Cerpen

Selepas Ibu Pergi

Kau memutuskan masuk rumah ketika hujan mulai turun deras. Udara di sana cukup pengap, karena pintu dan jendela yang sudah lama tidak dibuka. Saat baru saja melangkah, kau disambut suara mesin jahit tua yang sudah mulai berkarat di ruang tamu milik ibumu.

Continue Reading...

Cerpen | Uncategorized

Pohon Hayat dan Pelacur Suci

“Aku turun dari langit,” jawabnya setiap ada orang bertanya. Ia memang seperti itu, misterius sekaligus tak bisa dipahami. Ia datang pada suatu purnama, menuruni bukit sambil menggembol emas dalam karung, lalu mendirikan gubuk di sisi tenggara desa, menerima tamu lelaki hidung belang dari desa-desa tetangga, dan selalu bilang masih perawan. Pernah suatu kali Lajang Prema yang risi dengan desas-desus di antara warga, mendatanginya. Namun, Puan Labiri tak mengakui bahwa dirinya pelacur.

Continue Reading...

Cerpen

Pengakuan Dosa

“Tidak ada yang berubah, Nak. Rezim boleh berganti, penguasa di mana pun sama saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah mempertahankan kekuasaan, dan mereka akan melakukannya, bagaimanapun caranya,” kata ayah tegas.

Continue Reading...

Cerpen

Tameng

Perkataan Mae membuatnya teringat pada kejadian tujuh tahun lalu, saat usianya masih dua belas tahun. Siang itu Pi’i datang mengetuk pintu rumahnya. Hasbi bergegas membuka.

Continue Reading...

Cerpen

1.001 Kura-Kura

Aku masih melihat sekeliling, mencari sesuatu yang dapat menghibur. Tetapi tak ada apa-apa selain kelengangan panjang bagai tiada habisnya. Seluruh tempat ini berwarna putih pucat.

Continue Reading...

Cerpen

Jalan Lain

Selepas banyak kelakar tentang kabar, pak pendeta kemudian mengajak kami ke ruangan utama gereja. Ruangan yang sebenarnya hanya disekat tripleks dengan ruang tamu pastoral tempat kami menyeduh teh buatan ibu pendeta.

Continue Reading...

Cerpen

Todo dan Lak Wahar

Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.

Continue Reading...

Cerpen

Yang Membusuk di Dada Badri

Persoalan-persoalan yang datang barang tentu tiada jauh dari urusan perut belaka. Hari-hari mereka bagai api dalam sekam. Prahara bisa mengemuka kapan saja. Oleh sebab itu, satu-satunya pengharapan Muna akan seorang anak sungguh menjadi pelita dalam kelam, yang tiap kali mampu mengendurkan amarahnya. Ia berpikir, kehadiran buah hati setidaknya mampu menepis letih yang tiada juga berpaling selama delapan tahun belakangan.

Continue Reading...

Cerpen

Suro Gentho

Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat. Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.

Continue Reading...

Cerpen

Lucy di Bulan

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Continue Reading...