Buku Resensi

Soewardi Soerjaningrat: Nasionalis Jawa Awal

March 17, 2020

Oleh Syahuri Arsyi

Dalam dunia pendidikan nama Soewardi Soerjaningrat sepertinya begitu asing di telinga kita. Padahal, nama Soewardi Soerjaningrat sendiri merupakan nama bangasawannya dari Ki Hadjar Dewantara sebelum mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Telinga kita lebih akrab dengan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional Indonesia dan pencetus “Tut Wuri Handayani”. Terbukti, setiap tanggal 02 Mei, diadakan perayaan hari pendidikan nasional yang melambangkan bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Studi ilmiah terhadap tokoh-tokoh sejarah nasional kita masih sedikit dilakukan orang,” adalah kalimat pembuka dalam kata pengantar buku berjudul Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan (2019) karya Irna H.N Hadi Soewito. Ditulis oleh seorang sarjana perempuan Indonesia dalam bidang sejarah, kalimat tersebut jelas menunjukkan pada kita akan kelangkaan terhadap kajian tokoh-tokoh sejarah nasional Indonesia.

Tersirat pula rendahnya minat kita tentang pengetahuan nama asli tokoh-tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah modern Indonesia. Nama asli tokoh sejarah seolah-olah tidak memiliki ruang dan sudah tergantikan dengan nama panggilan, sehingga kita tak memiliki pengetahuan yang utuh tentang nama tokoh tersebut.

Dalam buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan menginformasikan pada kita tentang perjalanan kisah hidup, perjuangan, dan rekam jejak Ki Hadjar Dewantara ketika masih muda, atau sebelum mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta di tahun 1922, mulai dari aktivitasnya di comite boemipoetra hingga pengasingannya ke negeri Kincir Angin, Belanda, yang dianggap sebagai momentum kebangkitan bersama pers dan mahasiswa yang memiliki haluan kebangsaan, kerakyatan, dan kemerdekaan dengan semboyan Indie los van Holland atau Hindia lepas dari Belanda.

Salah satu catatan yang cukup menarik dalam buku ini, adalah sikap dan kemantapan hati Soewardi menempuh jalan berbeda dalam berjuang yaitu di bidang jurnalisme. Bagi Soewardi, jurnalisme adalah suara hati nurani bangsa tertindas yang dapat dikumandangkan. Oleh karena itu, bagi Soewardi, perjuangan tidak hanya semata-mata dapat dilakukan dengan mengangkat senjata, bisa juga dilakukan dengan tulisan.

Selain itu, bagi Soewardi, jurnalisme atau pers bukan hanya semata-mata pekerjaan untuk menambah isi kantong, akan tetapi lebih dari itu semua. Jurnalisme atau pers digunakan oleh Soewardi untuk mencurahkan isi hatinya dan sebagai satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk membungkam ketidakadilan bangsa Belanda.

Dari sini kita bisa membaca bahwa salah satu alasan Soewardi terjun ke dunia jurnalisme atau pers daripada angkat senjata karena kala itu, masyarakat Indonesia sedikit sekali yang melek huruf. Dan, keadaan masyarakat Indonesia, oleh Soewardi ini benar-benar disadari bahwa masih banyak masyarakat yang terbelakang, masih banyak yang belum melek huruf, hingga membutuhkan banyak pengajaran dan menerangkan apa itu perjuangan dan apa itu bangsa pada masyarakat Indonesia.

Irna, bahkan menyebutkan dalam tulisan-tulisan Soewardi banyak guratan kebebasan dan menggambarkan kondisi kemerdekaan. Ia mengambil contoh tulisan Soewardi yang dimuat De Expres, berjudul “Kemerdekaan Indonesia” yang isinya dianggap sebagai nyala semangat politik menuju Indonesia merdeka. Kita simak lintasan Soewardi, “…setiap pergerakan politik bebas, harus dimulai dengan memutuskan perhubungan-perhubungan kolonial dan harus menuju ke penghidupan rakyat yang bebas (hlm. 08)”.

Soewardi menjadikan majalah De Express sebagai alat propaganda untuk menekan pihak-pihak Belanda. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker, seorang Indo yang sangat memiliki nasional Indonesia, Soewardi membangun gagasan serta pergerakan dalam politik, di mana pada 6 Sepetember 1912 menjadi gerakan politik Indische Partij yang menerima suku bangsa Hindia menjadi anggotanya.

Kita simak pengakuan Soewardi, dalam buku ini “Baginya majalah ini merupakan alat propaganda, yang mana kemudian, bersama De Expres, menjadi pelopor kelahiran partai politik yang disebut Indische Partij. Partai yang bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa Hindia agar dapat berdiri sendiri. Indie voor Indiers atau “Hindia untuk bangsa Hindia” (hlm. 08).

Tulisan Soewardi oleh pihak kolonial dianggap memiliki narasi menghasut hingga akhirnya ia  ditangkap, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Di pengasingan ini, Soewardi bersama istrinya berada dalam kehidupan serba kekurangan dan begitu menghimpit. Walaupun demikian, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya mencari tambahan nafkah melalui menulis di surat kabar.

Salah satu tulisan Soewardi yang membuat pihak Belanda kebakaran jenggot dan tak mungkin dilupakan berjudul “Als ek eens Nederlander was” atau “seandainya aku orang Belanda” tulisan satir ini dianggap sebagai suatu tamparan bagi pemerintahan Belanda.

Bagi pembacanya, tulisan Soewardi ini dianggap memiliki gaya bahasa yang sangat menarik, menyakinkan pembaca, berisikan kata-kata yang dipilih secara tepat, dan kalimatnya tersusun rapi, menusuk, tidak kasar dan tidak pula memaki, tidak berbelit-belit serta mudah dimengerti. Di setiap guratannya memberikan renungan untuk pembaca sebagai bagian dari cerminan jiwa dan budinya yang jujur serta sederhana (hlm. 56).

Di Belanda, selain menulis, Soewardi aktif di pelbagai forum, seperti Indische Vereening dan memberikan pengaruh yang sangat kuat di kalangan mahasiswa Hindia. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah kantor berita bernama Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia) bertujuan untuk mempererat hubungan mahasiswa tanah air (hlm.72).

Satu hal lagi yang cukup menarik selama Seowardi berada di pengasingan, bahwa ia tak menjadikan hal itu sebagai beban berat hingga membutakan pikirannya. Kontribusinya selama berada di pengasingan terkait persoalan politik tidak di ragukan lagi. Warisan gagasan dan gerakannya sebagai salah satu pelopor anti-kolonial Indonesia tak kalah pengaruhnya bagi formulasi gagasan radikal dan visionir atas terbentuknya Indonesia modern.

Maka tak salah jika dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (2006) garapan Benedict Anderson menyebutnya sebagai patron para aktivis “Nasionalis-Jawa-Indonesia awal”. Dalam artikel “Soewardi di Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah, Joss Wibisono menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi memiliki kecondongan haluan dan pemikiran politik kepada “nasionalisme kanan”.

Setelah lima tahun berada di pengasingan, Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia pada 15 September 1919, setelah 51 hari terapung di Samudra Atlantik. Kembalinya ke tanah air ini, dimaknai sebagai medan perjuangan yang sebenarnya bersama Taman Siswa pada tahun 1922.


Syahuri Arsyi, penulis lepas, saat ini aktif di Komunitas Diskusi buku dan diskusi Malam Sabtu (dulu: Limited group). Bisa disapa di Facebook: syah arsyie, Instagram: syah.arsyi1717, dan Twitter: sya.arsyie1717.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *