Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

November 13, 2019

Cerpen Daruz Armedian

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.

Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.

Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.

“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.

“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”

Kamu dan teman-temanmu menggelengkan kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.

Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.

“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”

Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.

**

Kamu merasa tidak aneh, ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh mengikuti ujian.

Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.

Begitulah, kenapa kamu menyukai Bu Oka.

**

Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.

Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia.

Sampai di sini, kamu mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.

Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.

Dua bulan berlalu namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.

Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.

Ketika salah satu dari kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.

Maka begitulah, kamu sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak cocok mengajar di sini.

“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).

Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.

***

2017


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *