Cerpen

Sang Juru Kunci

Gegas lelaki itu mulai menugal tanah, menghunjamkan segenap kepatuhannya atas titah. Sesungguhnya dia pun tak rela sejak beberapa bulan belakangan, banyak warga yang tak menghiraukan lagi kata-katanya. Hal itu terlepas dari kenyataan, sepekan ini ia sudah menggalikan makam belasan mayat warga, tanpa sedikitpun berniat mengelak. Mata cangkul ia ayunkan, disambut sigap tiga orang warga lain membantunya, lalu sebentar saja tanah galian telah menumpuk di sekeliling lubang berukuran satu kali dua meter itu. Apa daya—pikirnya, Juru Kunci Makam Sindang hanyalah sebutan halus untuk tidak mengatakannya sebagai gedibal. Dan kata-kata yang keluar dari seorang gedibal, ibarat gemerisik rumput yang mengaduh terinjak kaki, kalaupun benar hanya terdengar tak lebih sebagai ratap belas kasihan.

Continue Reading...

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Continue Reading...