Puisi

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

di pagi hari, orang-orang sedang tidur tanpa mimpi.
tubuhku dingin tanpa baju, penyesalanku dingin dan sesap pada bisu.

kugenggam pasir mimpi. tidurku tergeletak pada jaga.
neraka bercerita pada dongengnya yang menyala, surga makin biru saja.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Fatah Anshori

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Continue Reading...

Puisi

Puisi Adnan Guntur

di sepanjang waktu, aku menjelma kabut yang menyarang dan hinggap di tubuh taringmu yang lancip, mencari mimpi atau pohon tumbang menyesali dirinya sendiri tumbuh
kumasuki tubuhmu, seanak adam dan hawa ditelurkan dengan suara yang payau, kadang angin tumbuh, lalu hujan, dan badai membentuk lelangit yang tak bisa dijangkau
“akankah kita kenali dari mana asal kakiku yang menapaki tanah dan tetumbuhan yang setiap hari runtuh”
“ataukah kita kenali, sebuah bahasa dan penciptaan kerap kali gagal melahirkan makna yang seutuhnya?”
lalu sepasang cakar dan moncong tanah muncul menjadi nyawamu, yang menumbuh-hancurkan segalanya asalkan mau

Continue Reading...