Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

Continue Reading...

Cerpen

Pangeran Katak

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Continue Reading...

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa.

Continue Reading...

Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

Continue Reading...

Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Continue Reading...

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu.

Continue Reading...

Cerpen

Granky

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

Continue Reading...

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Continue Reading...

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun.

Continue Reading...