Buku Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

September 15, 2020

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *