Cerpen

Pedagang Surga Keliling

Belum hilang keluhan Marno dari otakku, hari ini kabar tentang dirinya sudah sampai di telinga lagi. Aku lumayan terkejut. Malamnya aku langsung bertandang ke rumah Marno, menyelidiki kebenaran kabar itu. Setibanya di sana aku mendapat sambutan paling menyedihkan dari Marno sepanjang kami berteman. Wajahnya tampak kacau. Matanya—yang setiap hari sudah meredup—kini serupa lilin yang akan padam hanya dengan satu jentikkan jari. Kemalangan Marno itu diperparah ketika aku lihat tiga kancing paling atas di bajunya terlepas. Pemandangan yang sungguh tak baik bagi kesehatan mata.

Continue Reading...

Cerpen

Perubahan Sudut Pandang

Ia meninggalkanku sebelum aku mengatakan semuanya. Ia buru-buru menuju kamarnya. Kudengar secara samar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Cara bicaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan suatu hal genting. Dan memang begitulah yang sedang terjadi. Sebuah ledakan—oh, bukan hanya satu ledakan, tapi banyak ledakan—pada tengah malam. Apa lagi kalau bukan suatu pertanda hal genting sedang terjadi?

Continue Reading...

Cerpen

Pemanah

Karna terperanjat melihat siapa yang datang. Wrusali yang hanya mengintip dari dalam bilik menyimak dengan sedikit merapatkan kuping ke arah pintu. Ia melihat sorot mata suaminya yang terluka.

Continue Reading...

Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku, hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Continue Reading...

Cerpen

Insiden Martapura

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Continue Reading...

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadhan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

Continue Reading...

Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

Continue Reading...

Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

Continue Reading...

Cerpen

Dunia Kami

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

Continue Reading...

Ilustrasi Cerpen Priyo Handoko
Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Continue Reading...