Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

July 28, 2020

Cerpen Galuh Ayara

Dua pasang roti tawar, selai stroberi, susu kemasan, darah-darah menetes, pisau, padang rumput, keranjang piknik, dan aku ingat senyum ayah. Namira tak ada. Namira tak boleh ada.

***

Suatu hari, aku sangat ingin piknik bersama ayah. Tidak perlu jauh-jauh, cukup ke bukit kecil di dekat stasiun tua itu, atau padang rumput belakang pabrik teh. Aku akan membawa roti dan selai stroberi, juga buku-buku dongeng klasik tentang seorang putri dan ayahnya sang maharaja yang baik hati. Jangan, jangan ajak Namira. Aku hanya ingin berdua saja dengan ayah.

Aku ingin sekali merasakan bagaimana lembutnya belaian tangan kekar itu di kepalaku yang kadang terasa amat berat. Aku ingin merasakan bagaimana ia mencubit hidungku seperti ia melakukannya pada Namira lalu mereka berdua tertawa-tawa. Aku ingin ayah berhenti memarahiku setiap kali aku melakukan kesalahan dan meneriakiku bodoh dan ceroboh.

Suatu hari ibu dan ayah bertengkar hebat di ruang tamu. Aku coba melerai mereka tapi ayah mendorongku dan mengulang lagi ucapan menyedihkan itu, aku hanyalah anak hasil hubungan gelap ibu dengan lelaki yang entah siapa, lalu ayah menikahi ibu karena kasihan.

Ibu, tak pernah sekali pun ia membelaku setiap kali ayah memaki dan menghinaku. Perempuan itu hanya memandangku dengan tatapan paling biasa lalu pergi ke dapur atau ke kamar tidur.

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

“Ibu, kenapa dulu aku tidak mati saja dalam rahimmu, supaya Ibu tak pernah melihatku dan mengingat laki-laki itu? Dia bangsat kan, Ibu? Tapi aku tidak tahu menahu.”

Ibu bahkan tak melirikku, tangannya sibuk dengan parutan keju dan kue bolu.

Di sisi lain, adikku Namira begitu menyayangiku. Tak segan ia membagi apa pun yang ia miliki, bahkan ia pernah mengalah; menukar gaunnya yang amat berkilau dengan gaunku yang biasa saja di hari ulang tahun kami. Aku dan Namira lahir di bulan yang sama hanya tanggalnya berbeda sepuluh angka. Usiaku hanya selisih dua tahun dengan Namira.

Aku heran, mengapa Namira terlahir sempurna dengan wajah cantik dan disayangi semua orang. Sementara aku?

Malam itu ayah mengumpulkan kami di ruang makan. Ia berkata sembari mata berkaca-kaca.

“Aku kena PHK,” katanya.

Saat itu kami semua hanya diam. Tak ada satupun yang bicara.

Di hari-hari berikutnya keadaan kami mulai sulit. Rumah semakin sering diwarnai pertengkaran. Lalu, di hari yang mendung itu, ibu pamit pergi sembari membuka payungnya yang berwarna kelabu. Ibu akan ke luar negeri, mengadu nasib sebagai TKI. Namira menangis di pelukan ayah, dan aku hanya diam seperti orang bisu.

Tiga bulan sudah ibu pergi. Kadang aku melihat ayah keluar rumah, lalu pulang dalam keadaan mabuk. Ia selalu bilang hendak mencari kerja, tapi entahlah.

Seperti malam itu, ayah berteriak sambil menggedor pintu, sebenarnya aku malas sekali bangun, tapi Namira seperti orang mati kalau tidur.

Aku setengah berlari karena takut tetangga terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus menerus. Begitu kubukakan pintu itu, ayah ambruk ke pelukanku. Aku tak tahan dengan mulutnya yang bau, tapi dia ayahku.

Susah payah aku menyeret tubuh kekar ayah ke kamarnya. Tak sempat kunyalakan lampu, buru-buru saja aku membaringkan tubuh itu di tempat tidur. Aku bukakan sepatunya, dan tiba-tiba aku merasa tangan kekar itu membelai rambutku. Kulihat ayah tersenyum, betapa senyum itu sangat kurindukan. Ayah duduk di sebelahku, lalu mengangkat daguku mendekat ke mulutnya yang bau. Aku terpejam, merasakan mulut yang beraroma alkohol itu melumat mulutku berkali-kali. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dia melakukannya dengan sangat hangat. Aku berdebar, tapi entahlah.

Pada akhirnya malam itu ayah melakukan sesuatu padaku yang seharusnya dilakukan bersama ibu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi aku bahagia. Aku seperti menemukan kesejukan salju, di antara panas dan merah darah perawanku.

“Ayah, apakah nanti kita akan piknik? Berdua saja, jangan ajak Namira,” tanyaku sambil masih meringis merasakan nyeri.

“Iya,” katanya sambil memejamkan mata.

Aku lantas beranjak. Sebelum kembali ke kamar, kupakaikan lagi pakaian ayah yang sudah mendengkur, kuulurkan pula selimut bulu untuknya, lalu sejenak memeluk tubuh itu sebelum pergi dengan perasaan campur aduk.

Siangnya, aku membuatkan segelas susu untuk ayah. Aku bawa ke kamarnya sambil senyum paling cerah. Kulihat ayah masih mengenakan handuk. Rambutnya masih basah kuyup. Aku taruh susu itu di meja, lalu pergi dengan jantung berdebar-debar. Akan tetapi, belum juga menutup pintu, ayah tiba-tiba saja menarik lenganku.

“Kinanti, maafkan ayah,” katanya.

Aku tersenyum lagi, lalu memeluk tubuh itu tanpa ragu.

Malam-malam berikutnya kami mengulanginya lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan sentuhannya. Benar, aku bergairah setiap kali berhadapan dengan tubuh kekar itu. Aku merasakan bahagia yang luar biasa dan membuatku semakin tidak ingin kehilangannya. Aku ingin terus bersama ayah sampai mati. Ayah hanya milikku. Tidak ada Namira, bahkan ibu. Esok lusa kami akan piknik berdua, di bukit dekat stasiun tua atau di padang rumput belakang pabrik teh.

Karena tidur terlalu larut malam, pagi itu aku bangun kesiangan. Keadaan rumah sudah kosong. Tak ada ayah, tak ada Namira. Di meja makan sudah tersedia roti selai stroberi, juga segelas susu yang sudah dingin. Aku menarik kursi. Saat hendak duduk tiba-tiba ponsel bergetar di saku piyamaku. Sebuah pesan daring masuk.

Kak, aku dan ayah pergi piknik. Tadi aku mau bangunkan kakak tapi nggak tega. Aku tahu kakak tidur larut malam. Kalau kakak mau nyusul, susul saja ke dekat pabrik teh.

Sial, hatiku kadung sakit. Teganya ayah membohongiku. Aku yang ingin piknik berdua dengannya, malah dia lupakan. Malah dia pergi dengan Namira. Ayah jahat. Ayah tidak pernah menyayangiku. Atau, aku yang bodoh? Ya, aku bodoh.

Aku pergi ke dapur, menyalakan keran di wastafel, kubiarkan airnya mengalir begitu saja. Aku lantas meraih pisau dari dekat kompor. Ya Tuhan, aku benci kehidupan.

***

Di padang rumput, di atas tikar piknik berwarna daun mapel, samar-samar kulihat ayah tersenyum. Kuperhatikan sekali lagi, ternyata bukan senyum. Ayah menjulur lidahnya keluar. Matanya masih ketakutan. O jangan takut, Ayah. Kupeluk tubuhnya yang membeku. Kuremas tangannya yang sedingin es. Dadanya bahkan sudah diam. Tebasan pisau di tanganku sepertinya berhasil membungkam detak jantungnya. Berapa kali tadi kuhujam dadanya? Sepuluh atau sebelas?

Namira tak ada, Ayah. Namira lari terbirit-birit. Biarkan saja. Sejak kecil dia takut darah.

Lihat, Ayah. Di sini hanya kita berdua ditemani kicau burung, capung-capung, dan matahari yang benam di balik ilalang. Kita sedang piknik. Berdua saja. Tanpa Namira. Tanpa siapa-siapa.

2020


Galuh Ayara, penulis yang masih belajar. Sudah menerbitkan buku pertamanya “Nyanyian Origami”.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *