Buku Resensi

Sisi Buruk Kebaikan

October 1, 2019

Oleh Kiki Sulistyo

Kekuasaan dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan, seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi, sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi serupa dengan apa yang dulu dilawannya.

Dalam hubungannya dengan sastra, kekuasaan adalah bahan bakar utama lahirnya pelbagai karya dalam khazanah sastra di pelbagai penjuru dunia. Sastra sering menempatkan diri sebagai oposisi atas kekuasaan, terutama kekuasaan yang menindas. Karya sastra (baik puisi, cerpen, novel, atau naskah drama) menyentil, mencubit, mengusik, sampai mengutuk kekuasaan seraya menebarkan stimulan bagi kesadaran.

Buku kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Empat Aku (Marjin Kiri, 2019), juga tidak lepas dari semangat seperti itu. Kekuasaan menjadi subject matter hampir semua kisah dalam buku ini. Baik itu kekuasaan kapital maupun politik, yang pada kenyataannya kerap berkelindan, mengakibatkan ketidakberdayaan di lingkungan paling bawah dari piramida sosial. Ketidakberdayaan tersebut sering memaksa seseorang berada dalam posisi yang sulit dan mengambil tindakan yang tidak sepantasnya.

Dalam cerpen “Langda, Suatu Ketika” dikisahkan bagaimana Eba Deyal menipu sahabatnya, Marten, dengan memberikan kapak batu buatan orang lain, karena kapak batu yang dibuatnya dari batu pilihan dan sudah dijanjikan buat Marten, terpaksa harus dijual untuk menyambung hidup anak-anaknya. Cerpen ini menggunakan setting faktual—di Yakuhimo, Papua—sehingga kita langsung mengingat bagaimana relasi negara dengan salah satu provinsi terluar itu. Baik Eba Deyal maupun Marten adalah bagian dari mata-rantai korban dari kelalaian negara dalam mengurus kesejahteraan warganya.

Ketidakberdayaan semacam itu pada satu titik melahirkan harapan-harapan yang bersifat ilusif; fatamorgana dari kebuntuan jalan keluar. Itu misalnya tampak dalam cerpen “Jejak Air”. Ketika perusahaan air minum kemasan memonopoli ketersediaan air di desa tempat tinggal Jarot, kekeringan mulai melanda. Protes dan perlawanan warga disumpal dengan uang. Jarot yang menolak untuk disuap, akhirnya hanya bersandar pada harapan yang bersumber dari cerita kakeknya di masa lampau, bahwa nanti akan datang laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.” (hal.71).

Hal menarik dari cerita-cerita dalam Empat Aku adalah bagaimana situasi paradoks muncul dari modus kekuasaan dalam upaya menancapkan kukunya. Modus itu berupa perubahan dan kebaikan, yang pada saatnya menampakkan wajah ganda sebagai sumber keburukan. Konsekuensinya kemudian adalah jejaring problem yang menjerat sampai ke wilayah internal masyarakat, bahkan ke wilayah inter-personal. Dalam cerpen “Kampung Rampok” misalnya. Kemunculan seorang laki-laki yang digambarkan baik (dia bertanya dengan sopan, membelikan rokok, padahal dia sendiri tidak merokok) tampak seolah hendak membuat perubahan di kampung rampok, membuat kampung itu menjadi lebih beradab; suatu tipikal hero dalam banyak cerita. Tetapi laki-laki itu ternyata hanya ingin merebut kekuasaan dari kepala kampung. Masyarakat (melalui tokoh aku) sebenarnya tidak peduli. Ya benar, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak peduli! (hal.10). Sikap apatis itu berubah jadi ketakutan ketika ternyata si kepala kampung yang baru, jauh lebih kejam dari yang sebelumnya. Tak ada warga yang bisa keluar dari sana, sementara warga sendiri takut tinggal sebab seperti hanya menunggu giliran untuk dimangsa.

Modus perubahan dan kebaikan yang dilancarkan kekuasaan juga mencolok dalam cerpen “Jejak Air” di mana berdirinya perusahaan air minum kemasan pada mulanya membuka lapangan kerja pada warga setempat. Atau dalam cerpen “Jendela” di mana seorang promotor seni memperoleh keuntungan dengan membuat pameran lukisan karya pelukis yang mati bunuh diri, dengan alasan menghormati si pelukis, sementara selama hidupnya hampir tak ada lukisannya yang terjual, hingga ia jatuh melarat.

Cerpen “Empat Aku” yang menjadi judul buku ini paling jelas memperlihatkan bagaimana kekuasaan membuat jaring-jaring problem inter-personal. Dengan gaya eksperimental cerpen ini menggambarkan konflik empat-karakter dalam diri aku. Seluruh karakter itu menyimpan keinginan untuk menguasai aku sepenuhnya. Masing-masing karakter memiliki watak-gandanya sendiri; aku-pertama yang dermawan tapi licik, aku-kedua yang rajin berdoa tapi lemah, aku-ketiga yang optimis tapi antipati, serta aku-keempat yang penuh empati tapi pesimistis. Kompleksitas itu menggambarkan suatu situasi paradoks, sebagaimana yang diucapkan aku-pertama: selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan (hal.30).

Sisi buruk kebaikan—yang muncul lantaran kebaikan hanya modus semata—adalah nilai signifikan dari tema kekuasaan dalam cerpen-cerpen di buku Empat Aku ini. Yudhi Herwibowo membawa pembaca melompat dari setting faktual ke setting fiksional, dari narasi referensial ke narasi imajiner. Tetapi seluruhnya diikat oleh perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi kekuasaan yang seakan menebalkan tulisan Pramoedya yang dikutip di atas, bahwa manusia tak mungkin bebas dari kekuasaan sesamanya. Jika manusia tak bisa bebas dari kekuasaan, maka hanya pilihan menyerah atau melawan yang tersedia. Dan tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerpen ini masing-masing telah memilih.***


Kiki Sulistyo, pengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *