Cerpen

Seekor Kucing Titipan

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Continue Reading...

Cerpen

Burung-burung Origami

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Continue Reading...

Cerpen

Estradus Membenci Hujan

Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Continue Reading...

Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

Continue Reading...

Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Continue Reading...

Cerpen

Yin dan Yang

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

Continue Reading...

Cerpen

Kabar dari Jauh

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Continue Reading...

Cerpen

Caraphernelia

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Continue Reading...

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Continue Reading...

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Continue Reading...