Buku Resensi

Si Tua Bercerita dan Bernostalgia

October 8, 2019

Oleh Bandung Mawardi

Ibu Sud tak dicantumkan dalam cerita pendek. Nama terlupa tapi lagu-lagu sering disenandungkan bocah-bocah dalam pelbagai acara. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lagu gubahan Ibu Sud berjudul Berkibarlah Benderaku tentu dilantunkan dengan lantang dan bersemangat. Lagu terkenang sepanjang masa, belum tentu nama. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, kita cenderung mengingat dua nama penting: Soekarno dan Mohammad Hatta. Nama para penggubah lagu patriotik sering dilantunkan dalam upacara bendera, panggung Agustusan, dan lomba gampang dilupakan atau lekas disebut “anonim”.

Cerita pendek itu berjudul “Berkibarlah Benderaku” gubahan Sapardi Djoko Damono. Cerita masuk dalam buku cerita berjudul Menghardik Gerimis (2019). Cerita itu gamblang mengenai cara kita memberi arti dan kemerduan Hari Kemerdekaan. Judul lagu gubahan Ibu Sud dan cerita itu sama. Pembaca mungkin menebak bakal menemukan nama Ibu Sud. Salah! Sapardi Djoko Damono cuma memerlukan lagu, tak wajib menulis nama penggubah lagu. Pengarang bertubuh kurus itu menulis: “Bendera tidak bisa bergoyang kalau tidak ada angin. Apa lagi berkibar. Padahal, di sekolah anak-anak diajari nyanyi, Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira”. Sejak bocah, lagu itu sudah dikenali pengarang. Pada cerita, nostalgia dituliskan saat lagu Berkibarlah Benderaku tetap pilihan dalam membarakan nasionalisme dan memerdukan kemerdekaan.

Di cerita pendek, kita dituntun ke imajinasi keluguan mengenai bendera, angin, dan rumput. Liris. Kita diingatkan dengan 17 Agustus tapi bergerak ke sendu-haru. Cerita tak heroik. Sapardi Djoko Damono justru memberi rangsang imajinasi agak menjauh dari ingatan mengandung bedil, pekik, dan jeritan. Ia menulis nasib “bendera imut” atau “si mungil”. Semula, bendera itu dipasang di pagar. Sekian hari setelah 17 Agustus, bendera imut jatuh. Kita turut merasakan: “Tentu saja si mungil itu pernah berkibar, atau setidaknya bergoyang-goyang kena angin ketika masih dalam untaian. Masalahnya, setelah bendera itu tanggal dan jatuh di pinggir selokan di sudut rumputan yang tidak terurus, ia tidak pernah disentuh angin. Rumput yang tumbuh di sekitarnya, yang sekarang menjadi teman ngobrolnya, juga tidak berkibar.” Cerita mengharukan tak selalu ke masa lalu, masa para tokoh bangsa dan kaum muda memuliakan Indonesia dengan pengibaran bendera dengan konsekuensi mati.

Pada masa berbeda, Sapardi Djoko Damono suguhkan imajinasi lugu. Pembaca mungkin menuduh si pengarang sudah “keterlaluan”. Pembaca dijerat di permainan imajinasi dan makna. Pada 1983, Sapardi Djoko Damono menulis esai-biografis berjudul Permainan Makna, memberi nostalgia masa bocah ke pembaca: “Namun tahun-tahun sesudah kemerdekaan memang terasa ganjil dalam kenangan: sehari makan dua piring bubur, pagi dan sore; ibu menjual buku-buku tebal untuk membeli minyak tanah; ayah di luar kota entah di mana untuk menghindarkan diri dari penangkapan Belanda; siang hari sering saya saksikan pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom di beberapa kampung, malam hari terjadi pembakaran gedung-gedung dan rumah-rumah besar.” Kenangan itu terjadi di Solo. Sapardi Djoko Damono tak mengingat bendera tapi memberi susulan dengan cerita minta pembaca di pinggiran imajinasi bendera, tak memusat ke proklamasi atau pengibaran bendera di halaman rumah Soekarno (Jakarta). Bendera itu bernasib memelas: jatuh di pinggiran selokan. Kita pun iba. Di situ, pengarang ingin kita mengerti nasib bendera berkibar dipengaruhi angin dan sadar tiada “apa” dan “siapa” mau lagi memberi perhatian: kata dan sikap.

Masa bocah di Solo terus teringat dan dituliskan saat tua menjadi cerita berjudul “Layang-Layang”. Dulu, Sapardi Djoko Damono suka bermain layang-layang, gobak sodor, gundu, adu cengkrik, benthik, dan lain-lain. Semula, pengalaman-pengalaman masa kecil ditulis dalam puisi. Kini, ia menaruh dalam cerita pendek. Di alun-alun sebelah selatan Keraton Kasunanan, bocah-bocah bergirang bermain layang-layang. Seorang bocah kaget melihat layang-layang putus, terbang tak tentu arah. Ia tak mau kehilangan. Layang-layang itu dikejar. Sapardi Djoko Damono menceritakan dengan seru. Bocah mengejar layang-layang melewati pasar (tempat sang ibu berjualan bunga), berlari terus melewati tanggul Bengawan (tempat mangkal pelacur), dan berlanjut melintasi jalan panjang (tempat ia dan bapak mencari cengkerik dan gangsir). Layang-layang terus terbang tinggi, tak mau jatuh ke tanah. Surup berakhir, bocah belum berhasil menangkap layang-layang. Si bocah malah roboh di depan rumah seseorang. Ia kecapekan dan kehabisan napas meski sempat mendengar azan magrib. Kita diajak terharu gara-gara si bocah tak mau kehilangan layang-layang digambari mahkota oleh bapak. Ia takut kehilangan dan terlalu kagum pada layang-layang. Sapardi Djoko Damono memang “keterlaluan” dalam bercerita.

Pada masa remaja, keluarga Sapardi Djoko Damono pindah ke pinggiran Solo sebelah utara, menjauh dari keramaian kota. Sapardi Djoko Damono belajar di SMA Negeri 2 Solo. Ia sudah memiliki minat sastra meski kalem. Hidup dalam kesederhanaan dan berdekatan alam: “Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.” Suasana teringat bersama kebiasaan “menguping” obrolan bapak dan teman di malam hari. Si tokoh memang menunda tidur demi mendengar tamu itu menembang dan bercakap. Tembang terdengar dan percakapan. Si tokoh pernah belajar di sekolah khusus priyayi lekas mengenali larik-larik dalam tembang. Malam itu ia menikmati Kalatidha gubahan Ranggawarsita. Orang-orang mengenali sebagai “pujangga keraton terakhir” di Solo.

Pada saat menua, Sapardi Djoko Damono membagi biografi di gubahan cerita-cerita, “bertokoh diri” sebagai bocah dan remaja. Kita membaca cerita-cerita setelah kagum menikmati puisi-puisi lirik gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia memang penggubah puisi tenar. Predikat sebagai penulis cerita pendek dan novel dimiliki belakangan. Semula, ia cuma peresensi, juri, dan kritikus sastra dalam mengulas puluhan cerita pendek atau novel. “Cerpen memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, juga mungkin sekaligus membenarkan pendapat bahwa kita semua pada dasarnya membutuhkan fakta dan fiksi,” penjelasan Sapardi Djoko Damono dalam esai berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? (1975). Ketekunan menggubah puisi disempurnakan dengan menulis puluhan cerita pendek. Sapardi Djoko Damono telat membuktikan bahwa sulit menghindarkan diri dari gairah menulis cerita pendek!

Ia mungkin mendendam mengetahui nasib cerpen di masa 1970-an sering “meragukan” alias “tak jelas”. Orang-orang atau kaum pembaca cenderung memberi perhatian ke puisi atau novel, belum cerpen. Seminar dan festival sastra jarang memberi tempat bagi cerpen. Dulu, Sapardi Djoko Damono setor sindiran: “Kita harap saja bahwa jarangnya cerpen dibicarakan itu merupakan suatu pertanda bahwa ia memang sudah punya tempat yang layak dalam masyarakat dan sungguh-sungguh berguna bagi pembacanya.” Pada 2019, kita menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Sapardi Djoko Damono, membuat pengakuan kecil bahwa cerita sudah memiliki tempat dan berguna mumpung si pengarang asal Solo itu sudah tenar dan berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Begitu.


Bandung MawardiPenulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *