Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Continue Reading...

Cerpen

Yin dan Yang

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

Continue Reading...

Cerpen

Kabar dari Jauh

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Continue Reading...

Cerpen

Caraphernelia

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Continue Reading...

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Continue Reading...

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Continue Reading...

Cerpen

Dewi Sri

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Continue Reading...

Cerpen

Di Kedai Nori

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Continue Reading...

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

Continue Reading...