Film Resensi

Setan Jawa: Merekam Pesugihan

January 9, 2019

Oleh: Bima Widiatiaga

Usaha untuk mendokumentasikan pesugihan lewat tulisan ilmiah, sudah dilakukan oleh beberapa penulis. Tim Lembaga Riset Kebudayaan Areng-Areng, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kawi. Luzman Abdau, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kemukus. Terakhir, adalah Onesius Otenieli Daeli, yang menulis pesugihan dalam perspektif antropologis.

Meski tak banyak, setidaknya pesugihan terekam dalam kajian ilmiah, tak hanya berada dalam pusaran folklore. Pada tahun 2016, usaha untuk merekam pesugihan, tercipta dalam bentuk visual. Adalah Garin Nugroho, sineas termahsyur yang telah malang melintang di dunia sinema Indonesia, yang membuat film bertema pesugihan, berjudul Setan Jawa.

Film ini dibuat eksklusif, dibuat untuk merayakan 35 tahun Garin Nugroho dalam pusaran perfilman Indonesia. Film ini juga diputar secara eksklusif, tidak diputar di dalam bioskop-bioskop. Dan yang terpenting, film ini bukan film komersil yang diharuskan mencari penonton sebanyak jutaan orang.

Film Setan Jawa, pernah diputar di Teater Jakarta, Teater Besar ISI Surakarta, Auditorium Universitas Sanata Dharma, Erasmus Huis Jakarta dan diputar pula dalam gelaran International Gamelan Festival (IGF) 2018. Selain itu, Setan Jawa juga melanglang buana di luar negeri, diputar di Australia, Singapura, Inggris, Kanada, dan Jerman.

Kembali ke kata eksklusif. Ya, film ini tidak ada di situs unduhan film ilegal. Misal ada, dijamin tak sampai lima menit, anda langsung memberhentikan film ini setelah anda unduh. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih, untuk merasakan atmosfer mistisme film ini, anda harus mendengarkan pula dengan iringan gamelan dan suara merdu pesinden. Cara untuk melihat film ini adalah dengan menyaksikannya langsung. Beruntung saya sudah menyaksikan pertunjukan film ini pada 15 Juli 2017 di Teater Besar ISI Surakarta.

Film Setan Jawa merupakan produk kolaborasi seni antara seni film, tari, musik, dan teater. Ditambah pula unsur sejarah dan mistisme Jawa sebagai story-telling film ini. Garin Nugroho bekerja sama dengan para seniman terkemuka untuk menggarap Setan Jawa. Rahayu Supanggah, komposer gamelan terkemuka seantero negeri, menggarap latar musik yang menjadi kunci film Setan Jawa. Rahayu Supanggah memimpin puluhan pengrawit dan pesinden seperti Peni Candra Rini. Sementara untuk penata tari, digarap oleh Luluk Ari Prasetyo dan  Heru Purwanto. Lalu, Asmara Abigail didapuk sebagai tokoh utama film Setan Jawa.

Unsur cerita pesugihan menjadi hal yang tak kalah penting dalam film Setan Jawa. Garin Nugroho pun melakukan riset mendalam dan mengorek pengalaman masa kecilnya tentang pesugihan. Pesugihan Kandang Bubrah menjadi tema pesugihan yang diambil. Pesugihan tersebut merupakan pesugihan yang dipilih oleh seseorang untuk mencari kekayaan secara singkat. Tumbalnya adalah orang itu sendiri yaitu bagian tubuh orang tersebut akan dijadikan soko guru rumah yang ditinggali bila perjanjian pesugihan dilanggar atau ahli waris tidak kuat. Hal ini dilukiskan oleh Cipto Waluyo dalam lukisan Pesugihan Kandang Bubrah, medio 1940-an.

Film Setan Jawa menampilkan sosok seorang Asih (Asmara Abigail) sebagai sosok putri keturunan ningrat di medio awal abad ke-20. Asih jatuh hati terhadap seorang lelaki yang kelak akan menjadi suaminya. Namun, sang suami hanyalah seorang kawula alit dengan ekonomi pas-pasan. Pekerjaannya adalah pembuat dan penjual sapu di pasar. Awal perjumpaan mereka adalah saat Asih sedang berbelanja di pasar. Sang lelaki melihat keanggunan dan kecantikan Asih saat perempuan itu turun dari delman. Asih dan sang lelaki saling bertatapan muka, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sang lelaki pun mencoba untuk melamar Asih kepada sang Ibu. Namun, sang Ibu menolak karena calon suami Asih adalah seorang rakyat biasa yang miskin. Sang lelaki tidak patah arang, dia mencoba untuk menggaet Asih dengan menaikan derajatnya. Ya, tidak punya unsur darah biru, ia pun menaikan derajatnya dengan menjadi orang kaya. Ia pun melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Tak lama, ia melamar lagi sang kekasihnya. Ibunya pun merestui Asih dengan calon suami karena status kekayaannya.

Namun, prahara menimpa kedua pasangan suami istri itu di tengah perjalanan perkawinan mereka. Si suami jatuh sakit, rumah mereka sering diganggu setan, dan bagian-bagian dari rumah mereka banyak yang hancur tanpa sebab. Asih merasakan penderitaan akibat sang suami yang meraih kekayaan dengan cara pesugihan. Akhirnya, sang suami meninggal, tidak kuat menghadapi terkaan akibat efek samping pesugihan. Jiwa sang suami akhirnya dijadikan tumbal pengisi soko guru rumahnya.

Dalam film Setan Jawa ditampilkan pula simbol-simbol pesugihan seperti bulus dan yuyu. Tembok rumah yang semakin lama semakin terkelupas juga menjadi simbol bahwa perjanjian Pesugihan Kandang Bubrah dilanggar. Terakhir, Asmara Abigail didatangi oleh setan-setan yang mengganggu dan hendak mengambil nyawa suami Asmara Abigail yang dulunya melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Juga yang tak kalah penting, unsur-unsur budaya Jawa seperti lampah dhodhok, sikap sembah, dan penggambaran perbedaan status sosial masyarakat Jawa, ditampilkan dalam Setan Jawa. Hal ini membutkikan bahwa Setan Jawa merupakan film yang berupaya menampilkan budaya Jawa klasik yang sekarang jarang dijumpai.

Kolaborasi unsur seni dan folklore pesugihan menjadikan film ini dirasa istimewa untuk disaksikan. Meskipun Setan Jawa merupakan film bisu tanpa dialog, penonton bisa mengerti alur cerita dari gerak tari di dalam film tersebut ditambah dengan alunan gamelan dan suara sinden yang mencekam. Dan yang terpenting, dari film Setan Jawa, terdapat usaha dari berbagai pihak untuk merawat dan merekam kebudayaan Jawa. Film Setan Jawa menjadi historiografi dalam bentuk visual dan layak untuk diapresiasi.

Bima Widiatiaga, Lahir di Pontianak, 10 Februari 1994. Merupakan lulusan S1 Ilmu Sejarah UNS. Aktif di kegiatan keilmuan sejarah, seperti pernah aktif di Forum Mahasiswa Sejarah UNS (2015-2016) dan komunitas sejarah Solo Societeit. Bima juga menjadi bagian dalam penulisan buku “Lokananta: Sejarah dan Eksistensinya”

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.

Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *