Ilustrasi Resensi Perjamuan Khong Guan
Buku Resensi

Terkait dan Terikat

May 19, 2020

Oleh Kamalludin

Lebaran akan kembali menyapa kita, dalam kurun waktu yang relatif singkat. Selain baju baru, lebaran juga identik dengan aneka camilan dan kue. Salah satu sajian khas yang hadir di atas meja ruang tamu adalah biskuit Khong Guan. Biskuit dengan kaleng dominan warna merah ini merupakan biskuit legendaris keluarga Indonesia. Biskuit Khong Guan menjelma menjadi jamuan istimewa saat lebaran. Biskuit Khong Guan mungkin salah satu panganan yang tetap bertahan hingga saat ini. Biskuit ini menemani masa kecil kita. Sejak dulu sampai sekarang tidak banyak yang berubah dari biskuit tersebut, tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Bagi seorang penyair, benda-benda yang ada di sekitar bukanlah benda mati tak berguna. Benda-benda tersebut seolah bisa diajak berdialog dengan dirinya. Puisi-puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan seolah terlahir setelah ia melakukan dialog panjang dengan kaleng Ghong Guan.

Keakraban Khong Guan dengan masyarakat Indonesia membuat biskuit Khong Guan kerap dijadikan bingkisan atau oleh-oleh. Simak puisi berjudul Bingkisan Khong Guan berikut ini: Mari kita buka/ apa isi kaleng Khong Guan ini:// biskuit/ peyek/ keripik/ ampiang/ atau rengginang?// simsalabim.// Buka!// isinya ternyata/ ponsel/ kartu ATM/ tiket/ voucer/ obat/ jimat/ dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.//

Joko Pinurbo tidak sedang menyajikan biskuit dan teh hangat yang manis kepada kita. Tapi, ia tengah menyuguhkan realitas keadaan masyarakat di sekitarnya. Realitas itu, barangkali kita juga mengalaminya. Kadang-kadang kita beruntung, mendapati biskuit yang enak dan mengenyangkan. Tapi, sering juga dalam hidup ini kita tertipu oleh wadah atau tempat, yang setelah dibuka, ternyata kita hanya mendapati peyek atau rengginang. Kenyataan yang tak sesuai harapan. Lebih dalam lagi, kaleng Ghong Guan itu ternyata berisi ponsel, kartu ATM, tiket, voucer. Benda-benda tersebutlah yang sekarang akrab dengan kita. Joko Pinurbo mungkin hendak berkata bahwa keakraban biskuit Khong Guan telah digeser oleh ponsel dan benda-benda modern lainnya.

Seorang gitaris yang handal akan tampak seperti tidak peduli lagi pada kunci-kunci nada yang dimainkannya. Tapi, lewat pendengaran, ia akan tahu jika ada kunci yang meleset dalam permainan gitarnya. Perasaannya telah menyatu. Demikian pula dengan penyair yang piawai. Ia mampu menyampaikan gagasan yang besar dan rumit sekalipun dengan bahasa yang ringan.

Joko Pinurbo telah memilih puisi sebagai media untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Ia menangkap gelagat masyarakat yang curiga dan penasaran mengapa sosok ayah dalam keluarga Khong Guan tak pernah tampak di meja makan? Lewat puisi Keluarga Khong Guan Jokpin menulis seperti ini: Banyak orang penasaran/ mengapa sosok ayah/ dalam keluarga Khong Guan/ tak pernah tampak di meja makan?// Kata anak laki-lakinya,/ “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.”// Anak perempuannya menyahut,/ “Ayahku sedang menjadi nasionasilme yang bingung dan bimbang.”// Si ibu angkat bicara,/ “Ayahmu sedang menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan.”// “Semoga Ayah tetap terbit dari timur, ya, bu,”/ ujar kedua anak yang pintar itu.// “Bodo amat ayahmu mau terbit dari mana,”/ balas si ibu./ “Yang penting bisa pulang dan makan bersama.”// 

Joko Pinurbo yang memiliki gelar kesarjanaan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu memiliki perhatian lebih pada bidang bahasa. Lewat biskuit Khong Guan Jokpin tidak sedang membincangkan biskuit tersebut. Tapi, ia sedang mengetengahkan isu bahasa Indonesia yang semakin terabaikan dan terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan. Respon pembaca puisi tersebut sangat didamba. Untuk kemudian sampai pada puncak harapan, khalayak Indonesia bersedia mencintai dan merawat bahasa Indonesia agar tidak lekas punah.

Di puisi lain, Jokpin mengajak pembaca mengingat perhelatan akbar yang digelar pada tahun 2019 silam, negara menyebutnya pesta demokrasi. Pemilu 2019 meninggalkan duka. Duka itu lantaran cukup banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS yang meninggal dunia. Sebagai penyair, Joko Pinurbo memotret peristiwa itu dalam bentuk puisi yang diberi judul pesta. Di balik demokrasi/ yang boros dan brutal/ ada pesta pembagian doa/ untuk mengenang/ para petugas yang lembur/ dan mati di tempat/ perniagaan suara/ dengan honor tak seberapa.//

Lewat puisinya Joko Pinurbo ingin mengabarkan kondisi demokrasi di Indonesia. Puisi yang ditulis tahun 2019 itu seakan berisi laporan berita dari hasil kerja jurnalistiknya. Jurnalistik yang puitis atau puisi yang jurnalis. Jokpin menganggap demokrasi di Indonesia kelewat boros. Brutal! Karena menelan banyak korban. Kelelahan lembur sampai larut malam. Dengan honor tak seberapa. Meski pemerintah memberikan santunan bagi mereka yang gugur di perniagaan suara, itu belumlah seberapa. Dan mungkin inilah ikhtiar Jokpin untuk mengabadikan nama-nama mereka dalam nisan puisinya. Puisi Pesta yang satire.

Dalam puisi lain berjudul Bonus, imajinasi kita diajak melesat ke ibu kota atau kota-kota besar lainnya yang langganan banjir. Langit/ membagikan/ bonus/ air mata/ kepada/ pelanggan/ banjir/ yang setia.// adalah benar jika sebagian kota-kota metropolitan di Indonesia berlangganan banjir. Tapi, karena terlalu seringnya berlangganan, banjir yang datang mungkin tidak lagi disambut air mata. Entah mata yang telah kehabisan air atau hati yang sudah terlatih imunitasnya, sehingga banjir harus diabadikan dalam sebuah puisi.

Puisi Jokpin tak melulu mengait tema berat. Tema ringan berupa aktivitas keseharian orang-orang pun ia tulis. Rutinitas yang berbalut puitis. Bisa kita simak di puisi berjudul Senin Pagi berikut: Tubuhmu/ yang masih ngantuk/ sudah siap jadi jalanan/ macet dan bising/ jadi ponsel yang bawel/ jadi meja kerja yang rewel/ jadi deadline yang kaku/ jadi makan siang yang kesusu// … //

Semua diksi pada puisi di atas serba terburu-buru dan tergesa-gesa. Demikianlah lukisan sebagian besar dari aktivitas manusia di Senin pagi. Serba tergesa-gesa. 

Buku terbaru garapan penyair Joko Pinurbo ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian-bagian itu dinamai kaleng satu sampai kaleng empat, persis seperti menggambarkan isi kaleng Khong Guan yang berlapis-lapis. Secara sepintas, beragam tema dihadirkan dari kaleng satu sampai kaleng empat. Mulai dari hal sepele sampai pada persoalan demokrasi, banjir, nasionalisme, kebahasaan, dunia maya, dan religius.

Buku Perjamuan Khong Guan  memperpanjang karir kepenyairan Joko Pinurbo atas kelihaiannya dalam mencipta puisi lewat benda-benda. Bagi Joko Pinurbo, benda-benda bukanlah makhluk mati yang perlu diabaikan. Tapi, Joko Pinurbo telah memakai kacamata puisi, sehingga benda apapun yang ia lihat memiliki kemungkinan di angkat ke dalam tema puisi.

Secara umum, proses kreatif kepenyairan Joko Pinurbo dapat dikenali melalui tanggapannya terhadap dunia keseharian yang ia tuangkan melalui puisi-puisinya yang terkesan main-main namun sarat filsafat yang mendalam. Dengan kekuatan naratif dan kekhasan humor sajak-sajaknya yang satire, realitas keseharian yang ia tangkap lewat cerapan indrawinya tersebut kemudian hadir sebagai sebuah paparan sosiologis tentang kehidupan manusia-manusia modern di sekitarnya. []

Kamalludin, penikmat sastra. Beberapa puisi dan artikelnya pernah muncul di media. Aktivitasnya selain mengajar juga sebagai juru foto di Bunk@m Photography.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *