Cerpen

Setelah Tersesat di Perut Ju

January 15, 2019

Cerpen Jeli Manalu

Rindu adalah rasa sakit yang kita pelihara. Semakin sakit semakin nikmat, dan percintaan ini memang mustahil sebab kita di luar manusia. Akan tetapi manusia selalu ada dalam pikiran serta perasaan kita, hingga suatu waktu kita ingin seperti mereka, yang sesekali berdebat, beberapa kali marah serta merajuk, setelahnya hidup kembali tak berjarak. Hanya, kamu lebih suka berkelana daripada tinggal. Datang kadang-kadang, berangkat tak terencana lalu aku tetap bertahan di belakang rumah lelaki itu. Apa memang karena kita berbeda, ataukah si pencipta kita sengaja membuat kita begitu padahal kita juga ada hasrat ingin dimiliki atau memiliki selamanya.

“Tetapi, aku merasa belum pernah jadi diriku,” katamu, tenang, namun ada getir yang perlu kupahami.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku selalu terombang-ambing. Diombang-ambing masa, diombang-ambing situasi.”

“Tapi kamu lebih beruntung dariku. Kamu bisa pergi semaumu. Ke langit, ke hutan, ke laut, ke mana saja. Kamu bisa masuk ke rumah orang-orang tanpa ada melarang. Barangkali, kamu satu-satunya yang berhak menikmati isi bumi. Aku sempat berpikir, kamu sudah tak lagi ingat padaku.”

“Kenyataan aku selalu kembali. Itu karena aku merindukanmu.”

“Tapi kamu pergi terlalu lama. Sangat lama. Aku, kamu tahu? Aku kesepian.”

Mendengarku yang merajuk, kamu segera melingkupiku, menjelajahiku mulai dari  pinggir kolam ke tengah kolam, ke tumbuhan kecil yang daunnya disinggahi sepasang capung. Aku ingin selamanya seperti ini: merasakanmu dan kurasakan kau juga merasakanku.

“Tetapi kamu lebih beruntung dariku,” kilahmu lagi.

“Kenapa?”

“Apa kamu tahu kesedihan macam apa yang paling nikmat di dunia?”

Kurenungkan kata-katamu, rasanya belum pernah kamu bicara semanusiawi ini. Kita memang bukan manusia. Bukan hewan. Bukan pula tumbuhan.

“Ketika kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis.”

“Ummmm….”

“Um?”

“Ketika kamu tak dapat menangis sementara kamu sangat ingin menangis? Kalimat yang aneh.”

“Kamu tidak mengerti?”

“Aku tidak mengerti. Bahasamu terlalu sulit dicerna. Tapi ngomong-ngomong dari mana kamu dapat kata-kata itu? Apa kamu pernah menyusup ke sebuah universitas seperti yang pernah kita dengar dibicarakan lelaki itu lalu kamu masuk kelas dan pura-pura jadi udara dingin agar ruangan tidak berisik oleh kipas kertas digunakan para wanita, hanya supaya kamu bisa menguping suatu ilmu penting?”

“Kadang-kadang.”

“Lalu ilmu apa yang kamu sukai?”

“Banyak. Mungkin salah satunya filsafat.”

“Apa itu filsafat? Kedengarannya menarik.”

“Aku tidak tahu. Orang-orang menyebutnya begitu.”

 Kita lalu tertawa dalam bahasa kita di mana orang-orang bisa menyebutnya sebagai desau angin, bisa pula gemericik air. Kemudian sesosok lelaki bermuka muram muncul dari mulut pintu dengan kantong hitam yang langsung dicampakkan pada kita.

Glasakk! Glkglkglkglkglk.

Lelaki itu tak memperhatikan kita. Tapi kita melihat tangan gadis kecil ditarik-tarik wanita bersepatu pantofel.

“Eis, ikut Ibu hari ini,” kata wanita yang ujung kiri roknya membuat kerucut sampai setengah jengkal di atas lutut.

“Eis harus ikut Ibu hari ini,” katanya, sekali lagi.

Gadis kecil itu menarik tangan sendiri dengan gaya anak-anak yang lagi tak suka diusik.

“Eis ikut Ibu hari ini!”

“Eis dengan ayah saja, Bu.”

“Tidak bisa. Eis sudah seminggu dengan ayah.”

“Tapi Eis mau sama ayah ….”

Muka si wanita menjadi jelek walau tadi riasannya membuat ia kelihatan menggoda, walau tadi, barangkali, lelaki itu ingin mengatakan hal yang telah lama dipendam-pendam hingga debaran jantungnya begitu keras begitu dahsyat. Adakah lelaki itu rindu, tanyaku. Kamu tidak jawab. Wanita itu justru tampak semakin jengkel. Buru-buru ia mendekat ke si lelaki. Dari bibir ungunya melengkinglah suara, “Ju, kamu bilang dong sama Eis. Bujuk dia. Bujuk dia!”

Lelaki yang kemudian kita kenal sebagai Ju mulai melunak. Ia membujuk-bujuk lengan gadis bermata jernih dengan rambut dikepang dua. Ia elus-elus kepalanya, dan bahkan menari lucu seperti seorang balerina.

“Hari Sabtu Eis Ayah jemput. Sekarang Eis temani Ibu dulu, ya?”

“Tapi ….”

“Sabtu pasti Ayah jemput.”

“Janji?”

“Janji.”

Setelah Eis menautkan kelingking ke jemari Ju, Ju mengantar Eis ke Toyota Starlet merah tua. Mobil pun melaju. Ju berdiri di pintu memandangi dua orang pergi bersama benda yang kini hanya tampak seperti tungau bergerak. Satu orang yang akan selamanya ia cintai—gadis itu. Dan seseorang yang pernah mencintainya—wanita itu.

“Aku sudah sangat sering menyaksikan hal-hal seperti ini,” katamu sendu. “Manusia memang begitu. Perasaan manusia selalu berubah-ubah.”

“Berubah-ubah? Apa maksudnya dengan perasaan yang selalu berubah-ubah?”

“Sewaktu jatuh cinta, ada kalanya jadi durhaka. Yang satu lari dari rumah masa kecil. Satunya lagi menyangkal ayah-ibu. Manusia suka menipu diri: berseru atas nama cinta seolah paham apa itu cinta. Pada kadar terendah cinta tak lebih dari selembar keset usang yang tinggal menunggu waktu untuk dilemparkan. Si lelaki letih bekerja. Si wanita lelah mengurus anak, mengeluhkan atap bocor, cucian selalu banyak serta punggung kerap sakit. Keduanya jenuh. Keduanya menghabiskan waktu untuk urusan yang ujung-ujungnya menimbulkan kalimat yang berakhir dengan tanda seru. Akibatnya mereka lupa cinta. Mereka lupa untuk bercinta.”

“Tapi kita tidak akan begitu, ‘kan?” tanyaku, meyakinkanmu, dan mungkin kamu menganggapku mulai manja lagi. Karena aku terus membicarakan betapa suramnya kehidupan para manusia, betapa tidak jelasnya perasaan orang-orang dan ternyata hati manusia bisa juga berpindah-pindah: berurbanisasi, bertransmigrasi bahkan berimigrasi, kamu tahu harus melakukan apa. Kamu mendekapku, erat-erat, semakin erat, yang bila orang melihat kita maka akan tampak semacam ombak-ombak kecil: peristiwa keintiman kita.

**

Sabtu kali ini terasa sejuk sekali. Meski begitu langit barat serupa kain satin berwarna keemasan. Seekor burung keluar-masuk pohon, sementara para berudu dan sekumpulan organisme menyembunyi di tubuhku yang kembali dingin.

Lelaki itu masuk ke rumah. Terdengar suara pintu yang lagi marah, entah memukul atau dipukul. Tapi itu sama-sama pukulan. Lalu kupanggil kamu yang tak lagi kurasakan bersamaku.

“Cinta!” teriakku, ke pohon kelapa yang buahnya sangat banyak. Aku mengira kamu ada di sana. “Cintaku, kembalilah! Sini, sini temani aku saja.”

Ju keluar lagi. Dibantu cahaya mengintip dari mulut pintu, kulihat lelaki itu meremas perut. Aku mencium aroma alkohol yang berahi. Ia lemparkan botol bir kosong kepadaku. Juga, ia tumpahkan sekantong puntung rokok bau bercampur lendir makanan amis. Dasar Ju sialan! Senangnya membuang sampah sembarangan.

“Tapi di mana kamu, Cintaku?”

Ju berguling-guling. Tampaknya ada sesuatu membuat keributan di ulu hati Ju. Mungkin tidak persis di ulu hati, tetapi ia kesakitan di bagian bawah dada. Dan pula, suara aneh di mulutnya menjelaskan kalau ia ingin muntah sepuasnya, meski muntah agaknya menundah-nunda terjadi.

 Ju mengambil batu, melemparkannya ke rumah tetangga. Sudah tiga kali Ju melakukannya. Ketiga sangat keras. Saat mengambil batu keempat si tetangga pun datang. Tetangga itu sangat damai hatinya. Air wajahnya teduh dan sudah sangat paham akan Ju.

“Kau hanya kena angin duduk. Jangan terlalu banyak begadang dan hiduplah baik-baik,” kata si tetangga.

Saat larut akan apa yang kulihat di teras belakang rumah Ju sekonyong-konyong sentuhan deras menjalari tubuhku. Aku kaget, “Maafkan aku, Sayangku,” katamu, dengan nada menyesal, “Aku mencoba masuk ke tubuh Ju, dan ternyata tersesat selama berjam-jam dalam perutnya.”

“Di perut Ju? Untuk apa melakukannya?”

“Aku ingin tahu inti masalahnya. Lelaki itu pernah selingkuh. Si wanita membalasnya dengan cara berselingkuh. Tetapi Ju tidak tahu kalau pembalasan itu cuma bohongan.”

“Bagaimana kamu tahu itu?”

“Sebelum menerobos tubuh Ju aku mencari wanita itu lebih dulu.”

Aku tercengang, kaget dan tidak habis pikir. Kehidupan manusia sungguh sulit dipercaya. Berputar-putar, berkelok-kelok, bergelombang, tapi itu kenyataan.

Setelah gelap berlalu hari Minggu tiba lagi. Embun meninggalkan bunga pecah seribu. Matahari memantul dari jendela nako. Kita melihat Ju membuka pintu dalam keadaan sehat walafiat.

“Ayah!” gadis manis tiba-tiba muncul dan langsung melompat ke pangkuan Ju.

“Kenapa Eis tidak tunggu sampai Ayah jemput?”

“Ibu ajak Eis, Ayah. Lihat, Ibu beli balon besar. Ibu bilang, kita akan mengirimnya ke langit.”

Ju menatap lama ke wanita yang berdiri di tengah halaman. Ada tiga balon di tangannya. Merah semuanya. Di bagian luar kita membaca tulisan: Ju, Sis, Eis. Wanita itu memegang balon bertanda ‘Ju’. Ju memegang balon bertuliskan ‘Sis’. Anak itu memegangi nama sendiri. Kita turut bahagia meski berdebar-debar menunggu peristiwa berikutnya.

Mula-mula balon melewati jendela, lalu atap genteng, lalu sejajar dengan antena televisi. Aku, selamanya kolam kecil di belakang rumah Ju yang tak pernah surut merindukanmu. Kamu pengembara yang tak mau luluh. Hai, angin, kasihku, sebagaimana kedirianmu yang bukan dirimu sendiri, aku bergejolak menatapmu terombang-ambing bersama tiga balon besar berwarna merah menuju langit. **

Riau, Juni 2016-2018

Jeli Manalu lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu. Bisa dihubungi di WA: 085278619906. 
Email: jeli.manalu@yahoo.com,  Facebook: Jeli Manalu, IG: @jelimanalu



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *