Cerpen

Sukab Anak yang Baik

April 6, 2021

Cerpen T. Sandi Situmorang

Pada awalnya, kupikir hal paling menyedihkan dalam hidup ini adalah melepas suami ke pemakaman. Lima tahun kemudian barulah kusadari bukan itu hal paling menyedihkan dalam hidup, ketika di sebuah senja dipenuhi gerimis kulepas Sukab. Beberapa lelaki mengangkat peti berisi anak sulungku itu sementara aku menimang luka di sudut rumah kami.

Aku berniat mengantar Sukab sampai pemakaman, melihat tubuhnya diturunkan ke lubang, kemudian menabur kembang di atasnya. Orang-orang melarangku. Menurut mereka aku terlalu lelah. Lebih baik kuantar Sukab dengan melepas doa-doa ke langit.

Jangankan melepas doa ke langit. Duduk pun aku tiada mampu. Para lelaki itu seperti membawa jiwaku pergi. Tidak kurasakan apapun dalam tubuhku, dalam hatiku, juga dalam pikiranku. Dua puluh dua tahun Sukab hidup bersamaku, sekarang dia pergi. Sepanjang tahun-tahun itu Sukab kutaburi cinta, sekarang dia mati.

Mati menyedihkan. Dengan alasan menyakitkan, yang tidak bisa kuterima. Tidak mungkin Sukab melakukannya. Sukab anak baik. Sedari kecil otaknya kujejali nasihat serta ajaran agama. Ia tahu apa yang baik juga buruk, apa yang pantas dan tidak pantas ia lakukan. Ia mengerti apa yang harus ia dekati juga apa yang harus ia jauhi.

Sukab selalu mengalah pada ketiga adiknya. Ia memilih perutnya melilit kosong sementara adiknya terbaring kekenyangan. Ia tidak mengeluh padaku. Ia selalu mengadu pada Tuhan, ketika diam-diam malam semakin tebal.

Sukab anakku. Anakku yang sangat baik. Yang paling baik dari keempat anakku. Aku yang paling tidak percaya Sukab mampu melakukan itu. Membunuh nyamuk yang mengisap setetes darah dari lengannya saja ia tidak mampu. Mana pula mampu melumat manusia. Bukan satu atau dua. Melainkan belasan.

Sukab bukan pelakunya. Anak tampanku itu sama seperti pemilik belasan tubuh yang terkapar mengerikan. Sukab hanya kebetulan berada di tempat itu, berada teramat dekat dengan pelaku ketika bom meledak. Itulah penyebab tubuh Sukab lebur, sementara tubuh pelaku menjadi abu.

Aku sedih hidup Sukab berakhir dengan cara seperti itu. Aku tidak terima Sukab dituduh begitu. Aku sakit hati rumah kami diobrak-abrik orang-orang yang tidak kukenal. Aku marah saat mereka sampai menguliti kasur tempat tidur Sukab.

Mereka meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Aku berteriak marah, sudah kubilang Sukab anak baik-baik. Mereka acuh saja. Pergi dengan mulut terkatub. Tidak meminta maaf padaku, apalagi sampai membenahi semua yang mereka obrak-abrik.

Tidak sampai satu jam kemudian, di layar tivi kusaksikan. Orang-orang itu bilang mendapat banyak bukti dari rumah, terutama dari kamar Sukab. Mereka jelas berbohong. Aku menjadi saksi mereka tidak mendapatkan apapun.

Barang-barang bukti ditunjukkan. Aku nyaris terkencing celana karena ledakan tawa. Lucu sekali. Apa mata mereka buta, atau tidak bisa membaca? Yang mereka bilang bukti-bukti itu  adalah buku-buku agama. Jangankan Sukab, aku pun memilikinya.

Ada-ada saja mereka. Bisa-bisanya penemuan buku agama itu mereka jadikan bukti kuat memang Sukab pelakunya. Mereka salah. Karena buku-buku itulah Sukab menjadi anak baik. Selalu berada di jalan Tuhan.

***

Duka masih kutimang-timang dalam hati. Kehidupan Sukab dikorek hingga dasar. Tiba-tiba saja orang-orang asing hilir mudik ke rumah tetangga kami. Tidak sampai sehari, bergantian tetangga muncul di tivi. Mereka bilang, tidak begitu tahu perihal Sukab sebab anakku itu kurang bergaul dengan mereka. Setelah Sukab tidak lagi membantuku di ladang, mereka tidak tahu pasti apa pekerjaan Sukab. Mereka jarang melihat Sukab.

Sukab ….

Ingin kulempar saja tivi itu. Bisa-bisanya mereka bilang begitu mengenai Sukab. Dengan jelas mereka tahu Sukab seorang pedagang yang sering ke luar kota. Mungkin benar Sukab kurang bergaul dengan tetangga. Tetapi Sukab selalu memberi senyuman setiap berpapasan dengan mereka. Apa mereka ingin setiap saat Sukab mendatangi mereka satu per satu ke rumah masing-masing?

Yang benar saja.

Aku memaki-maki tivi. Dua hari kemudian, tivi itu menghilang dari rumah kami. Semula kupikir tivi itu diangkut orang-orang yang mengobrak-abrik rumah kami. Ternyata tidak, salah satu adik Sukab mengungsikannya ke tempat yang tidak kuketahui. Mereka takut pikiranku semakin kacau karena menyaksikan pemberitaan mengenai Sukab.

Aku tertawa dibuatnya. Anak-anakku pun sudah sama anehnya dengan orang-orang itu. Pikiran mereka yang kacau, bukan pikiranku. Sekarang pikiran adik-adik Sukab ikutan kacau. Jauh di palung hati, sebenarnya aku marah pada adik-adik Sukab. Tidak sebutir pun kulihat kesedihan menancap di wajah mereka. Padahal Sukab, orang yang telah membantu mereka supaya tidak mati kelaparan, meninggal dengan cara teramat tragis. Sukab hanya korban, malah dituduh berbuat keji. Bisa-bisanya mereka tenang saja. Andai adik-adik Sukab itu marah besar sampai membakar stasiun tivi dan kantor polisi sekalipun, masih dapat kumaklumi.

Adik-adik tidak berguna mereka itu semua. Untuk apa aku punya anak seperti itu. Sia-sia menghidupi dan membesarkan mereka selama ini. Tahu begitu, kubuang saja mereka ketika lahir dulu. Karena aku masih punya akal, tentu mereka kutinggalkan di depan panti asuhan, atau di depan rumah orang kaya yang tidak memiliki anak. Bukan di tong sampah, atau menggencet lehernya kemudian mencampakkannya ke sungai.

***

Malam itu, ketika anak-anakku pulas sampai termimpi-mimpi, aku merayap keluar rumah. Jauh di puncak kepalaku, langit pekat. Aku berjalan menuju ladang dengan berbekal ingatan di mana tikungan kecil, di mana ada lubang, dan di mana letak tanjakan. Ladang kami tidak sampai satu kilometer jauhnya. Ada yang harus kukerjakan di sana, dan aku tidak ingin seseorang melihatku. Itu sebab senter di tanganku tidak kunyalakan. Aku harus sangat berhati-hati. Barangkali ada pihak yang memantau pergerakanku belakangan ini.

Sehari sebelum Sukab tewas, ia mengajakku masuk ke dalam gubuk reot di ladang kami. Gubuk itu berlantai tanah, Sukab menggalinya tidak terlalu lama. Kemudian memasukkan sebuah kotak besi ke dalam lalu menutupnya dengan tanah.

Aku bertanya apa isi kotak itu. Kenapa Sukab menguburnya di situ.

Kata Sukab, isinya sangat rahasia. Selain dia, hanya aku yang tahu. Sukab mengizinkanku melihat isinya. Tapi tidak saat itu. Sukab bilang akan tiba waktunya aku bisa melihat isinya.

Aku merasa sekaranglah waktunya. Aku sangat penasaran. Bila memungkinkan, akan kuperlihatkan isi kotak itu pada semua orang. Biar mereka tahu, Sukab anak baik-baik. Sukab bukan pembunuh.

Dengan cangkul kukeluarkan kotak itu. Kotak itu terbuat dari besi, jadi lumayan berat walau tidak terlalu besar. Keningku mengerut melihat isinya. Cahaya senter lebih kudekatkan lagi. Ada kertas putih terlipat di samping benda asing itu.

Di sini kutulis cara menggunakan bom ini. Ibu ledakkan saja apa yang ingin ibu hancurkan. Jangan takut, aku menunggu ibu di surga.

Tanganku bergetar memegang kertas itu. Sukab seperti terbangun dari kubur, wajahnya menari-nari di depan mataku. Anakku Sukab, yang sangat baik dan sayang keluarga ….

Kuenyahkan wajah Sukab. Kutimang luka dan sakit hatiku sembari memandang benda dalam kotak. Aku tersenyum. Sebilah rencana menancapi akalku, akan kuhancurkan mereka. Mereka yang telah memfitnah Sukab sebagai teroris. Sukab anakku yang paling baik. ***


T. Sandi Situmorang,  lahir di Hutaraja, sebuah desa kecil di Pulau Samosir. Suka menulis novel, cerpen dan puisi. Sekarang menetap di Binjai, Sumatera Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *