Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

February 19, 2020

Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan

Vin yang terkasih,

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kali menghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yang tak kunjung lenyap dari lorong-lorong kenanganku.

Masih jelas dalam ingatanku, kau yang selalu menempati kursi di sebelah rak buku sastra itu setiap hari Sabtu dan Minggu. Kau terlihat begitu khusyuk ketika sudah mulai membaca, seolah sedang melakukan semacam ritual suci. Kadang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang kau rasakan ketika membaca cerita-cerita fiksi? Apakah itu bisa membuat kesadaranmu pergi sementara dari realitas yang seringkali keparat ini?

Dalam keheningan, selepas mengunjungi perpustakaan dan mengenangmu, aku tiba-tiba jadi ingin mencurahkan segenap perasaanku melalui surat, Vin. Dan mungkin ini adalah surat cinta pertama sekaligus yang terakhir dariku.

Sebentar lagi aku akan menyematkan cincin ke jari manis seorang perempuan yang telah memberiku segala-galanya. Aku mengenalnya ketika nasib yang gelap menikamku dengan cara menyakitkan selepas kau pergi. Ah, andai saja kau tahu, bagaimana aku menderita dan bahkan nyaris mati kalau saja ia tak meniupkan harapan serta daya hidup ke dalam jiwaku, berkali-kali.

Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba memantapkan diri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan segenap kesungguhan yang ada pada jiwa-ragaku. Meski sampai sekarang, setiap kali menatap sepasang matanya, aku justru seperti menatapmu dan setiap membelai wajahnya, aku malah selalu teringat pada wajahmu yang senantiasa merona itu.

Genap dua tahun sudah kau pergi dan rasanya aku masih sering melihatmu berkelebat di mana-mana. Kau membayang di jalan-jalan, di baliho-baliho, di pertokoan, di pohon, di rerumputan, tiang listrik, papan jalan, dan bahkan gang-gang yang kulalui setiap saat. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku sekarang berlari menyongsong keberadaanmu yang seolah lenyap di persimpangan waktu?

Rasanya baru kemarin, aku bahagia karena bisa mendeskripsikan rambutmu dengan detail. Warna merah tua yang seperti warna langit ketika cahaya matahari mulai terbenam. Dan wajahmu khas pemain opera sabun di televisi dengan lesung pipit yang muncul tiap kali kau tersenyum bila menemukan hal-hal menyenangkan dalam bacaanmu dan kening yang sesekali mengerut saat menemukan hal-hal menyedihkan. Sementara kedua matamu, tajam dan menakjubkan bagai mata seekor elang. Meski mata itu tak pernah menatapku sekalipun aku sering curi-curi pandang ke arahmu.

Vin yang manis, apakah sekarang kau berbahagia dengan kehidupanmu?Aku harap demikian. Sebab akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa hidup semakin rumpil dan membosankan. Setiap hari kulihat orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran menurut mereka lewat televisi, media sosial, koran, dan mimbar-mimbar di tempat ibadah. Klaim siapa benar, siapa salah, memekakkan telinga dan memedihkan pandanganku, hingga susah membedakan mana kebenaran sejati dan yang bukan. Telinga dan mataku, seperti tak mampu lagi mengenali siapa musuh dan siapa kawan.

Dalam kekacauan tak berkesudahan ini, aku merindukan sosokmu yang selalu bisa memberi ketenangan, hanya dengan obrolan-obrolan sederhana. Aku ingin suatu saat, kau kembali hadir dalam keadaan utuh sebagaimana di hari-hari ketika aku memandangimu dari kursi di sebelah utara diam-diam. Ajari aku melewati gerbang kata-kata untuk kemudian menjalani kehidupan alternatif dalam novel atau cerita-cerita pendek. Dalam karya sastra, suatu nasib, yang paling buruk dan menyedihkan sekalipun, selalu memiliki nilai keindahannya sendiri. Aku ingat persis kalimatmu itu, yang kau katakan pada suatu sore ketika aku bertanya banyak tentang sastra dengamu.

Dan rasanya sampai hari ini aku tidak bisa berpikir sepertimu, Vin. Bagiku, nasib buruk adalah nasib buruk. Kekacauan adalah kekacauan. Badai adalah badai. Mampukah kau menunjukkan keindahan yang betul-betul bisa kita panen dari ke semuanya itu? Atau pernyataanmu yang dulu meluncur hanya untuk menutupi kerapuhanmu sendiri?

Ah, andai saja waktu itu aku betul-betul memberanikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya, dengan demikian, aku tahu di mana bisa mencarimu pada saat-saat kacau seperti sekarang ini. Tidak masalah kalaupun kau memang betul-betul telah kawin dan bahkan beranak-pinak. Aku akan tetap mengunjungimu. Melihat kau yang sehat dan tersenyum, lalu berdiskusi sebentar mengenai sastra serta realitas, itu saja sudah lebih dari cukup.

Aku tidak tahu nama lengkapmu, meski sejujurnya aku sangat ingin mengetahuinya.Vin, panggil aku Vin saja, begitu katamu. Sungguh, aku ingin memiliki kesempatan untuk mengetahui nama panjangmu. Sebab dengan begitu, rasanya aku sudah sejengkal lebih baik dalam menciptakan peluang kedetakan di antara kita. Namun aku kemudian berpikir, haruskah kita dekat? Sementara aku selalu merasa seratus persen utuh tiap kali bertemu dengamu tanpa perlu mengenalmu lebih dekat dan lebih mendalam. Sehingga waktu itu aku lebih memilih sebatas menjadi semacam teman kenalanmu saja sembari diam-diam terus memeram seluruh isi perasaanku.

Kukira, aku akan selamanya bersikap demikian.Namun cinta adalah kekuatan irasional yang sukar dibendung. Aku sempat mengalami semacam paradoks menjelang kepergianmu. Saat itu aku sangat ingin memilikimu, tapi sekaligus ingin membiarkanmu tetap tak terjangkau saja. Kau adalah keindahan dan aku berpikir, ada kalanya suatu keindahan justru menjadi rusak begitu ia dimiliki. Di sisi lain, kadang aku juga merasa bahwa harus ada sosok yang memuja serta menerjemahkan keindahan rupamu. Dan orang itu haruslah aku.

Pada titik itulah, aku lalu memutuskan untuk mencoba mengajakmu jalan. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba mendekatimu. Soal apakah nantinya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih yang menjalin percintaan atau sama sekali tidak, itu urusan lain.

Namun keesokan harinya, setelah aku memantapkan keyakinan, kau tak datang ke perpustakaan. Aku masih berpikir kau mungkin sakit atau ada urusan penting barang satu-dua hari. Tapi setelah dua akhir pekan terlewati, kau tak juga muncul dan aku mulai cemas.

Lalu datanglah, Sabtu yang gelap itu…

Hari itu, kau akhirnya datang. Dengan wajah yang semakin merona, dengan kecantikan yang kian memesona. Aku sudah menyiapkan diri dengan pura-pura mencari novel di rak buku-buku sastra. Rencananya, begitu kau duduk di kursi favoritmu itu, aku akan membuka obrolan dengan mengajakmu ke sebuah pameran buku-buku sastra yang kebetulan sedang dihelat di toko buku langgananku.

Engkau perlahan membuka pintu perpustakaan dan menuju ke meja petugas untuk mengembalikan dua buah buku pinjaman. Petugas itu bertanya kenapa kau beberapa waktu terakhir tidak menyambangi perpustakaan. Dan kau tersenyum, sambil menunjukkan sebuah cincin yang telah tersemat di jari manismu. Lalu kudengar ucapan selamat dari si petugas perpustakaan. Kau mengucap terima kasih dan berkata pada si petugas, bahwa hari itu adalah kali terakhir kau menghabiskan waktu di perpustakaan dan kota ini.

Dadaku sesak, napasku tersengal. Ada kesedihan yang berusaha kuperam hari itu. Kesedihan yang mendesak keluar hingga membuat pandanganku mengabur. Masih dalam keadaan serba kacau, kau mendekat. Hendak duduk di kursi favoritmu. Dan sebelum kau duduk, kita sempat bersitatap untuk kesekian kalinya. Saat itu, kau tersenyum ke arahku dan seolah ingin mengajak bicara.

Apakah waktu itu aku membalas senyum pertama sekaligus terakhirmu, Vin? Aku lupa. Tapi jika aku tak sempat membalas lantaran jengkel bercampur sedih, sudilah kiranya engkau memaafkan.

Setelah Sabtu gelap itu, kau tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan di akhir pekan. Aku mungkin masih bisa berdamai dengan diriku apabila kau tetap datang ke perpustakaan—sekalipun harapan untuk menggapaimu pupus sudah. Namun pada kenyataannya, kau memang telah pergi dan sejak hari itu, aku menjadi laki-laki pemurung yang barangkali tidak akan pernah lagi bisa jatuh cinta dengan perasaan yang sama seperti padamu.

Kadang, aku masih suka membayangkan bagaimana seandainya aku tak bersikap naif dan menunda-nunda waktu untuk mendekatimu. Aku tentu tak akan berakhir hanya sebagai teman kenalan di perpustakaan. Setidaknya, kita bisa bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Lalu kita akan menjadi akrab seiring berlalunya hari sebagaimana sepasang kekasih dalam film-film Holywood.

Kalau pun aku tetap tidak menjadi sosok yang akan melingkarkan cincin itu ke jari manismu. Setidaknya, aku pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Begitu saja sudah cukup untukku.

Namun semua itu kini tinggal angan saja. Seseorang yang lebih berani telah datang dan mengajakmu membangun bahtera hidup bersama untuk berlayar mengarungi lautan nasib yang serba tak menentu. Aku cuma bisa berharap, semoga saja ia memang bukan sosok laki-laki bebal yang cuma ingin menguasai setiap jengkal lekuk tubuhmu. 

Vin, yang kucintai…

Sembari mengingat segala tentang engkaulah, surat ini kutulis. Sayang sekali aku tidak tahu kau hidup di mana dan bagaimana kondisimu sekarang. Oleh karena itu, agar sampai kepadamu, surat ini akan kulipat menjadi perahu kertas dan kularung ke sungai. Aku hanya bisa berharap, kelak, kata-kata dalam surat ini akan lebur bersama air dan merasuki ruang kesadaranmu melalui semilir angin dan derai-derai hujan.

Yogyakarta, 2020


Khumaid Akhyat Sulkhan, pemuda kelahiran Batang ini menulis esai dan cerita pendek demi mengatasi perasaan galau. Beberapa tulisannya bisa dibaca di Republika, detik.com, magdalene.co, thecolumnist.id, Mojok.co, dan lain sebagainya. Penulis bisa dihubungi di Twitter @kasulkhan atau Instagram akhyat_sulkhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *