Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

Continue Reading...

Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

Continue Reading...

Cerpen

Dunia Kami

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

Continue Reading...

Ilustrasi Cerpen Priyo Handoko
Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Continue Reading...

Cerpen

Ia Tak Ingin Dicintai

“Sebaiknya engkau pulang sekarang, sebelum kau mulai mencintai saya, dan saya akan membunuhmu kemudian,” ujarnya mengingatkan–apabila saya sudah terlalu larut di apartemen mungilnya.

Continue Reading...

Cerpen

Kisah Cinta Abalawa dan Pohon-Pohon

Saat itu, yang kuingat, Jafar suka mengoceh untuk sekadar mengisi kekosongan sebelum kami sama-sama tiba di sekolah. Sudah lebih dari dua tahun setiap pagi kami berangkat dengan cara seperti ini, tepatnya semenjak kami memasuki sekolah menengah pertama. Namun baru kali itu, apa yang dia katakan bikin aku nanap.

Continue Reading...

Cerpen

Seorang Remaja Ditemukan Tewas di TPA Lingkar Selatan

Cerpen Tjak S. Parlan Ketika hendak menghunjamkan pisau untuk ketiga kalinya, ujaran Ahmad Saleh terngiang kembali di telinga Fahmi Idris: ‘Jangan bodoh! Kalau ada maling atau rampok, diam saja. Orang-orang toh akan keluar rumah setelah semuanya beres. Kecuali kamu mau mampus!’ Fahmi Idris telanjur mengangkat tangannya—dan pisau ituteracung gemetar, menunggu bersama kilatan cahaya kembang api […]

Continue Reading...

Cerpen

Rindu yang Membuatku Mati

Kini aku merasakan tubuhku melemas dan dingin. Semacam isyarat racun rindu yang bersarang di tubuhku telah menjadi kanker ganas yang siap melenyapkan nyawaku. Kini saatnya aku menyusulmu. Baiklah, akan kupejamkan mataku untuk menyambut kematianku ini. Aku ingin saat mataku terbuka nanti, aku telah berada di tempat yang sama denganmu.

Continue Reading...

Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Continue Reading...