin dan kertas menggantikannya, bahkan hendak beranjak ke uang digital.

Dengan uang semua dapat dijualbelikan. Awalnya terdapat hal-hal yang tak berada dalam domain pasar, seperti cinta, moralitas, kehormatan maupun kemanusiaan. Sehingga tak dapat dijualbelikan dengan uang. Namun, uang selalu memiliki kemampuan menerobos hambatan nilai-nilai tersebut. Karena terdesak maupun kelaparan, maka pasar memberi penawaran.

Tak mengherankan ada orang tua tega menjual anaknya untuk jadi budak demi memberi makan anaknya yang lain. Atau pemeluk agama yang taat menjadi pembunuh lalu membeli pengampunan. Dari sini, kepercayaan pemersatu universal dari uang sesungguhnya tidak diinvestasikan pada manusia maupun nilai sakral, melainkan pada uang itu sendiri. Ketika semua bisa dikonversikan dalam pasar maka yang ada hanya hukum dingin permintaan dan penawaran. Sebuah pasar tanpa perasaan, sehingga tak mengherankan sejarah ekonomi manusia berisi sebuah tarian yang pelik (Harari, 2020: 27).

Sebagai pemisah, sisi gelap uang tak sampai di situ. Pada tahap lanjut, kapitalisme mendapat peran penting. Sejarah kapitalisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari revolusi saintifik, yakni pengakuan atas ketidaktahuan dan ide kemajuan. Pengakuan ketidaktahuan tersebut membuat penguasa berinvestasi pada riset supaya produksi dan kekayaan terus meningkat. Sehingga ayat pertama dan paling sakral dalam kapitalisme adalah “keuntungan dari produksi harus diinvestasikan kembali dalam meningkatkan produksi” (Harari, 2020: 41). Di titik itu, dianggap pasar bebas akan mendefinisikan keadilannya sendiri. Padahal eksploitasi terus terjadi baik pada manusia maupun alam. Keserakahan pemilik modal untuk menaikkan laba dilakukan dengan cara membayar rendah upah buruh dan menambah jam kerja. Tentu seakan hal itu dapat diatasi dengan mogok kerja. Namun, bagaimana jika pabrik itu satu-satunya di suatu negara, atau semua pemilik pabrik bersepakat menurunkan upah buruh secara serempak. Buruh tak punya pilihan lain. Eksploitasi menjadi abadi. Pemisahan antar manusia terjadi.

Kaitannya dengan sains adalah bahwa keyakinan kapitalisme pada pertumbuhan ekonomi yang kekal bertentangan dengan kondisi alam (Harari, 2020: 46). Akibatnya limbah, polusi, hutan gundul, banjir dan sebagainya meluas. Untuk itu, riset saintifik dilakukan demi pencarian solusi. Artinya, penelitian dari ilmuwan didanai dalam upaya mencarikan solusi akibat ulah si pendana itu sendiri. Di sinilah tampak siapa yang berkuasa. Uang.

Dengan demikian terjadi kontradiksi abadi bahwa di satu sisi mengakui ketidaktahuan dan di sisi yang lain fanatik pada ide kemajuan. Seperti dua sisi mata uang, sebagai penyatu sekaligus pemisah.

Ketakbergunaan Manusia

Revolusi saintifik membawa umat manusia pada penemuan komputer, internet, robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kecanggihan teknologi tersebut bahkan dapat mengalahkan kemampuan manusia. Misal, pekerjaan sopir dapat digantikan robot dengan algoritma canggih seperti drone dalam AI.

Self-driving car (mobil tanpa pengemudi) pernah diujicoba walaupun terjadi kecelakaan. Namun, kita dapat membayangkan apabila semua mobil di jalan raya dioperasikan oleh algoritma, maka risiko kecelakaan akan minim bahkan tidak terjadi sama sekali. Sedangkan kecelakaan oleh manusia dapat dikarenakan mengantuk maupun lelah. AI tidak pernah mengantuk dan lelah.

Sebelum revolusi industri, tenaga kuda dan kerbau sangat berguna sebagai kendaraan dan membajak sawah. Revolusi terjadi dan akhirnya digantikan dengan mobil dan traktor. Kuda dan kerbau menjadi tak berguna. Sangat mungkin, nasib pak sopir akan seperti kuda dan kerbau saat itu.

Pekerjaan guru, buruh, kasir bahkan pengacara dan dokter pun dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan data algoritma yang begitu besar diinput dalam waktu singkat ke dalam robot. Sedangkan untuk mendapatkan seorang guru atau pengacara maupun dokter harus menunggu bertahun-tahun untuk proses pembelajaran. Efisiensi sekaligus kecermatan terhadap pekerjaan akan memihak pada robot-robot bukan pada manusia. Di titik itu, muncullah manusia-manusia tak berguna dan tak produktif bagi sistem.

Memang seakan mengada-ada, tetapi fakta itu sedang berlangsung. Misal tentang pekerjaan dokter, terdapat AI bernama Watson dari IBM pada tahun 2011 dipersiapkan untuk mampu mendiagnosis penyakit. Kita tahu bahwa tugas utama dokter adalah mendiagnosis penyakit dengan benar, itupun sering salah diagnosis sehingga perawatan kurang optimal. Sedangkan AI seperti Watson mampu mendiagnosis penyakit seseorang dari bank data genom, riwayat medis baik dari orang tersebut maupun kerabat dengan akurasi yang lebih bagus (Harari, 2020: 99). Apalagi Watson tidak pernah lelah, lapar maupun minta tunjangan lebih. Sehingga pekerjaan dokter sangat mungkin diambil oleh AI seperti Watson suatu saat nanti. Ancaman itu tidak hanya pada pekerjaan dokter umum melainkan dokter spesialis dan tentu pekerjaan-pekerjaan manusia lainnya.

Hal semacam itulah yang dicemaskan Harari bahwa kita sedang berada di ambang revolusi yang sangat penting. Proyek abad ke-20 untuk mengatasi kelaparan, wabah dan perang berbelok pada eksploitasi atas kelas lain. Kini proyek abad ke-21 untuk menggapai keabadian dan kebahagiaan akan melahirkan segelitir elite dan membuang kelas nirguna.

Apabila riset-riset saintifik justru membagi manusia menjadi massa nirguna (useless humans) dan segelintir elite manusia-super (superhumans) yang ditingkatkan, maka liberalisme akan runtuh (Harari, 2020: 160). Pengakuan atas hak menjadi pudar. Uang berlaku sebagai apa jika segelitir elite memiliki robot-robot cerdas, yang bisa bekerja untuk mereka tanpa perlu dibayar? Lalu, konsep penyatu apa yang mengisi kekosongan tersebut?


Zainul Arifin,  pembelajar di Komunitas Bangku Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *