Cerpen

Suara di Tengah Malam

September 15, 2020

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Bapak pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tampak tak bertenaga. Ia seperti ingin segera roboh di tempat tidur. Langkahnya berhenti di ruang tengah lalu duduk di sebuah kursi. Sementara ibu sedang mengambilkan air minum di dapur untuk bapak. Perutku terus bernyanyi sedari sepulang sekolah. Sehari ini, aku baru makan pagi.

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

“Terpaksa ibu harus utang lagi ke warung Mbah Kami. Sebenarnya bapak sempat mendapat uang dari dua penumpang. Tapi entah di mana uang itu sekarang tidak ada. Bapak sudah cari di semua saku, di becak, sampai bolak-balik di jalan yang bapak lewati karena mungkin jatuh, tapi tidak ketemu,” ucap bapak setelah meminum teh hangat di gelas yang ibu sodorkan. Lantas ibu termangu di hadapan bapak.

Aku loyo mendengar kabar itu—sial betul bapak hari ini.

“Ibu malu kalau harus berutang lagi. Utang yang sudah-sudah saja belum dibayar. Ibu tidak enak dengan Mbah Kami,” kata ibu. “Dan lagi, tumben uang bisa hilang, biasanya bapak teliti.”

Aku sudah menduga ibu pasti keberatan bila berutang lagi bahan mentah untuk membuat lauk. Nelangsa sekali kurasakan. Aku sering miris dengan keadaan ini. Sebuah keprihatinan yang sering kualami. Terkadang muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, agar keadaan ini cepat berubah—yang kubayangkan lebih sering pekerjaan yang enak dengan bayaran tinggi, tanpa susah payah memeras keringat. Jika menunggu aku menjadi orang sukses dengan sekolah yang sungguh-sungguh, bapak dan ibu masih akan lama menunggu. Sedang aku sebenarnya sudah tidak tega dengan mereka. Namun, jika melakukan hal selain itu, aku tidak tahu sesuatu apa yang harus kutempuh untuk mengubah keadaan.

Sebenarnya keadaan ini bisa membaik andai bapak mau berpindah pekerjaan, yang mana pekerjaan itu masih ada kaitannya dengan apa yang dikerjakan saat ini. Zaman sudah begitu maju, bapak bisa beralih ke ojek. Bapak sendiri pernah bilang padaku, kalau becak kayuh semakin hari semakin sepi peminat. Pelanggan becak kayuh satu per satu pindah ke ojek. Selain itu, sekarang ini membeli sepeda motor tidaklah sesusah dulu. Orang sekarang bisa pergi ke dealer untuk kredit kendaraan, hanya membawa beberapa lembar uang seratus ribuan.

Aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, yang tidak juga berganti dengan ojek. Kami memang tidak punya sepeda motor, tapi aku rasa itu bukan masalah serius. Ibu memiliki tabungan berupa kalung emas pemberian kakek dulu. Kalau hanya untuk membeli sepeda motor bekas kurasa bisa.

Aku berlalu menuju kamar, menutup pintu dan mencoba untuk tegar. Aku harap bapak dan ibu segera mencari jalan keluarnya. Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku tidak mungkin memaksa ibu untuk berutang, aku tidak ingin menumbuhkan rasa malu di benak ibu. Beberapa menit kemudian, kerut wajahku menahan lapar mengendur, dan berubah menjadi kegembiraan. Ibu mengantar sepiring mie instan beserta nasi ke kamarku. Aku tidak menanyakan dari mana ibu memperoleh mie instan itu. Aku terlampau gembira.

Lega! Akhirnya perutku terisi. Aku bisa mengarungi malam dengan tidur nyenyak. Terlitas pertanyaan perihal nasib bapak dan ibu; apakah mereka sudah makan. Karena memikirkan itu aku tidak bisa tidur, tapi jika menanyakan kepada mereka, apakah sudah makan, rasanya begitu lucu. Menurutku ibu juga tidak tega kepada bapak, bila hanya aku yang diberi makan, apalagi bapak seharian keluar. Ahh, kukira ibu sudah mengupayakan bapak bisa makan juga.

Untuk menghilangkan pertanyaan seputar nasib perut bapak dan ibu, aku terus memupuk keyakinan mereka juga menikmati makan. Selagi aku di kamar tidur, tak kudengar suara mereka, aku tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidak juga kudengar suara yang menandakan mereka mengerjakan sesuatu. Jelang pukul setengah sepuluh aku tidur.

***

Telingaku risih, seperti digelitiki. Dengan setengah sadar aku mengusapnya. Aku mendengar suara langkah kaki, benda-benda beradu—seperti suara panci yang membentur lantai, suara pintu dibuka, suara plastik. Aku kembali mengusap-usap telinga, dan keadaanku masih setengah sadar. Mataku masih ingin mengatup. Aku tidak berpikir macam-macam perihal suara itu. Suara-suara itu tidak henti mengangguku dan aku kembali mengusap-usap telingaku. Aku terus berusaha fokus untuk kembali tidur. Namun, tiba-tiba ada suara aneh hinggap di telingaku, dan aku kaget.

Aku terjaga dengan posisi masih rebahan. Kudengar suara itu seperti jeritan melengking yang menyayat. Benakku memikirkan sesuatu, suara itu mirip suara binatang sekarat. Dugaanku, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena rasa kantukku masih menguasai, hingga tidak mengundang minatku untuk mendatangi asal suara itu. Aku kembali berusaha memejamkan mata, dan tidak memedulikannya lagi.

Paginya, aku bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Aku keluar kamar tidur tanpa merapikan tempat tidur setelah penglihatanku sempurna bekerja. Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat jam dinding, pukul enam lebih tujuh menit. Waktu yang masih terlampau pagi. Bagiku masih ada waktu panjang untuk sampai ke pukul tujuh. Aku gegas ingin mandi. Ketika melintasi dapur, kuhentikan gerak kakiku, mataku tertuju pada tungku yang rongganya ada sisa pembakaran kayu, serta wajan di atasnya yang kotor. Di samping tungku ada beberapa bilah kayu bakar yang ujungnya berwarna hitam. Ada pula sisa asap yang mengepul dari sana—sudah pasti kayu bakar itu baru saja digunakan dan disiram dengan air.

Ibu memasak? Memasak apa? Bukankah ibu sedang tidak memegang uang? Pertanyaan itu mengingatkanku pada hari kemarin, saat aku menikmati mie instan. Aku tidak memberi ibu pertanyaan perihal asal-usul mie instan itu. Aku semakin yakin mie instan itu hasil ibu berutang—lagi-lagi ibu kembali memaksakan diri berutang dan harus menanggung malu. Ya, ibu memaksakan diri untuk berutang. Kenapa aku bisa begitu yakin kalau ibu berutang? Logikanya begini, ibu sudah memasak, ibu tidak memegang uang, warung Mbah Kami belum buka sepagi ini. Apalagi kalau bukan mengutang di hari kemarin? Aku yakin, kemarin ibu berutang mie instan, sekalian bahan baku lauk untuk hari ini.

Pukul setengah tujuh lebih lima menit aku sudah mengenakan seragam sekolah putih biru. Sembari menenteng tas, aku menuju meja makan. Di atas meja makan telah tersaji daging semur yang baunya sedap sekali, tiga tumpukan piring beserta sendoknya, dan sebakul nasi yang masih mengepul. Perutku langsung melilit, nafsu makanku langsung naik. Aku mengambil nasi, sembari izin kepada ibu untuk makan lebih dulu. Bapak tidak tampak batang hidungnya, entah ke mana.

Sesuap nasi beserta secuil daging kumasukkan ke mulut dengan sendok. Aku antusias sekali. Aku mendadak berhenti mengunyah, digerakan kedua. Daging semur terasa aneh di lidahku. Tekstur kurasa tidak seperti daging ayam. Aku melanjutkan kunyahanku sembari menebak-nebak daging apa yang ibu masak. Namun hingga aku menelan seluruhnya, aku tidak menemukan jawaban. Aku masukkan lagi secuil daging, kembali kurasakan dengan lebih teliti. Aku tetap tidak menemukan jawabannya.

“Ini daging apa, Bu?”

“Makan saja. Bersyukurlah hari ini bisa makan enak, tidak usah banyak tanya!” kata ibu.

Setelah menghabiskan daging semur beserta nasi, lidahku kelu. Ada perasaan tidak enak mendarat di hatiku. Aku mengambil kesimpulan berdasarkan pengalamanku selama ini—walau aku ragu—daging yang baru saja kumakan ialah daging kelinci—aku memang pernah makan daging kelinci di rumah seorang temanku, saat mengerjakan tugas kelompok. Kesimpulan itu menerbitkan sebuah pertanyaan penting; jika ibu berutang kepada Mbah Kami, apa mungkin Mbah Kami menjual daging kelinci? Sepengetahuanku, langka sekali orang menjual daging kelinci, bahkan mungkin di sini tidak ada. Aku tidak mau ambil pusing, pertanyaan itu kubuang jauh-jauh dari kepala. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah.

Di halaman rumah, terdapat pohon mangga yang terkena hama. Pohon itu tidak pernah menghasilkan mangga yang manis. Di bawah pohon itu sampah daun kering biasanya dikumpulkan dan dibakar. Di dekat pembakaran daun kering itu ada tempat sampah terbuat dari bambu. Langkahku terhenti, aku tidak sengaja melihat bercak darah yang masih segar di pecahan batubata. Darah itu juga ada di sisi tempat sampah. Saat kulongok isi tempat sampah perutku seketika mual. Aku teringat dengan suara aneh semalam. Aku teringat dengan daging yang baru saja kumakan. Di tempat sampah itu, aku melihat kepala kucing yang berlumuran darah.**

Jejak Imaji, 2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *