Buku Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

April 2, 2019

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *