Cerpen

Suara Karenina

December 22, 2020

Cerpen Fataty

Sovia, Musim Gugur

Ia menatap cermin, lama. Melihat wajah yang berembun setelah dibasuh air hangat. Rambut merahnya dibiarkan tergerai tak teratur. Letih. Cekung matanya terlihat makin tegas. Lelah. Beban itu tiba-tiba menumpu di sekujur pundaknya. Ia menghela napas panjang. Mengusap perutnya.

Sebotol aspirin ia ambil dari balik cermin lemari obat yang tergantung tepat di atas wasafel. Ia minum satu butir. Handuk kecil yang ia basahi diperas, lalu dikompresnya kening, leher dan kedua pipinya. Ia kembali menghela napas panjang. Memandang cermin lagi. Memaksa bibirnya membingkai tipis senyum. Gagal. Kedua matanya membulirkan setetes.

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

“Selamat pagi, Karenina. Kau terlihat pucat. Tidurmu tidak nyenyak rupanya.” Wanita berusia senja menyapa dengan hangat, memakai celemek, menyiapkan kopi, beberapa slice roti panggang dan jeruk berjuring-juring ditata rapi di piring datar. Meja makan berenda itu sudah tertata menghidangkan sarapan. Karenina duduk. Merapatkan piyama, menyeruput kopi, dan menggigit roti. Menerawang keluar jendela dapur. Berkabut dan hening. Perempuan berusia senja itu, memandang dengan raut tanda tanya pada satu-satunya putri dari almarhum kakak perempuannya. Merasa diabaikan.

“Karen, Are you okay?” Menilik wajah keponakannya yang masih saja tidak memalingkan muka ke arahnya. Ia diam tidak menjawab. Ia tetap memandang bagian belakang gadis itu. Belum juga berpaling ke bibinya. Sambil tetap memandang ke arah jendela. “Bibi Anne. Besok aku mau ke Kopenhagen.” Suaranya lirih. Hampir lenyap ditelan hawa berkabut kota Sovia, Bulgaria.

Perempuan berusia senja ini memandang dengan muka penuh tanda tanya ke arah gadis itu yang masih memandang ke luar jendela. “Kau ada tugas lagi di sana? Tak biasanya kantormu mengirim ke tempat yang sama dalam waktu dua bulan,” sahutnya heran.

“Bukan, bibi Anne. Bukan tugas. Aku hanya harus ke sana. Besok aku berangkat.”

Bibi Anne menghela napasnya sebentar. Meletakkan sepinggan pie apel hangat yang baru keluar dari oven.

“Kau seperti ibumu. Teguh dan berkemauan keras. Kau tahu kan di Denmark suhu selalu di bawah lima derajat celcius. Apalagi sebentar lagi salju turun. Oh my dear Lil girl. Be careful. Dia memberi kecupan kecil di kepala gadis itu yang selalu disebutnya Lil Girl (gadis kecil).

Karenina tetap menatap ke luar jendela. Ia memang suka memandang ke luar jendela. Jendela kamar, jendela dapur, jendela rumah pohon di rumah masa kecilnya, jendela apartemen lantai 12, jendela mobil, jendela kereta dan kini jendela pesawat.

Beberapa menit, Karenina, gadis cantik berambut merah itu, garis-garis wajahnya yang tegas khas perempuan Kaukasia telah berada di angkasa. Mata berwarna hijau, bibir tipis ditopang leher yang jenjang, seimbang dengan postur tubuhnya yang semampai. Make up-nya tidak berlebihan. Rambut merah bergelombang bak ombak lautan Baltik. Tidak terlalu ada riak. Lembut. Diikat begitu saja.

Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya desing mesin pesawat yang ujung sayapnya tertutup awan putih. Tak terlihat apa-apa. Karenina, ia tetap memilih memandang ke luar jendela.

Enam bulan yang lalu

Suasana dalam pesawat senyap. Beberapa penumpang tidur, sebagian membaca buku, majalah, brosur pariwisata. Sepasang muda-mudi yang bermesraan, dan ia menekuni layar notebook-nya. Kedua matanya tertuju pada monitor penuh huruf-huruf. Menjadi editor sebuah penerbitan besar yang memiliki cabang di beberapa negara Eropa, membuatnya sering mengunjungi berbagai negara. Kali ini Kopenhagen, Denmark. Negeri ujung hampir menyentuh Antartika ini dikenal sebagai negeri dingin, damai dan hampir nol persen konflik. Beberapa tokoh menyebutnya dengan:  A Piece Of Paradise.

Kelopak matanya terlihat lelah. Ia lepas kacamata lalu meminum seteguk air putih. Memandang sekeliling. Tenang. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang aneh. Duduk di sebelahnya perempuan sekitar 50-an tahun, sedari tadi menyapa, mengajaknya berbicara singkat, santun khas orang Inggris. Tidak berisik dan mengganggu.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita bicara dengan nada tinggi dalam bahasa Jerman. Memelototi seorang pria yang duduk di sampingnya. Beberapa penumpang lain memandang ke arah mereka. Si wanita berdiri meninggalkan tempat duduknya. Semua orang melihat. Sepertinya mereka adalah suami-istri.

Semua berpusat pada mereka, termasuk Karenina. Ia lepas kacamatanya. Ia tekan tulisan shut down di layar notebook-nya, menutup dan memasukkannya dalam tas. Ia memilih memperhatikan sepasang suami-istri yang bertengkar itu, dalam bahasa Jerman. Puncaknya wanita itu menampar si lelaki, lalu berdiri berjalan cepat menuju toilet pesawat.

Karenina membuka sedikit bibirnya melihat adegan pertengkaran itu. Ia memang tidak fasih berbahasa Jerman tapi ia sedikit memahami pertengkarannya. Karenina memutar 45 derajat ke arah kiri. Pandangannya beradu dengan seorang pria berambut cokelat. Wajahnya penuh jambang di dagu dan pipi. Memegang sebuah kamera berteropong panjang. Mirip milik paparazi pemburu Lady Diana. Seperti fotografer profesional.

Pria itu hanya beberapa meter dari tempat duduknya. Dia tersenyum lebar ke arah Karenina. Memamerkan barisan giginya yang putih. Ia mengangguk. Sekadar membalas dari pandangan mata yang beradu tanpa sengaja. Karenina tersenyum tipis.

Rosenborg Palace

Karenina berjalan menyusuri jalan setapak yang menjulur menuju sebuah bangunan tua nan megah. Sebuah bangunan yang tidak berubah struktur eksteriornya. Besar, berdinding bata berwarna abu-abu. Benar-benar tua. Melihatnya laksana terjebak dalam kisah-kisah kolosal di masa lampau. Sebuah tempat megah pertemuan para Duke.

Rosenborg Palace kini hanya penyedap Image Capture para wisatawan Kastil tua abad pertengahan. Saksi berbagai cerita-cerita masa lalu. Ia juga saksi bisu kisah Karenina. Karenina menaikkan syalnya menutupi seluruh leher jenjangnya. Mendekap kedua tangan bersilang memeluk tubuhnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia isap kuat-kuat hawa dingin kota Kopenhagen.

Dibiarkannya oksigen  memenuhi paru-parunya. Dibiarkan pula sebuah kisah singkat itu menyelam di labirin otaknya. Ia menutup kelopak matanya sebentar dan hologram seraut wajah nampak sekilas. Segera ia buka kedua mata itu lalu memandang lepas di lahan luas berumput hijau.

“Engkau seorang penulis?” Suara berat itu melontarkan sependek kalimat tanya. “Ya. Dulunya. Sekarang aku lebih banyak mengedit tulisan orang. Karena pekerjaan. Di kota ini aku ditugaskan menemui seorang penulis cerita untuk anak-anak. Perusahaan saat ini mulai concern menerbitkan tulisan untuk anak-anak.”

Pria itu menopang kamera berteropong panjang membidik bangunan dari berbagai sudut. Sesekali ia membidik Karenina sambil bicara. Karenina menikmati sejenak menjadi obyek kamera berteropong panjang itu.

“Apa yang kamu potret? Alam, manusia, bangunan?”

“Aku memotret apa saja. Tapi untuk pekerjaan fokus pada bangunan. Sebuah bangunan yang tua, modern, sempit, luas, unik, apa pun untuk sebuah program TV.”

“Oh, ya? Aku jarang nonton TV, aku pikir TV membosankan.” Karenina menyibak rambut merahnya. Ia mulai sedikit terkesan.

“National Geography. NatGeo People, tepatnya. Salah satu program bertema Humanity. Aku versi majalahnya, menyediakan foto-foto berbagai bangunan, rumah, pondok, apartemen, termasuk kastil.”

Karenina meninggalkan kompleks wisata Kastil Rosenborg Palace. Memberhentikan taksi dan turun tepat di Downtown Kopenhagen. Menyusuri trotoar. Ia tidak menuju ke mana-mana. Ia mengikuti ke mana kaki berbalut sepatu boot itu melangkah. Hanya mengamini kata hatinya. Hati itu kini dipenuhi sebuah nama yang sempat hadir dalam hidupnya. Merampok hatinya pelan-pelan.

Restoran kecil ala Italia tepat di depan kakinya yang berhenti melangkah itu memiliki sebuah riwayat bersamanya. Di sanalah ia pernah menikmati setepi senja yang syahdu bersama laki-laki yang selalu membawa kamera berteropong panjang. Membicarakan banyak hal. Tertawa bersama.

Tak bisa ia lupakan barisan putih giginya ketika tersenyum. Laksana senyuman seorang ksatria yang gagah dalam cerita-cerita klasik. Memberinya ruang teduh dari bisingnya rutinitas hidup. Di sudut ruangan restoran itu, Karenina tidak melupakan.

“Engkau memiliki mata yang indah, Karen. Kau tidak menyadarinya?” Pandangan laki-laki itu, pujian yang keluar dari bibirnya laksana dewa yang menyematkan sepasang sayap di antara kedua pundaknya. Ia merasa telah dinobatkan sebagai seorang bidadari yang cantik.

Ia menyeruput Cappucino, mengiris kecil dua lapis Wafel yang disiram sirup Mapple. Diam dalam temaram lampu-lampu meja. Wajahnya putih pucat. Riak mukanya menerbitkan kesedihan. Bibirnya menggumankan sebuah nama.

Kembali ia melihat wajahnya yang memantul di cermin yang menggantung di atas wastafel. Membasuhnya dengan air hangat. Mengambil sebutir aspirin dan menelannya sambil memejamkan mata. Melangkahkan kaki-kaki jangkungnya dengan sedikit berjingkat menuju tempat tidur dalam flat yang ia sewa selama tiga hari saja.

Desiran angin malam kota Kopenhagen menyerobot masuk di jendela kamar yang terbuka sedikit. Dingin. Karenina merebahkan diri, dan memeluk bantal, membauinya. Aroma tubuh laki-laki itu masih melekat. Bahkan bibirnya yang lembut dan jambang di dagu itu masih terasa pernah meninggalkan jejaknya di bibir, wajah, leher dan punggungnya.

Karenina menikmati setengah tidurnya dalam kenangan bersama pria itu. Ia tidak lupa betapa ia rela memainkan ritme percintaan dengannya.Ya. Setengah tidur saja. Ia sejenak menghadirkannya kembali. Kisah tempat tidur ini.

Tempat ia melabuhkan seluruh perasaannya. Menggemakan lagi lagu-lagu cinta dalam hangatnya pelukan lengan laki-laki itu, masih ia ingat suara lembut berbisik pelan, membunyikan kalimat yang seketika meruntuhkan stupa-stupa kuil cinta yang baru saja selesai ia susun. “I’m Married.“ Karenina tidak bisa memejamkan mata. Air matanya menggenang. Tangannya memegang perut yang di sana tinggal gumpalan darah yang berdenyut.***


Fataty, bernama asli Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI. Seorang guru PAI di MAN 2 Mojokerto. Tinggal di Kemlagi, Mojokerto.

Only registered users can comment.

  1. Cerpennya bagus sekali. Penuturannya lembut. Dan ending yang mengagetkan.
    Hanya sedikit celah. Suhu di Copenhagen kalau disebutkan di bawah 5derajat sepertinya kurang pas. Di bawah 0 derajat mungkin.

    1. Wuahh… Makasihh kak sudah apresiasi karya saya… Mkasih masukannya.. Saya cuma riset dari blog oerjalanan orng ke Kopenhagen… 😍😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *