Cerpen

Simbok

July 5, 2022

Cerpen Kesit Himawan

Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.

***

Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini

“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.

Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku  terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.

Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.

… Kembali sayup kudengar

di doa ibuku, namaku disebut

di doa ibuku dengar, ada namaku disebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang

Namun kasihnya padaku selalu kukenang…

Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.

“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****


Kesit Himawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Only registered users can comment.

  1. Saya ucapkan terima kasih kepada Redaktur ide-ide dan siapa pun yang berkenan membaca cerpen ini.
    Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *