Cerpen

Subali

March 26, 2019

Cerpen Adam Yudhistira

Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja, lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.

Malam esoknya, Sudra kembali berdandan rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.

“Kita akan menyudahi penderitaannya,” bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.

Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan, biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia tak pernah mengenal siapa bapaknya. Yang ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.

Penderitaan membentuk jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna. Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.

Ia menamai perempuan itu Sudra, sebab begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.

Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali memberinya nama Melati.

“Ibunya lonte, bapaknya berandal!”

Begitulah tajamnya kata mengoyak jiwa Subali dan Sudra. Kerap tangis mengalun di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.

Membunuh adalah hal yang paling gampang bagi Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi, tersimpan rapi di dalam brankas besi dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya. Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan kemelaratan.

Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi peribahasa itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.

Mungkin jika karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus datang. Dan kesulitan itulah yang  membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan hidupnya yang lama: menjadi pelacur.

Bibir lelaki itu tak kuasa berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar jika Sudra bukanlah perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya menyala dendam yang membara.

***

Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.

“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.

Subali mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan perbuatannya. “Diamlah! Aku memang  telah membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.

Sudra hilir mudik,  langkah kakinya bolak-balik. “Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”

“Katakan saja pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.

“Apakah mereka akan percaya?” tanya Sudra bimbang.

“Ya, mereka akan percaya,” jawab Subali.

Sudra duduk di tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut bergelut.

“Kenapa kau bunuh dia? Aku rela menerima perlakuannya.”

Subali terbahak, lalu meludah. Gumpalan ludahnya mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.

“Karena aku mencintaimu.”

“Tapi, kau tak perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali jika ia sadar bahwa  wujud asli Subali bukan orang suci, apalagi nabi. Subali adalah iblis.

“Jika bukan aku yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Sudra menyeringai. Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.

Subali terdiam. Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala Sudra.

Sudra menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak kita. Lelaki ini bukan orang sembarangan.”

Subali terdiam cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit sekalipun. Bukan orang sembarangan, kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.

Lelaki itu menyulut sebatang kretek, lalu berjalan mondar-mandir. Di depannya Sudra yang belum sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanya Subali. Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang mengambang ke seluruh ruangan.

“Dia Anggota Dewan.”

Subali meludah sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka tanpa rasa berdosa.

“Aku tidak takut.”

“Polisi akan memburumu.”

“Polisi?”

Subali membuang muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia mengisahkan jika pada suatu malam, ketika ia menggorok leher Kapten Santoso. Kepala satuan polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka menganga di lehernya.

“Aku tidak takut.”

“Mereka pasti akan membalas dendam dan membunuhmu.”

“Aku juga tidak takut.”

“Tapi aku yang takut. Aku takut kehilanganmu!”

Sudra akhirnya menyerah. Air matanya meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

“Aku akan baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”

Subali dan Sudra berpelukan, seolah-olah itu pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.

***

Kereta malam melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari dari kejaran enam orang lelaki berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari dan berlari, menyeret kakinya yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.

TAAR!

Satu letupan keras terdengar. Lelaki itu tersungkur. Debu-debu berhamburan, serupa anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu peluru menerpa punggung hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***


Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Only registered users can comment.

  1. Keren .. Sekali baca tak perlu lama; tak membosankan. Cinta yang membodohkan; satu sama lain saling membohongi diri masing-masing. Demi apa? Anak suci yang lahir dari rahim pelacur dan kentungan demit berandal, Subali dan Sudra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *