Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

February 16, 2021

Cerpen Arafat Nur

Sudah tiga tahun lebih Laila menunggu, tetapi belum ada kabar tentang Khaidir, suaminya. Meskipun tidak terlalu yakin, dia masih berharap suaminya kembali. Cuma itu sisa hidupnya sesudah putranya juga pergi.

Hari-harinya begitu sepi tanpa suaminya dan semakin hampa setelah anak lelakinya yang digerogoti penyakit aneh meninggal dunia setahun lalu. Laila tidak tahu apa jadinya ketika suaminya nanti kembali begitu tahu anaknya telah tiada.

Kekalutan terus menyelimuti perempuan yang sudah lima tahun berumah tangga itu. Kerutan halus di bawah matanya menunjukkan betapa buram kehidupannya. Cuma sepenggal harapan yang menyulut gairahnya dalam menjalani hari-hari sepi di kampung yang terpencil itu.

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Benar saja. Ada lelaki yang sedang menuju ke situ. Jantung Laila berdegup kencang antara harap dan ragu. Perasaan itu memang menyiksanya, sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena dia masih bisa berharap suaminya itu pulang.

“Laila, kenapa termenung?!”

Ternyata lelaki itu bukan Khaidir. Perempuan itu tersipu karena ketahuan melamun lagi.

“Oh, Bang Alan rupanya. Dari mana?”

“Baru pulang melaut. Ini kubawakan sedikit ikan untukmu, tapi tak segar lagi.”

“Kapan Bang Alan mulai melaut?” Laila agak terkejut.

“Baru seminggu ini.”

“Abang tak lagi membajak sawah?”

“Payah. Wereng begitu merajalela. Lagi pula sudah terlalu lama hujan tidak turun-turun. Sawah-sawah di lembah sudah kekeringan. Bagaimana padi bisa tumbuh di tanah kerontang yang pecah-pecah?”

Perempuan itu tertegun. Itu pula alasan Khaidir menyingkir dari dusun itu untuk mencari penghidupan lain. Namun, suaminya bukan pergi melaut, melainkan bekerja di Pelabuhan Kota Banda. Jaraknya begitu jauh bagi perempuan semacam Laila. Lagi pula dia belum pernah pergi ke luar kampung selain ke kota kecamatan.

“Ini ikannya,” Alan mengacungkan bungkusan plastik hitam.

“Apa di Kuala, Bang Alan ada dengar-dengar kabar tentang Bang Khaidir?”

“Belum sih. Abang sudah tanya-tanya sama beberapa nelayan, tapi tidak ada yang tahu,” sahutnya.

Wajah perempuan itu berubah muram. 

“Kamu jangan bersedih begitu. Kalau ada umur, pasti Bang Khaidir pulang.”

Laila berusaha tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Lelaki yang masih membujang itu pamit. Sepi kembali menghimpit dada perempuan itu.

Sebenarnya, harapan-harapan Laila tidak beralasan. Dunia pun tahu kalau ombak besar tiga tahun lalu itu sudah menenggelamkan sebagian besar Kota Banda dan sejumlah tepi pantai. Dua puluh lima ribu lebih orang meninggal, dan belasan ribu lainnya hilang tanpa jasad dan tanda digulung ombak.

Oh, Laila tak menginginkan ombak itu menelan suaminya. Barangkali saja ketika ombak itu menghantam daratan, Khaidir tidak lagi di sana. Hari itu Minggu, bisa saja suaminya pergi ke tempat lain karena libur kerja. Dia yakin itu meskipun sampai sekarang dia tidak menerima kabar apa-apa.

Tentunya jika Laila tidak memiliki harapan lagi, dia sudah menerima lamaran tuan tanah, Ampon Lah, yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Atau Bang Gani berkepala empat yang masih terus membujang. Lagipula tiga tahun baginya belum terlalu lama untuk menunggu suaminya pulang.

“Tapi berapa lama lagi kamu harus menunggu?” tanya Cek Midah, bibinya, yang cemas dengan keadaan Laila.

“Aku tak tahu, Cek. Tapi kalau sudah terima kabar tentang Bang Khaidir, baru nanti bisa aku putuskan….”

***

Rumah yang terletak di pinggang bukit menawarkan hamparan pemandangan indah. Kadang-kadang Laila bisa merasakan bau laut yang dibawa angin menjelang petang. Sedangkan malam, cuma angin gunung yang mengusupkan dinginnya kesunyian. Suara serangga menyelinap sampai ke dalam tidurnya. Tengah malam Laila terbangun, ditemui dirinya terbenam dalam kesepian.

Empat tahun sudah berlalu hidup yang dijalani sendiri. Orang-orang mendesak agar dia segera menikah lagi. Selagi masih muda, masih ada lelaki yang suka. Lagipula tidak mungkin dia terus-terusan sendirian tanpa suami dan anak lagi. Bagaimana hari tuanya nanti? Hidupnya semakin sepi, tanpa seorang pun yang menemaninya.

“Diam-diam Bang Alan juga menyukaimu,” kata Cek Midah.

“Yang betul?” Laila terhenyak.

Alan lelaki sederhana, baik, dan pekerja keras. Dia mau bekerja apa saja demi bertahan hidup. Selama ini dia pula yang menghidupi kedua orang tuanya. Ketika mudah rezeki, Alan tidak sungkan-sungkan membantu Laila. Tidak ada lagi yang memberikan nafkah kepada perempuan itu sejak suaminya pergi. Satu-satunya sumber penghidupannya adalah sepetak kebun kelapa di belakang rumah yang buahnya sudah jarang. Akar-akarnya kekurangan air selama kemarau ini.

Laila teringat Alan, tetangga paling akrab dan paling peduli. Dia yakin, perhatian lelaki itu padanya tulus tanpa pamrih. Semata-mata bantuan yang diberikan Alan itu atas rasa kemanusiaan. Alan pula yang sering menghibur gundah hatinya yang tak berkesudahan.

“Betul,” jawab Cek Midah.

“Dari mana Cek Midah tahu?”

“Dia sendiri yang bilang.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia belum ingin kawin, kalau suamimu belum pulang.”

“Apa hubungannya?”

“Ya, kamu pikir sendiri.”

Kening Laila berkerut.

“Dia juga bilang, dia akan kawin kalau kamu sudah kawin lagi.”

Alan memang mempunyai kesamaan dengan Khaidir. Selain rajin, dia juga gigih. Lagipula Alan memiliki rupa tidak jelek, meskipun tidak terlalu tanpan. Sebagaimana wajah lelaki Aceh kebanyakan, begitulah Alan. Dia memiliki rahang kuat sebagaimana jamaknya petani atau nelayan. Kulitnya agak legam, memang, karena sering terbakar matahari.

“Kamu tahu?” tanya Cek Midah. “Itu artinya dia menaruh hati padamu.”

“Hmmm….” pipi Laila merona.

“Jika kamu bersedia, orangtuanya akan datang melamar. Kita bikin saja acara yang sederhana….”

***

Lengkungan ujung janur kuning melambai-lambai di pintu pagar rumah itu. Dua tenda terpasang, menaungi orang-orang yang sibuk menyiapkan dan menyantap hidangan. Tercium aroma masakan kari ayam. Terdengar sentuhan sendok, gelas, dan piring kaca, sesekali orang tertawa.

Mereka tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berkaus hitam. Dia menerobos kerumunan orang-orang yang sedang sibuk satu sama lain atau dengan diri mereka sendiri. Di depan pintu rumah, lelaki itu memandang Laila dan Alan sedang bersanding di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia tanpa sadar kehadirannya.

“Aku pulang….” ucap lelaki itu.

Seketika ruangan hening. Sangat hening.

Laila berusaha meyakinkan penglihatannya. Tidak lama kemudian dia terpekik menghambur ke tubuh lelaki itu. Sedangkan Alan terpana, tubuhnya terlonjak berdiri. Tubuh pengantin pria itu seperti beku.

“Bang Khaidir!” pengantin perempuan itu bersimpuh di kakinya.

Sesaat saja ruangan pelaminan yang sempit itu sesak oleh orang-orang yang berada di luar. Tidak hanya tamu, para pekerja pun memasakkan tubuhnya melesak dalam kerumunan. Pintu rumah itu seakan ingin terkuak lebih lebar lagi.

Tak ada yang tahu kalau lelaki itu masih hidup dan terdampar oleh gelombang raya di sebuah pulau terpencil selama hampir empat tahun lamanya.***

Aceh, 2016-Ponorogo, 2020


Arafat Nur, dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Novel Lampuki (Gramedia) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011 dan memenangkan sayembara DKJ 2010. Buku kumpulan cerpen terbarunya Serdadu dari Neraka (Diva Pres, 2019).

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *