Cerpen

Terkapar

July 11, 2019

Cerpen M. Arif Budiman

Sudah hampir satu jam tubuh Pras terkapar di trotoar. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya. Orang-orang beranggapan ia telah mati. Tidak. Pras tidak mati. Ia hanya tertidur. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tertidur seketika.

Anehnya, Pras melihat tubuhnya sendiri yang terkapar dan menjadi pusat perhatian orang. Ia duduk tertegun dengan kedua kaki dirapatkan ke dada. Ia berpikir, bagaimana mungkin semudah itu ia mengatupkan kelopak mata dan terkapar begitu saja.

Ini bukan hal pertama bagiPras.Sudah banyak cara yang dilakukan Pras untuk mengobati penyakitnya. Mulai meditasi, yoga, fitness, minum obat penghilang rasa kantuk, hingga obat pencegah katapleksi. Namun dari semuanya itu tak ada satu pun yang dapat mengatasi penyakitnya.Pras tetap tertidur dimanapun ia merasa mengantuk.

Melihat penyakit suaminya bertambah parah, Maya berinisitif untuk membawa Pras ke dokter saraf. Menurut pemeriksaan dokter,Pras terserang penyakit narkolepsi, sejenis penyakit saraf yang menyerang sistem pengaturan tidur. Penyakit tersebut membuat si penderita merasakan kantuk yang tak tertahankan. Bahkan acap kali berhalusinasi seperti mendengar suara orang memanggil.

Dari hari ke hari Prassemakin jenuh dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa penyakitnya sudah sangat keterlaluan mendikte hidupnya. Untuk kedua kalinya, ia putuskan mengunjungi dokter. Kali ini Pras datang sendiri tanpa ditemani istrinya.

“Saya sudah lakukan berbagai cara untuk mengobatinya, Dok. Termasuk mengonsumsi obat yang dokter berikan. Tapi hasilnya nihil. Saya masih tetap tertidur dimanapun saya berada. Ini sudahketerlaluan, seolah sengaja ingin menjatuhkan nama saya di depan publik. Bahkan saya menduga penyakit ini tengah mengincar jabatan saya di kantor. Ini tak boleh dibiarkan, Dokter. Molong sembuhkan penyakit saya ini. Saya tak ingin, karier yang selama ini saya bangun dari bawah runtuh begitu saja.”

“Saya harap Anda tetap tenang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan mengobati Anda lebih serius, tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa, Dok?”

“Anda harus menginap di sini beberapa malam dan tak boleh pulang sebelum saya izinkan.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Dok? Jangan-jangan ketika saya izin kerja, penyakit ini akan mengambil posisi saya di kantor.”

Dokter tersenyum, “Anda tak perlu khawatir. Saya sudah siapkan segalanya agar penyakit Anda tetap di tempat ini. Sebaiknya Anda pulang untuk mempersiapkannya.”

Esok harinya, Prasmengunjungi dokterdiantar istrinya, Maya.

“Anda sudah siap menjalani terapi?” tanya dokter.

“Siap, Dok,” jawab Pras antusias.

“Baik. Sebelum saya melakukan pengobatan, saya akan mengecek seluruh kegiatan ketika Anda tertidur. Nantinya Anda akan kami pasang alat untuk mengecek gelombang otak, napas, oksigen dan jantung Anda.”

Setelah Pras menyanggupi perkataan dokter, ia pun diajak ke sebuah ruangan.Pada awalnya Pras merasa takut dengan kondisi ruangan itu. Namun karena desakan keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam dirinya, juga desakan istrinya, ia pun menepis rasa takut itu. Ia menaiki ranjang periksa.

“Sebaiknya Anda minum obat tidur ini untuk membantu Anda cepat tertidur.”

Prasmengangguk, meski ada rasa heran di hatinya. Heran karena ia inginmengobati penyakit yangselalu tertidur, tapi malahminum obat tidur.

Setelah Pras terlelap, dokter mulai memasang alat perekam otak. Beberapa kabel penghubung mulai direkatkan pada titik-titik tertentu di kepala Pras. Mulai dari pelipis, pipi, kening, dagu hingga pangkal leher. Tak lupa selang oksigen terselip di kedua lubang hidup.

Tak butuh waktu lama, segala macam aktivitas dalam tidur Pras pun terekam oleh komputer. Diawali bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, memakai sepatu, naik taksi, turun taksi, bersalaman dengan beberapa rekan kerja, naik lift, keluar lift, masuk ruang kerja, duduk santai, membuka berkas-berkas, membuka laptop, mengecek angka-angka yang tersusun dalam program exel, mengubah angka-angka itu menjadi lebih besar nominalnya, lebih besar, dan lebih besar lagi. Lantas membuka ponselnya, membaca WA ucapan ‘terima kasih’ beserta emotikon setangkup tangan, membaca laporan SMS internet banking transfer dengan nominal uang memiliki sembilan ‘nol’, kembali membaca WA ucapan ‘sayang’ dengan emotikon bibir dan sepasang daun waru merah muda, keluar kantor, naik taksi, check in hotel, masuk kamar nomor 69,check out hotel, naik taksi, pulang, bertemu Maya, dan menyembunyikan peristiwa-peristiwa. Tiba-tiba gambar pada layar komputer berhenti menayangkan frame-frame perjalanan Pras dalam tidurnya.

Seketika itu Pras terbangun. Namun kembali ia dapati melihat tubuhnya terkapar. Ia juga melihat dokter saraf dan istrinya, Maya. Dokter saraf tampak sedang mencopoti kabel-kabel pada kepala Pras, sementara Maya tampak terisak. Seusai mencopoti kabel-kabel dan selang oksigen pada Pras, dokter sarafdengan dibantu Maya membopong Pras ke kursi roda dan memasukkan ke dalam mobil. Mereka membawa tubuh Pras pergi membelah malam.

Di sudut kota, dokter dan Maya menurunkan Pras di trotoar dan meninggalkannya begitu saja. Pras mencoba memanggil mereka, tapi sia-sia. Pras tertegun melihat tubuhnya sendiri. Ia tak habis pikir mengapa merekaseperti tak memedulikannya. Pras mencoba membangunkan tubuhnya, tapi tak bisa. Hingga pagi, tubuh Pras masih terkapar di trotoarmenjadi perhatian pengguna trotoar, namun tak ada satu pun orang yang mencoba membangunkannya. Pras tak bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak tahu doktertelah menyuntikkan arsenik ke dalam tubuh Pras atas permintaan Maya.

***

Kudus, Maret 2018


M.Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Only registered users can comment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *